Suara Rakyat yang Diabaikan: Ultimatum Massa Aksi Menagih Evaluasi Nyata Pemerintah

redaksi
By redaksi
3 Min Read
Disclosure: This website may contain affiliate links, which means I may earn a commission if you click on the link and make a purchase. I only recommend products or services that I personally use and believe will add value to my readers. Your support is appreciated!
Ultimatum Massa Aksi Menagih Evaluasi Nyata Pemerintah

Semarang, Justisia.com – Gabungan elemen mahasiswa dan warga Semarang kembali turun ke jalan menggelar aksi unjuk rasa. Aksi ini menjadi bentuk protes kolektif guna mendesak pemerintah agar segera mengevaluasi kepemimpinan dan berbagai kebijakan yang dinilai tidak lagi berpihak pada kepentingan rakyat. Kamis (22/8).
 
Bagi para peserta aksi, turun ke jalan adalah pilihan sadar yang harus diambil selama ruang untuk berekspresi masih terbuka. Freya, pendatang yang turut dalam barisan menegaskan bahwa suara rakyat tidak boleh dibungkam oleh keadaan.

“Meskipun kita memang belum tentu mendapatkan apa yang kita mau, tapi selama kita masih bisa bersuara, maka kita menyuarakan apa yang menjadi hak kita,” ungkap Freya saat ditemui di tengah riuhnya lokasi aksi.
 
Freya membeberkan bahwa ada sejumlah tuntutan spesifik yang disuarakan secara kolektif oleh massa hari ini. Ia meyakini jika aspirasi tersebut didengar dan dieksekusi oleh pemerintah, kondisi akar rumput akan menjadi jauh lebih baik.

“Tuntutan juga tadi ada beberapa, seperti terkait ada bahan pokok dan juga BBM, terus juga mengembalikan fungsi TNI dan juga Polisi ke fungsi utamanya,” lanjut Freya.
 
Selain dari kelompok pemuda, keresahan serupa juga diungkapkan oleh Tresno, warga sekitar yang secara sukarela berbaur dalam barisan massa. Ia merasa elemen masyarakat sipil harus hadir mengawal dan mendorong pemerintah agar mau mengoreksi gaya kepemimpinan serta kebijakannya saat ini. Tresno secara khusus menyoroti keberlanjutan program pemerintah yang dinilai sering berganti arah.

“Kita mendorong pemerintah untuk selalu meng-crosscheck kepemimpinannya supaya ke depannya lebih baik. Intinya apapun kebijakan yang dilakukan saat ini, misal dari program-programnya, itu dievaluasi kembali,” ujar Tresno.
 
Lebih lanjut, ia mengingatkan agar pemerintah saat ini tidak secara serampangan menghapus program-program peninggalan pemerintahan sebelumnya yang terbukti berdampak positif bagi rakyat.

“Jangan sampai yang kemarin sudah berjalan, tetapi pada saat pemerintahan saat ini itu dihilangkan,” tambahnya.
 
Meski membawa kemarahan dan keresahan kolektif, massa aksi tetap menjaga kondusivitas, berharap penyampaian pendapat ini dapat berlangsung aman dan terhindar dari kericuhan. Lebih dari sekadar meneriakkan orasi, mereka hadir sebagai penyambung lidah masyarakat yang tak punya ruang untuk bicara.
 
Hal ini ditegaskan oleh Radit, mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) yang turun langsung menyuarakan aspirasi. Baginya, aksi ini adalah bentuk bantuan nyata bagi rakyat kecil yang suaranya kerap diabaikan.

“Karena ini kan buat menyuarakan pendapat hak-hak masyarakat yang susah didengar. Biar kita bantu dengan cara seperti ini untuk menyuarakan aspirasi,” jelas Radit.
 
Sebelum massa perlahan berpindah tempat, mereka memberikan ultimatum keras agar demonstrasi ini tidak hanya menjadi angin lalu, melainkan membuahkan tindakan nyata.

“Semoga ke depannya ada hasil dan evaluasi. Bukan hanya didengar, masuk kuping kanan keluar kuping kiri, tapi benar-benar ada evaluasi dari atasan,” tutup Radit pada sesi akhir wawancara.

Ed/Red: Redaksi
Penulis: Ardha

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *