
Semarang, Justisia.com – Menjadi lulusan terbaik di fakultas yang penuh dengan dinamika hukum tentu bukanlah perkara mudah. Namun, hal tersebut berhasil dibuktikan oleh Wafiq Ulli Zahron Auliya. Mahasiswa asal Pangandaran, Jawa Barat, ini resmi menyandang predikat sebagai wisudawan terbaik dari Program Studi Ilmu Hukum setelah menuntaskan masa studinya dengan hasil luar biasa. Sabtu, (22/8).
Saat pertama kali diumumkan sebagai wisudawan terbaik, Wafiq mengaku sempat tertegun. Pencapaian ini menjadi kejutan manis atas seluruh dedikasi yang ia tuangkan selama duduk di bangku kuliah.
“Yang pasti tidak pernah menyangka dan bersyukur sekali bisa dapat menempati posisi ini. Pencapaian ini tentunya tak lepas dari doa orang tua dan dukungan teman-teman terdekat yang selalu ada di setiap prosesnya,” ungkap Wafiq.
Melampaui Ruang Kelas dan Seni Mengelola Waktu
Di balik kesuksesannya meraih IPK tinggi, Wafiq membeberkan strategi belajarnya. Menurutnya, untuk benar-benar menguasai ilmu hukum, seorang mahasiswa tidak boleh hanya pasif menerima materi kuliah. Keingintahuan yang tinggi dan kebiasaan membaca adalah kombinasi yang tidak bisa ditawar.
“Konsistensi adalah kunci utamanya. Saya tidak hanya mengandalkan penjelasan dari dosen di ruang kelas saja, tetapi juga selalu meluangkan waktu secara mandiri untuk membaca berbagai literatur, isu terkini, dan informasi terkait hukum,” jelasnya.
Tak hanya soal belajar, tantangan terbesar mahasiswa tingkat akhir sering kali berada pada pengelolaan waktu. Untuk mengatasi hal tersebut, Wafiq membiasakan diri bersikap disiplin melalui perencanaan harian yang terstruktur.
“Khusus untuk hari-hari yang padat dengan kegiatan, saya selalu membuat catatan harian (daily to-do list) tentang apa saja yang harus dilakukan pada hari itu. Dengan begitu, saya bisa membagi waktu semaksimal mungkin tanpa ada tugas yang terabaikan,” tambah Wafiq.
Soroti Isu Gender dan Keberuntungan dalam Pengerjaan Skripsi
Perjalanan akademis Wafiq makin berwarna ketika ia mendalami mata kuliah Hukum Pidana Anak dan Gender. Isu ini memberikan kesan mendalam sekaligus membentuk cara pandangnya terhadap keadilan sosial di Indonesia. Baginya, teori hukum di atas kertas harus sejalan dengan realitas masyarakat.
“Di mata kuliah tersebut saya semakin paham betapa pentingnya perempuan untuk berani menyuarakan hak-haknya. Meskipun di Indonesia sudah banyak undang-undang yang mengatur kesetaraan dan anti-diskriminasi, realitas di lapangan menunjukkan masih maraknya diskriminasi terhadap perempuan dan pelanggaran hak-hak anak,” tuturnya tegas.
Kepekaan kritis tersebut melandasi perjalanannya hingga ke tahap akhir perkuliahan. Berbeda dari kisah lazim mahasiswa akhir yang dipenuhi kendala, proses penyusunan skripsi Wafiq justru berjalan sangat lancar dan berkesan.
“Alhamdulillah, untuk pengerjaan skripsi sangat dimudahkan. Dosen pembimbing saya sangat responsif dan pihak instansi tempat penelitian juga sangat terbuka. Dampaknya, seluruh proses pengerjaan skripsi bisa terlaksana dengan sangat lancar,” kenangnya penuh rasa syukur.
Mengejar Beasiswa S-2 dan Pesan untuk Adik Tingkat
Setelah sukses menyandang gelar Sarjana Hukum (S.H.), Wafiq tidak langsung berpuas diri. Ia telah menyusun langkah konkret untuk menatap masa depannya. Dalam waktu dekat, Wafiq berencana melanjutkan Pendidikan Profesi Advokat sambil terus berjuang mencari beasiswa untuk melanjutkan studi ke jenjang magister (S-2).
Di akhir sesi wawancara, wisudawan yang dikenal tekun ini membagikan satu pesan sederhana namun sarat makna bagi para mahasiswa yang masih berjuang di bangku perkuliahan.
“Konsisten itu kunci yang sangat penting. Tetap pegang komitmen itu sampai akhir,” tutup Wafiq mengakhiri pembicaraan.
Red/Ed: Redaksi
Penulis: Mawa