Justisia.com “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.” Demikian kutipan dari sosok Bapak Republik Indonesia, Tan Malaka. Secara filosofis, Idealisme memandang bahwa hakikat segala sesuatu berada pada tataran gagasan. Dalam wacana pendidikan, idealisme menjadi landasan untuk membentuk karakter peserta didik yang bermoral dan berupaya setinggi-tingginya demi kebaikan bersama. Namun, realitas di kampus sering kali menunjukkan ironi: mahasiswa yang dibentuk sebagai agen perubahan justru menjadi pelaku kebiri atas idealismenya sendiri. Inilah lelakon yang terjadi di sejumlah kampus Indonesia, termasuk UIN Walisongo Semarang yang dikenal sebagai “kampus hijau peradaban”.
Kebiri idealisme yang dimaksud bukanlah tuduhan tanpa dasar. Hal itu tampak dalam kegiatan Konsolidasi Nasional yang diselenggarakan Senat Mahasiswa (SEMA) UIN Walisongo dengan menghadirkan sejumlah pejabat pemerintah dan aparat kepolisian sebagai narasumber. Sebagian orang mungkin menganggapnya sebagai hal yang wajar. Namun, tidak sedikit yang mempertanyakan konsistensi di baliknya. Bagaimana mungkin sekelompok mahasiswa yang pernah berdemonstrasi mengecam kebiadaban aparat kepolisian atas pembunuhan seseorang tanpa alasan, kini justru berduduk ria dengan salah satu pimpinannya?
Kehadiran simbol politik praktis di ruang akademik tentu dapat memunculkan dugaan politisasi kampus. Ironisnya, mahasiswa yang selama ini lantang meneriakkan “Hidup mahasiswa! Hidup buruh! Hidup rakyat!” justru terlihat menunjukkan sikap yang bertolak belakang dengan semangat perjuangan yang mereka gaungkan.
Untuk memahami persoalan ini, penting terlebih dahulu melihatnya melalui kacamata idealisme. Dalam konteks pendidikan, paham ini menempatkan spiritualitas dan moralitas sebagai inti pembelajaran. Plato menyatakan bahwa dunia nyata hanyalah bayangan dari dunia ide. Oleh karena itu, pengetahuan sejati hanya dapat diperoleh melalui perenungan yang mendalam. Dalam ranah pendidikan, idealisme mengajarkan bahwa pengajar tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk moralitas sebagai salah satu tujuan utamanya.
Jika idealisme menempatkan moralitas sebagai landasan utama, maka tindakan SEMA UIN Walisongo menunjukkan ketidaksesuaian antara nilai dan praktik. Tidak tepat rasanya berbicara tentang konsistensi perjuangan ketika mahasiswa yang selama ini lantang mengecam berbagai pelanggaran moral dan penyalahgunaan kekuasaan justru terlihat bercumbu dengan pelanggar moral yang sebelumnya menjadi sasaran kritik mereka sendiri.
Dalam konteks ini, pandangan Michel Foucault menjadi relevan. Foucault memandang pendidikan sebagai suatu strategi yang tidak dikaitkan dengan lembaga tertentu, terkhusus aparat negara. Dalam arena politik yang dipenuhi relasi kuasa, pengetahuan memiliki otonomi dan pengaruhnya sendiri. Karena itu, meskipun akademisi tidak dapat sepenuhnya menghindari keterlibatannya dalam struktur kekuasaan dan persinggungannya dengan para pemegang otoritas, mereka tetap dituntut menjaga independensi intelektual serta mempertahankan jarak kritis sebagai kaum terpelajar.
Dari pemahaman tersebut, pertanyaan yang muncul adalah apakah kedekatan SEMA UIN Walisongo dengan sejumlah tokoh kekuasaan merupakan bentuk dialog yang konstruktif atau justru gejala memudarnya independensi gerakan mahasiswa. Tentu setiap orang memiliki pandangan masing-masing. Namun, yang tidak dapat dipungkiri adalah bahwa konsistensi antara nilai dan tindakan merupakan ukuran penting dalam menilai integritas sebuah gerakan mahasiswa.
Pada akhirnya, persoalan ini bukan semata-mata tentang sebuah kegiatan atau siapa yang diundang sebagai narasumber. Persoalan utamanya adalah menjaga integritas moral dalam perjuangan. Sebab, gerakan mahasiswa akan kehilangan maknanya ketika kritik yang lantang disuarakan tidak diiringi dengan sikap yang konsisten. Jika memilih berdiri bersama rakyat, maka keberpihakan itu harus tetap dijaga, baik di jalanan maupun di ruang-ruang diskusi. Sebagaimana dikatakan Tan Malaka, “Tuan rumah takkan berunding dengan maling yang menjarah rumahnya.”
Penulis: Redaksi
Ed/Red: Redaksi