
Justisia.com – Ketika sebagian mahasiswa fokus mengejar nilai, Keiko Fatiha Salsabila justru menjalani perkuliahan dengan ritme yang padat. Wisudawan Terbaik Program Studi Hukum Pidana Islam Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo angkatan 2022 itu tidak hanya aktif dalam akademik dan organisasi, tetapi juga merintis usaha kecil secara mandiri sambil mempertahankan IPK yang nyaris sempurna. Sabtu, (23/05).
Kesibukan itu sudah dimulai sejak awal perkuliahan, selain menjalani aktivitas akademik seperti mahasiswa pada umumnya, Keiko mulai mencoba membangun usaha UMKM berupa salad sayur yang dipasarkan melalui media sosial. Usaha yang diberi nama Salad Sayur Keikei tersebut dijalankan dengan sistem pre-order melalui Instagram dan WhatsApp. Seluruh proses, mulai dari menerima pesanan hingga mengantarkan produk kepada pembeli, dilakukan sendiri oleh Keiko.
“Awal-awal tuh santai aja, kuliah belajar-kuliah belajar. Tapi aku tertarik buat nyobain bisnis, jadi aku buka bisnis UMKM kecil-kecilan, jualan salad sayur, Open PO-nya lewat Instagram dan WhatsApp. Nanti orderannya aku jadiin dan aku antarin sendiri,” ujarnya.
Di sela jadwal kuliah dan urusan open PO, Keiko juga menjalani kehidupan berorganisasi. Ia sempat bergabung dengan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di kampus, tapi tak berjalan lama. Bukan karena tidak mau, melainkan karena energinya sudah terbagi di tempat lain yaitu organisasi Nasyiatul Aisyiyah di lingkungan rumahnya, tempat ia menjabat sebagai sekretaris.
“Aku lumayan hektik sama organisasi di rumah, aku aktif di Nasyiatul Aisyiyah sebagai sekretaris, jadi kuliah sambil organisasi dan sambil kerja juga,” ungkapnya.
Padatnya aktivitas ternyata tidak menghalangi Keiko mempertahankan prestasi akademik. Selama kuliah, ia berhasil menjaga IPK tetap berada di atas 3,85. Bahkan pada semester pertama, dirinya memperoleh IPK sempurna.
Metode belajar yang diterapkan Keiko tergolong tidak biasa bagi mahasiswa berprestasi. Ia mengaku jarang mengulang materi kuliah setelah kelas selesai. Fokus utamanya justru berada pada proses mendengarkan dosen ketika pembelajaran berlangsung.
Menurutnya, memahami pola penjelasan dosen dan mencatat poin penting selama perkuliahan lebih efektif dibanding belajar secara berulang di luar kelas.
“Sebenarnya metode belajar paling aku unggulkan itu dengerin dosen di kelas. Aku jarang banget nge-review materi, Aku berusaha semaksimal mungkin buat nyatet dan nginget dosen ngomong. Jadi aku lebih memaksimalin belajar di dalam kelas,” ujarnya.
Selain dikenal aktif dan berprestasi, Keiko juga mengangkat topik skripsi yang cukup aktual. Ia meneliti persoalan korupsi tanpa keuntungan pribadi dalam perspektif hukum pidana Islam dengan mengambil studi kasus Tom Lembong. Ketertarikannya terhadap tema tersebut muncul karena adanya perdebatan publik mengenai unsur keuntungan pribadi dalam tindak pidana korupsi.
“Aku penasaran gimana dalam perspektif hukum pidana Islam kalau misalnya seseorang melakukan korupsi tapi tanpa keuntungan pribadi untuk dirinya sendiri,” ujarnya.
Berbagai pengalaman selama kuliah membuat Keiko memiliki prinsip sederhana yang terus dipegang hingga berhasil menyelesaikan studinya, yakni melakukan segala sesuatu secara maksimal sesuai kemampuan diri sendiri.
Di akhir wawancara, Keiko berpesan bahwa mahasiswa tidak harus terpaku hanya pada satu bidang selama mampu bertanggung jawab terhadap pilihan yang dijalani. Akademik, organisasi, maupun bisnis dapat berjalan beriringan selama dilakukan dengan kesungguhan.
“Yang penting itu mau berkomitmen buat nyelesain apa yang kita mulai. Do your best. Kalau milih fokus akademik, lakukan sebaik mungkin. Kalau akademik sambil organisasi, lakukan dua-duanya secara maksimal. Intinya harus memaksimalkan usaha,” tutupnya.
Penulis: Desty
Red/Ed: Editor