
Semarang, Justisia.com – Mengenal sosok Muhammad Daviq Nuruzzuhal, seorang wisudawan Program Studi (Prodi) Ilmu Falak Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, meraih predikat wisudawan terbaik Ilmu Falak dalam wisuda S1 ke-101 yang digelar pada Sabtu, (18/08).
Ia meraih predikat wisudawan terbaik di prodi Ilmu Falak dengan catatan IPK 3,93. Daviq sedari awal telah mengeliminasi tujuan untuk menjadi wisudawan terbaik, namun ia menerapkan strategi untuk melakukan hal-hal terbaik di jalan yang ia pilih. Hal itu membuat fokusnya tidak buyar dan konsisten hingga akhir. Bersama Kawakib Institute ia belajar praktik falak di luar kelas karena menurutnya belajar tidak cukup hanya dengan duduk di dalam kelas saja. Ia mengakui ilmu yang ia peroleh dari luar kelas bisa lebih banyak dari yang ada di dalam kelas.
“Selama kuliah ilmu yang saya dapatkan juga kebanyakan dari luar, saya ikut kawakib. Jadi guru-guru saya banyak yang dari luar kelas” ujarnya.
Daviq sendiri aktif menulis, bahkan tulisannya sempat muncul di beberapa situs nasional seperti mubadalah.id, nu online, dan terminal mojok. Ia juga sering mengikuti lomba yang berkaitan dengan kepenulisan di sekitar wilayah Jateng, dan puncaknya adalah saat ia memenangkan Juara 3 di Pekan Olahraga, Diskusi Ilmiah, dan Seni Nasional (PORDINAS) di UIN Sultan Syarif Kasim, Riau.
Menurut Daviq menulis adalah sebuah kebutuhan yang tak terhindarkan. Awal yang membentuk kebiasaan menulisnya adalah ia memahami dirinya sebagai seseorang yang sensitif, jadilah ia menyalurkan perasaan, kegelisahan, dan curahan hatinya ke dalam bentuk tulisan. Kebiasaan menulisnya ia kembangkan terus menerus sejak di Aliyah. Di Universitas pun ia masuk ke berbagai lembaga jurnalistik seperti LPM Justisia dan menjadi Pimpinan Redaksi Media Zenith.
“Saya orangnya sensitif, jadi hal-hal yang terjadi pada saya, saya nulis, saya salurkan ke tulisan gitu. Dari kebiasaan nulis jadi terbiasa merangkai kata. Dari sana saya ikut lomba-lomba, ngirim tulisan,” tuturnya.
Di akhir wawancara, Daviq berterimakasih atas peran orangtua yang sangat besar baginya sebagai support sistem. Ia kemudian berpesan kepada mahasiswa agar tidak membuang waktunya dan fokus kepada tujunan setiap individu, ia menekankan bahwa selalu ada pengorbanan untuk mencapai sesuatu.
“Pesan saya ke mahasiswa jangan membuang-buang waktu, fokus ke tujuan dan berani membuang hal-hal yang tidak diperlukan dalam mencapainya,” pesannya.
Daviq juga melayangkan harapan pada para dosen agar benar-benar mendidik mahasiswanya. Ia menyayangkan peran sebagian dosen yang hanya transfer ilmu pengetahuan dan memberikan nilai, cukup mengajar sebagai bagian dari tugas namun kurang dalam membimbing.
Red/Ed: Redaksi
Penulis: Fatahul