Semarang, Justisia.com – Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) acap kali terjebak dalam rutinitas seremonial dan selebrasi belaka. Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) mengambil langkah berbeda. Melalui formasi paper mob, kemeriahan orientasi mahasiswa baru direbut dan diarahkan menjadi medium penyadaran atas rentetan isu krusial yang tengah menghantui ruang-ruang akademik. Rabu, (19/8).
Ketua DEMA FSH, Amin, menegaskan bahwa pemilihan tema visual dalam paper mob tahun ini bukanlah kebetulan estetis semata, melainkan sebuah manifestasi dari kegelisahan kolektif mahasiswa terhadap realitas kampus.
“Dalam pemilihan tema paper mob kami sengaja memilih tema isu yang sedang ramai di kampus, terutama tentang isu pendidikan dan pelecehan yang belakangan ini ramai,” ungkap Amin.
Langkah ini menjadi sinyal keras bahwa kampus hari ini tengah dilanda krisis. Ruang aman bagi sivitas akademika kian tereduksi oleh mencuatnya kasus-kasus kekerasan dan pelecehan seksual, sementara akses dan hakikat pendidikan itu sendiri masih menyisakan tumpukan masalah yang belum terselesaikan. Melalui paper mob, DEMA FSH berupaya mentransformasi mahasiswa baru dari sekadar objek orientasi menjadi subjek yang kritis terhadap lingkungan sekitarnya.
Menariknya, artikulasi isu-isu tajam ini berhasil dieksekusi secara masif tanpa hambatan teknis di lapangan. Soliditas dan pra-kondisi kepanitiaan menjadi kunci utama dari keberhasilan penyampaian pesan tersebut.
“Untuk paper mob ini tidak ditemukan kendala, karena kami sebagai panitia sudah menyiapkan paper mob ini dari seminggu yang lalu,” jelas Amin.
Nihilnya kendala teknis berkat persiapan matang dan kolaborasi antar-panitia selama sepekan terakhir membuktikan satu hal penting: konsolidasi gerakan mahasiswa bahkan dalam bentuk formasi kertas sekalipun membutuhkan taktik dan pengorganisasian yang terstruktur agar pesan substantifnya tidak menguap begitu saja.
Pesan yang dibawa DEMA FSH ini semestinya menjadi autokritik telak bagi birokrasi. Ketika mahasiswa baru justru disambut dengan seruan darurat kekerasan seksual dan pendidikan, hal ini merupakan alarm bagi otoritas kampus untuk segera membenahi regulasi dan perlindungan, bukan sekadar berlindung di balik kemegahan acara tahunan.
Red/Ed: Redaksi
Penulis: Ghoffar