
Semarang, Justisia.com – Abdul Aziz Ahmad Yasin, wisudawan dari Program Studi Akuntansi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), dipercaya berdiri di atas podium untuk mewakili seluruh wisudawan dan wisudawati UIN Walisongo Semarang pada periode Agustus 2026. Di balik kebahagiaannya meraih gelar sarjana, Aziz mengenang perjalanan akademik dan perjuangan hidup yang dilewati bersama teman-teman selama lebih dari empat tahun tidaklah mudah.
Dalam pidato sambutannya, pembicara menyampaikan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi mahasiswa selama kuliah mencakup beberapa hal. Pertama, menjaga keseimbangan antara kuliah dan pekerjaan. Banyak mahasiswa harus membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan sampingan sehingga menghadapi beban akademik yang menumpuk, mulai dari tumpukan tugas kuliah.
Kedua, proses revisi skripsi yang harus dijalani berkali-kali. Ketiga, tekanan mental dan kelelahan. Rasa lelah datang silih berganti pada mahasiswa, ditambah rasa tidak pasti karena dighosting atau di-PHP-in, serta tuntutan untuk terus bertahan di tengah tekanan.
Keempat, pengorbanan finansial keluarga. Ada orang tua mahasiswa yang berjuang di balik layar sampai harus mengorbankan harta benda, seperti menggadaikan motor, menjual emas atau cincin, hingga kehilangan sawah demi membiayai bangku perkuliahan.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Abdul juga menitipkan dua pesan utama. Pertama, kepada almamater. Ia menyampaikan terima kasih kepada kampus dan civitas akademika yang telah menjadi tempat menempa diri. Ia berharap kampus terus maju, adaptif, dan mampu mencetak lulusan yang unggul secara akademis, berintegritas, dan berkarakter kuat.
Kedua, kepada rekan-rekan wisudawan. Ia menyampaikan selamat atas kelulusan dan menegaskan bahwa wisuda adalah awal dari perjuangan yang lebih besar. Abdul mengajak teman-temannya untuk berani mengambil peluang dan tetap menjaga nama baik almamater.
“Empat tahun berjuang mati-matian kami diam, tugas banyak dan menumpuk kami juga diam, digosting, diphpin, kami juga diam. berkali-kali revisi kami juga diam. Tapi di sini, di ruangan ini, kami katakan kami semua bisa lulus,” tutupnya di akhir pidato.
Pesan Aziz menjadi refleksi bahwa kelulusan bukan hanya tentang pencapaian akademik, tetapi juga tentang perjuangan dan pengorbanan yang menyertainya.
Red/Ed: Redaksi
Penulis: Safhira