Mahasiswa UNNES Nilai Aksi Berlangsung Kondusif, Berharap Tuntutan Diperhatikan

redaksi
By redaksi
4 Min Read
Disclosure: This website may contain affiliate links, which means I may earn a commission if you click on the link and make a purchase. I only recommend products or services that I personally use and believe will add value to my readers. Your support is appreciated!
Aksi demonstrasi di depan Gedung Gubernur Jawa Tengah berlangsung aman dan tertib.

Semarang, Justisia.com – Seorang mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES) menilai aksi demonstrasi di depan Gedung Gubernur Jawa Tengah berlangsung aman dan tertib. Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan lima tuntutan, mulai dari stabilisasi harga kebutuhan pokok hingga pemulihan wilayah terdampak bencana. Kamis, (22/8).

Mahasiswa UNNES tersebut mengatakan rombongannya berangkat sekitar pukul 15.00 WIB dan tiba di lokasi sekitar pukul 16.00 WIB. Aksi kemudian diisi dengan sejumlah orasi yang disampaikan mahasiswa dari berbagai kampus. Massa juga melakukan pembakaran ban sebagai bagian dari simbolisasi aksi sebelum berpindah ke lokasi lain.

“Untuk hari ini situasi masih aman, masih baik-baik aja. Tadi dari UNNES berangkat jam tiga, sampai sini sekitar jam empat. Aksinya juga mulai sekitar jam empat. Tadi ada beberapa orasi, mungkin sekitar lima orasi, kemudian ada pembakaran ban secara simbolis. Setelah itu, aksi berpindah tempat,” ujarnya.

Perpindahan lokasi tersebut dilakukan setelah adanya perubahan dari rencana awal. Menurutnya, massa semula memiliki rencana bergerak menuju Simpang Lima. Namun, pelaksanaan di lapangan menyesuaikan kondisi yang dihadapi. Ia menjelaskan bahwa salah satu tujuan perpindahan itu adalah agar mahasiswa dapat membaur dengan masyarakat.

“Awalnya memang ada rencana ke Simpang Lima, tetapi karena kondisi di lapangan, akhirnya berpindah ke depan Gedung Pramuka. Jadi, ada penyesuaian dari rencana awal. Tujuannya juga supaya bisa melebur ke masyarakat. Teman-teman membawa jaket almamater di dalam tas, bukan dipakai, sebagai simbol bahwa kami ingin membaur dengan masyarakat,” jelasnya.

Dalam aksi tersebut, mahasiswa membawa lima tuntutan. Tuntutan itu meliputi stabilisasi harga dan kemudahan akses terhadap kebutuhan pokok serta bahan bakar minyak (BBM), pengembalian Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) pada fungsi utamanya, evaluasi menyeluruh terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN), pengembalian hak atas tanah kepada masyarakat serta pemulihan wilayah terdampak bencana, dan penghentian praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) di pemerintahan.

Dari kelima tuntutan tersebut, narasumber menilai pemulihan wilayah terdampak bencana menjadi salah satu persoalan yang paling mendesak. Ia berharap pemerintah memberikan perhatian lebih besar terhadap penanganan bencana dan pemulihan masyarakat yang terdampak.

“Kalau menurut saya pribadi, sebenarnya kelima tuntutan itu penting semua. Namun, yang paling penting menurut saya adalah tuntutan keempat, yaitu memulihkan wilayah terdampak bencana. Kita bisa melihat ada beberapa wilayah yang mengalami bencana, seperti Kalimantan, Aceh, dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Harapannya, pemerintah bisa lebih fokus pada penanganan dan mitigasi bencana, supaya masyarakat yang terdampak bisa mendapatkan perhatian dan pemulihan yang layak,” tuturnya.

Terkait komunikasi dengan masyarakat, ia menyinggung adanya diskusi mengenai persoalan upah pekerja bersama Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Menurutnya, ruang diskusi semacam itu dapat menjadi sarana untuk mendengar persoalan masyarakat secara langsung. Namun, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti bagaimana komunikasi antara massa aksi dan aparat berlangsung.

“Kalau untuk komunikasi dengan masyarakat, tadi ada pembahasan atau diskusi bersama LBH mengenai persoalan upah pekerja. Menurut saya, hal seperti itu penting karena kita bisa mendengar langsung persoalan yang dialami masyarakat. Kalau komunikasi dengan aparat, saya sendiri kurang tahu secara pasti bagaimana prosesnya,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa aksi berlangsung dengan tertib. Menurutnya, peserta aksi telah diingatkan agar tidak melakukan tindakan yang dapat merusak fasilitas umum. Hal tersebut dinilai penting agar penyampaian aspirasi tetap berjalan tanpa menimbulkan kerugian bagi masyarakat.

“Situasi sangat aman, sangat tertib lah demo kali ini. Demo kali ini juga dilarang merusak fasilitas atau sebagainya. Jadi, kami tetap menyampaikan aspirasi, tetapi tidak boleh sampai merusak fasilitas. Harapannya, aksi bisa berjalan dengan tertib dan tuntutan yang disampaikan mahasiswa dapat diperhatikan,” pungkasnya.

Ed/Red: Redaksi
Penulis: Desty

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *