Hana
Kebangkitan peradaban Barat yang terjadi bersamaan dengan kemunduran dunia Islam mendorong lahirnya berbagai pemikir muslim yang berusaha mencari penyebab ketertinggalan tersebut. Pada masa lalu, Islam pernah mencapai puncak kejayaan dalam bidang ilmu pengetahuan dan peradaban, namun kondisi itu tidak berlanjut hingga era modern. Situasi ini memunculkan kesadaran di kalangan cendekiawan Arab-Islam untuk melakukan refleksi kritis terhadap faktor internal yang menghambat kebangkitan umat Islam agar tidak terus tertinggal dari Barat.
Salah satu tokoh penting dalam upaya refleksi tersebut adalah Muhammad Abed al-Jabiri, seorang pemikir Islam kontemporer asal Maroko. Al-Jabiri berpendapat bahwa kemunduran peradaban Islam tidak hanya disebabkan oleh dominasi Barat, tetapi juga berakar pada struktur epistemologis nalar Arab-Islam yang berkembang secara tidak seimbang. Melalui proyek intelektualnya yang dikenal sebagai Kritik Nalar Arab, ia berusaha membongkar pola berpikir tradisional yang stagnan sekaligus menawarkan rekonstruksi nalar yang lebih rasional dan progresif.
Al-Jabiri membedakan secara tegas antara “pemikiran Arab” dan “nalar Arab”. Pemikiran Arab merujuk pada hasil-hasil pemikiran yang telah terbentuk, sedangkan nalar Arab adalah mekanisme atau cara berpikir yang melahirkan pemikiran tersebut. Dengan demikian, nalar Arab dapat dipahami sebagai alat produksi pengetahuan yang dipengaruhi oleh latar belakang budaya, sejarah, dan sistem pengetahuan masyarakat Arab. Oleh karena itu, kritik terhadap kemunduran peradaban Islam harus diarahkan pada struktur nalar, bukan hanya pada isi pemikiran yang dihasilkannya.
Menurut al-Jabiri, nalar Arab termasuk dalam kategori nalar terbentuk (al-‘aql al-mukawwan), yaitu nalar yang dibangun dan diwariskan melalui tradisi serta institusi keilmuan tertentu. Pembentukan nalar ini berlangsung secara sistematis pada masa kodifikasi ilmu-ilmu Islam, ketika disiplin seperti fikih, teologi, dan tafsir mulai dibakukan. Masa kodifikasi tersebut dinilai sangat menentukan karena pola berpikir yang terbentuk saat itu terus memengaruhi tradisi intelektual Islam hingga masa kini.
Dalam analisisnya, al-Jabiri mengklasifikasikan epistemologi nalar Arab ke dalam tiga bentuk utama, yaitu bayānī, ‘irfānī, dan burhānī. Epistemologi bayānī bertumpu pada teks, khususnya Al-Qur’an dan Hadis, yang diposisikan sebagai sumber otoritatif utama. Akal berperan untuk menjelaskan dan menjaga makna teks melalui pendekatan kebahasaan dan analogi. Pola epistemologi ini banyak berkembang dalam tradisi fikih dan ilmu kalam.
Epistemologi kedua adalah ‘irfānī, yang bersumber dari pengalaman batin dan intuisi spiritual. Pengetahuan dalam epistemologi ini diperoleh melalui proses penyucian jiwa, latihan rohani, dan pengalaman langsung yang bersifat personal. Al-Jabiri menilai bahwa epistemologi ‘irfānī cenderung mengesampingkan rasionalitas dan sulit diuji secara ilmiah karena bertumpu pada pengalaman subjektif.
Sementara itu, epistemologi burhānī menekankan peran akal dan rasionalitas dalam memperoleh pengetahuan. Pengetahuan dihasilkan melalui proses berpikir logis, analisis sebab-akibat, serta pembuktian rasional yang berlandaskan realitas empiris. Dalam epistemologi ini, teks tetap diakui, tetapi dipahami secara kontekstual dan diuji melalui akal. Pendekatan burhānī memiliki kedekatan dengan tradisi filsafat dan metode ilmiah.
Al-Jabiri menilai bahwa stagnasi peradaban Islam terjadi karena penggunaan ketiga epistemologi tersebut tidak berjalan secara seimbang. Dominasi nalar bayānī dan ‘irfānī dianggap menghambat berkembangnya rasionalitas kritis. Nalar bayānī dinilai cenderung tekstual, defensif, dan dogmatis, sedangkan nalar ‘irfānī dipandang terlalu mistis dan irasional. Kritik paling tajam diarahkan pada epistemologi ‘irfānī karena dianggap melemahkan daya kritis umat Islam dan menyulitkan pengembangan ilmu pengetahuan secara sistematis.
Sebagai solusi, al-Jabiri menawarkan penguatan epistemologi burhānī sebagai dasar pembaruan pemikiran Islam. Ia meyakini bahwa nalar burhānī mampu mengintegrasikan teks, akal, dan realitas secara seimbang. Dengan pendekatan rasional dan ilmiah, umat Islam dapat mengembangkan ilmu pengetahuan yang relevan dengan tuntutan zaman modern tanpa harus meninggalkan tradisi keislamannya.
Gagasan kritik nalar Arab yang dikemukakan al-Jabiri memiliki relevansi besar bagi kebangkitan peradaban Islam kontemporer. Al-Jabiri tidak mengajak untuk menolak tradisi, melainkan menempatkannya sebagai objek kritik yang konstruktif. Tradisi perlu dibaca ulang secara rasional agar mampu menjawab tantangan sosial, budaya, dan keilmuan di era modern.
DAFTAR PUSTAKA
Muhamad, L. N. (2024). Kritik epistemologi nalar Arab Muhammad Abed Al-Jabiri terhadap kemajuan peradaban Islam. Al-Hamra: Jurnal Studi Islam, 5(2), 143–156.