
Semarang, Justisia.com – Menjadi mahasiswa baru rupanya tak selalu diawali dengan suka cita semata. Perasaan campur aduk justru mewarnai langkah awal salah satu mahasiswa baru Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang , Rizka Dewi Nur Fatia. Perempuan asli Kota Semarang yang merupakan alumni Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kota Semarang ini membagikan cerita blak-blakannya terkait fase berat saat mengetahui hasil penerimaan mahasiswa baru. Rabu, (19/8).
Meski berhasil menembus perguruan tinggi keagamaan islam negeri (PTKIN) melalui jalur Seleksi Prestasi Akademik Nasional Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (SPAN-PTKIN), fase awal yang dilewati Rizka tak lepas dari kenyataan bahwa PAI merupakan program studi pilihan keduanya. Langkah awalnya terasa semakin berat ketika perempuan muda ini juga dinyatakan tidak lolos seleksi asrama kampus atau ma’had.
“Jujur kaget karena sebenarnya ini jurusan cadangan. Sedih banget juga waktu nggak lolos tes ma’had. Awalnya sempat merasa terpaksa, tapi sekarang rasanya udah mulai terbiasa,” ungkap Rizka.
Seiring berjalannya waktu, rasa gundah di awal masa perkuliahan tersebut perlahan tergantikan oleh padat dan riuhnya masa orientasi. Rizka sama sekali tidak menyangka bahwa kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) akan memberikannya banyak pengalaman baru dan culture shock yang tak terlupakan di lingkungan kampus.
“Ada shock dikit ternyata di UIN juga ada papermob ya. Seru banget sih, tapi capeknya juga capek banget. Apalagi pas PBAK day 1 di lapangan tiba-tiba ada Mas-mas FISIP yang demo ke Wakil Gubernur, agak ngeri gitu, tapi keren sih,” lanjutnya menceritakan dinamika awal kuliah.
Berbagai rentetan kejadian penuh kejutan selama masa PBAK tersebut seolah membuka matanya. Dinamika kampus yang keras namun seru itu perlahan memunculkan rasa syukur di dalam diri Rizka. Mahasiswi baru ini mulai menyadari bahwa kesempatannya untuk bisa berkuliah meski berawal dari jurusan cadangan adalah sebuah berkah yang sangat patut disyukuri dan diperjuangkan.
Ketimbang terus berlarut dalam kekecewaan soal jurusan maupun kegagalan masuk ma’had, Rizka kini melihat masa orientasi sebagai penanda bahwa lembaran barunya telah benar-benar dimulai. Berbekal rasa syukur tersebut, ia memilih fokus menatap perjalanan akademiknya ke depan dengan target yang jelas.
“Goals-nya semoga aku bisa lulus cepet aja sih, Kak, dan pengen banget dapet nilai yang terbaik juga,” tutupnya dengan penuh semangat.
Red/Ed: Redaksi
Penulis: Ardha