
Semarang, Justisia.com – Tanjakan Silayur kembali menjadi sorotan setelah rentetan kecelakaan yang terus berulang. Dalam hampir satu dekade terakhir, tercatat sekitar 20 kecelakaan terjadi di lokasi tersebut. Selasa, (14/04).
Mahasiswa menggelar aksi solidaritas sebagai bentuk protes atas kondisi tersebut. Mereka menilai kecelakaan yang terus terjadi bukan lagi persoalan individu, melainkan masalah bersama yang membutuhkan penanganan serius.
“Sekitar 20 kecelakaan yang memang itu menjadi problem kita bersama,” ujar Yusrul selaku Koordinator Lapangan (Korlap).
Dalam aksi tersebut, masa juga menyampaikan kekecewaan terhadap pemerintah yang dinilai belum menunjukkan respons memadai, termasuk tidak menindaklanjuti undangan dialog yang telah disampaikan.
“Mereka tidak mau menerima aspirasi dari kita, tidak mau menerima undangan dari kita,” ujar Yusrul.
Seruan perlawanan turut disampaikan dalam aksi tersebut. Massa menyerukan tuntutan secara kolektif sebagai bentuk tekanan agar pemerintah segera bertindak.
Kritik juga disampaikan kepada pemerintah yang dinilai belum optimal dalam menjalankan tanggung jawabnya.
“Pemerintah tidak becus dalam menegakkan keadilan,” ujar Nugroho selaku orator.
Selain itu, mahasiswa menyampaikan sejumlah tuntutan, antara lain pemasangan portal pembatas di titik rawan, peningkatan pengawasan kendaraan besar, serta razia rutin terhadap truk yang melanggar aturan.
Aksi tersebut menegaskan bahwa persoalan di Tanjakan Silayur membutuhkan penanganan segera guna mencegah jatuhnya korban berikutnya.
Red/Ed: Editor
Penulis: Ardha