
Apakah kita benar-benar sepakat bahwa kemakmuran harus dengan merusak alam?
Selamat datang di era di mana kita merasa telah “menyelamatkan planet” hanya dengan mengganti minyak bumi ke minyak sawit yang katanya menjadi penyelamat ekonomi. Di atas kertas, sawit adalah simbol kemajuan, energi alternatif, dan devisa negara. Namun di tempat lain, di hutan-hutan Sumatra yang terus menyempit, di dataran gambut Kalimantan yang mengering, hingga di kampung-kampung kecil Sulawesi dan Papua, cerita itu terdengar sangat berbeda. Di sana, sawit bukan sekadar komoditas, melainkan garis batas antara hidup dan hilangnya ruang hidup. Alam sudah lama berbicara kepada kita dengan banyak bahasa, tapi kita memilih menutup telinga.
Negara menyebutnya pembangunan, korporasi menyebutnya investasi, dan kita diminta menyebutnya kemajuan. Namun bagi masyarakat yang tanahnya dirampas pelan-pelan, bagi sungai yang berubah keruh, bagi hutan yang tinggal kenangan, semua itu lebih terasa seperti pengusiran yang dilegalkan. Aktivis lingkungan dicap pengganggu stabilitas, akademisi kritis diminta “lebih realistis”, dan masyarakat adat diposisikan sebagai penghambat proyek. Mereka diminta bersyukur karena daerahnya kini “maju”, meski air bersih harus dibeli dan udara segar tinggal cerita. Inilah kemajuan versi kita: alam rusak, manusia diam, investor tersenyum, sementara negara sibuk merapikan narasi.
Kita sering lupa, pembangunan bukan sekadar soal angka pertumbuhan dan grafik ekonomi. Ia adalah soal siapa yang dikorbankan dan siapa yang diuntungkan. Ketika kebijakan disusun tanpa mendengar suara warga, ketika izin dikeluarkan tanpa rasa takut pada dampak, maka yang lahir bukan kemakmuran, melainkan ketimpangan yang dipoles rapi. Masyarakat lokal hanya dijadikan latar, bukan subjek. Mereka hadir dalam laporan, tapi hilang dalam keputusan.
Sejatinya, menjaga lingkungan bukan sekadar urusan menanam pohon atau membersihkan sungai, melainkan soal merawat kehidupan. Komunitas adat telah lama memiliki kearifan dalam menjaga ekosistem yang berakar pada lanskap alamnya. Mereka tidak perlu seminar untuk memahami alam, karena hidup mereka menyatu dengannya. Tetapi dalam logika pembangunan yang serba tergesa, kearifan dianggap kuno, dan kesabaran dianggap penghambat. Ketika bumi terus diperlakukan seperti objek bisu, jangan heran jika suatu hari ia berbicara lewat bencana. Saat itu, kita mungkin baru sadar bahwa yang benar-benar punah bukan hanya lingkungan, tetapi juga rasa malu dan tanggung jawab kita sendiri.
Merawat bumi melalui suara, cerita, dan gagasan memang terdengar mulia. Namun jika semua itu hanya berhenti di kolom komentar, di forum-forum yang aman, tanpa keberanian untuk menggugat kebijakan dan mengerem kerakusan, kita sebenarnya tidak sedang menjaga masa depan. Kita hanya sedang menulis surat perpisahan yang panjang dan puitis untuk dunia yang kita hancurkan sendiri sambil tetap menyebutnya kemajuan.
Penulis : Siraju
Red/ED : Editor