Pada dasarnya Mbah Sholeh Darat mengangkat aksara pegon sebagai prinsip dakwah dan perlawanan terhadap penjajah yang mencoba menghilangkan identitas tradisi dan budaya orang jawa, selain itu untuk memudahkan masyarakat awam untuk memahami agama karena orang jawa dahulu belum banyak yang pandai berbahasa arab.
Demokrasi biasanya timbul dari paham Individualisme yang sudah terlalu kuat, dan sosialisme ialah kemajuan dari demokrasi. Baik demokrasi atau sosialsme, keduanya berangkat sebagai reaksi Individualisme, namun Individualisme disini bukan dalam pengertian Egoisme.
Nahdlatul Ulama yang dikenal sebagai organisasi tradisionalis bukan berarti sepenuhnya menolak setiap pembaharuan yang pada waktu itu digelorakan oleh kaum modernis, melainkan mencoba memfilter setiap pembaharuan dengan dalil-dalil dan fakta historis zaman dahulu.
Ia berhasil membuat kontroversi dengan mencoba mendekonstruksi pemikiran Islam yang dianggapnya sudah lama mengalami fosilisasi, kemandegan, stagnasi dan kejumudan yang membuat umat Islam kehilangan daya tajam dan adaptasinya menghadapi laju problematika kehidupan nyata dan kompleks.
Tidak kalah menariknya, pemikiran dosen IAIN Jakarta, Harun Nasution, juga menyumbang pembaharuan lanskap pandangan dan kajian keagamaan Islam. Ia menawarkan "Islam Rasional" sebagai medium jalan keluar dari belenggu dogmatisme agama dan labelling nash-nash naqli yang kaku dan gersang.
Sebagai representasi kaum nahdliyyin KH. Hasyim Muzadi menegaskan dalam berbagai forum bahwa tak perlu ragu untuk menerima Pancasila sebagai dasar negara, dengan gamblang.

BACA LAINNYA

Telah Hadir Buletin: Melihat Lebaran lebih Dekat