
Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Ikhlas Banyutowo bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kendal, Banser Kecamatan Kendal, Pemuda Banyutowo, mahasiswa STIKES, serta mahasiswa Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Syari’ah dan Hukum UIN Walisongo Semarang menanam 2.000 bibit mangrove di bibir Pantai Banyutowo, Kecamatan Kendal, Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah. Sabtu, (7/12).
Ketua PMII, Fauzil Adhim, mengatakan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam penanaman mangrove merupakan bentuk komitmen untuk menjaga lingkungan pesisir.
“Mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk ikut merawat alam. Melalui kolaborasi seperti ini, kami ingin menegaskan bahwa kepedulian lingkungan harus diwujudkan dalam aksi nyata, bukan sekadar wacana,” kata Ucup, sapaan akrabnya, saat diwawancarai Kru Justisia di bibir pantai Banyutowo.
Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini sekaligus menjadi sarana pendidikan ekologis bagi kader PMII. Pihaknya berpendapat bahwa pengalaman terjun langsung di lapangan memberi pemahaman baru tentang pentingnya menjaga kawasan pesisir.
”Ketika adik-adik kader turun langsung menanam mangrove, mereka merasakan sendiri bahwa menjaga lingkungan bukan teori semata, tetapi tindakan nyata yang berdampak,” jelasnya.
Sementara itu Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kendal, Aris Irwanto, menyampaikan kegiatan penanaman mangrove di pesisir merupakan bagian dari upaya menjaga ekosistem pantai serta mengatasi abrasi. Ia menegaskan pentingnya peran masyarakat dan mahasiswa.
“Seluruh elemen masyarakat, termasuk mahasiswa, memiliki potensi besar dalam menjaga lingkungan. Penanaman mangrove ini bermanfaat untuk mengatasi abrasi, menyediakan oksigen, dan menjadi habitat biota laut,” ujarnya.
Aris menambahkan bahwa perawatan pasca penanaman merupakan tahap yang sama pentingnya dengan proses penanaman itu sendiri. la menekankan bahwa seluruh pihak harus memastikan bibit mangrove tumbuh dengan baik agar manfaatnya dapat dirasakan optimal.
”Yang paling penting bukan hanya menanam, tetapi merawat hingga benar-benar tumbuh,” tegasnya.
Kemudian salah satu peserta dari PMII, Bagoes Deva Permana, mengaku antusias mengikuti kegiatan tersebut. Ia menilai pengalaman menanam mangrove memberikan pemahaman langsung tentang pentingnya menjaga pesisir.
“Saya senang bisa ikut terlibat. Kegiatan ini membuat kami lebih sadar bahwa menjaga lingkungan butuh kerja sama dan konsistensi,” ungkapnya.
Ia berharap kegiatan ini tidak berhenti pada satu kali kegiatan saja. Ia mengatakan bahwa PMII dan mahasiswa lain perlu terus mendukung program lingkungan agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.
“Saya berharap kami bisa terlibat lagi dalam perawatan dan penanaman berikutnya. Ini harus menjadi gerakan bersama,” harapnya.
Penulis : David
Red/Ed : Editor