Pesan Wisudawan Terbaik Ilmu Hukum dalam Menyeimbangkan Aktivitas Organisasi dan Tanggung Jawab Akademik

redaksi
By redaksi
2 Min Read
Disclosure: This website may contain affiliate links, which means I may earn a commission if you click on the link and make a purchase. I only recommend products or services that I personally use and believe will add value to my readers. Your support is appreciated!
mahasiswa yang aktif berorganisasi akan kesulitan meraih prestasi akademik secara maksimal.

Semarang, Justisia.com – Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum, Fakultas Syari’ah dan Hukum, Nabila Okta Sofiana, berhasil dinobatkan sebagai wisudawan terbaik fakultas. Pencapaian ini sekaligus mematahkan stigma bahwa mahasiswa yang aktif berorganisasi akan kesulitan meraih prestasi akademik secara maksimal. Sabtu, (7/11).

Saat dihubungi secara daring, Nabila mengaku tidak menyangka atas pencapaian tersebut. Ia menyebut predikat ini sebagai hasil dari proses panjang, pengorbanan, serta dukungan dari lingkungan terdekatnya, bukan karena ambisi yang ditetapkan sejak awal menjadi mahasiswa.


“Jujur, ketika pertama kali tahu dapat predikat wisudawan terbaik, perasaan saya campur aduk antara bahagia, terharu, dan tentunya tidak menyangka,” ungkapnya.

Kunci keberhasilan Nabila menyeimbangkan akademik dan organisasi terletak pada manajemen waktu. Menurutnya, tantangan utama mahasiswa aktivis adalah menentukan prioritas. Ia memegang prinsip bahwa perkuliahan adalah tanggung jawab utama, sedangkan organisasi berfungsi sebagai wadah pendukung untuk melatih kepemimpinan, komunikasi, dan penyelesaian masalah.

Untuk menyiasati jadwal yang padat, Nabila selalu menyusun skala prioritas berdasarkan tingkat urgensi dan tenggat waktu (deadline). Ia juga menekankan pentingnya mengukur batas kemampuan diri sendiri.

“Aktif berorganisasi bukan berarti kita harus selalu ambil semua kesempatan yang ada. Kita harus tahu kapasitas diri dan berani bilang ‘tidak’ ketika memang tanggungan sudah terlalu banyak,” tegasnya.

Sebagai lulusan terbaik, Nabila turut membagikan pesan kepada mahasiswa baru agar tidak mudah mengalami kelelahan mental (burnout). Ia menyarankan empat hal: membangun kebiasaan belajar sejak awal tanpa sistem kebut semalam, mengeksplorasi kegiatan di luar kelas sesuai minat, berani belajar dari kegagalan, serta selalu menjaga kesehatan fisik dan mental. Ia juga mengingatkan mahasiswa untuk berhenti membandingkan pencapaian diri dengan orang lain.

“Ingat, kuliah bukan perlombaan untuk jadi lebih hebat dari orang lain, tapi perjalanan menemukan potensi terbaik dalam diri kita sendiri. Jangan cuma sibuk mengejar gelar sarjana, tapi pastikan ada ilmu, pengalaman, relasi, dan nilai kehidupan yang benar-benar dibawa setelah lulus,” pungkas Nabila.

Ed/Red: Redaksi
Penulis: Ardha

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *