
Kelompok Studi Mahasiswa Walisongo (KSMW) menggelar debat terbuka bagi 16 calon rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang periode 2026-2030. Kegiatan tersebut berlangsung di Auditorium 2 Kampus 3 UIN Walisongo pada Selasa, (2/12).
Dari 16 calon yang diundang, hanya 11 yang hadir dalam acara tersebut. Beberapa calon telah mengonfirmasi ketidakhadiran sejak awal, sementara sebagian lainnya membatalkan pada hari pelaksanaan karena agenda rektorat yang padat. Panitia juga menerima informasi bahwa sejumlah calon harus menghadiri rapat pimpinan dengan dekanat dan wakil rektor pada waktu yang hampir bersamaan.
Kegiatan debat ini diselenggarakan secara mandiri oleh KSMW tanpa bekerja sama dengan pihak kampus maupun organisasi mahasiswa lain.
“Enggak. Kami secara mandiri independen, nggak ada unsur DMAU ataupun muka-muka yang lain,” ujar Farid, ketua pelaksana acara.
Panitia menegaskan bahwa debat tersebut ditujukan untuk menguji tiga aspek penting: etikabilitas, intelektualitas, dan kapabilitas calon rektor. Menurut panitia, aspek etika dan intelektualitas sering diabaikan dalam proses demokrasi kampus, padahal keduanya penting untuk mencegah terulangnya berbagai pelanggaran etika seperti plagiasi, suap, dan penyalahgunaan kewenangan.
“Kebanyakan sistem demokrasi itu hanya menunjukkan kapabilitas, tapi etika dan intelektualitas tidak diketahui. Ini adalah cara mahasiswa mengenal para pemimpinnya secara langsung,” jelasnya.
KSMW berharap kegiatan debat ini dapat memberikan kontribusi terhadap perbaikan tata kelola kampus serta mendorong para calon rektor memiliki komitmen kuat terhadap moralitas akademik. Mereka menekankan perlunya rekonstruksi besar-besaran agar arah gerak UIN Walisongo kembali selaras dengan visi kampus peradaban dan riset terdepan.
“Kami harapkan rekonstruksi besar-besaran terhadap arah gerak UIN Walisongo agar lebih baik dan mampu mencapai kampus peradaban serta riset terdepan,” tambah Farid.
Para calon rektor yang hadir memberikan apresiasi terhadap inisiatif mahasiswa ini. Namun panitia menyebut ketidakhadiran beberapa calon berdampak signifikan terhadap kepercayaan publik kampus dan berpotensi mengurangi kepercayaan mahasiswa terhadap calon yang tidak hadir.
Penulis: Gibral
Red/Ed: Redaktur