Wujud Persaudaraan Antar Agama

0
267

Oleh: Siswoyo

Wacana tentang pluralisme agama merupakan salah satu wacana yang sering diperbincangkan di kalangan intelektual muslim hampir di seluruh belahan dunia. Wacana ini pada dasarnya berfungsi jembatan penghubung antar umat beragama yang seringkali terjadi disharmonisasi dengan mengatasnamakan agama. Disharmonisasi yang terjadi seperti kekerasan sesama umat beragama, maupun antar umat beragama. Kekerasan dengan mengatasnamakan agama bahkan dapat terjadi di Indonesia yang notabennya merupakan Negara multi etnis, ras, suku, bangsa dan agama.

Agama-agama dan aliran-aliran di Indonesia tumbuh subur, oleh karena itu pemahaman akan pluralisme agama sangat dibutuhkan dalam masyarakat yang majemuk seperti di Indonesia. Hal ini dilakukan karena demi terciptanya stabilitas ketertiban dan kenyamanan setiap umat beragama dalam menjalankan ajarannya serta mwujudkan kerukunan umat beragama, sehingga konflik sosial yang dapat merugikan dapat dihindari.

Dialog antar umat beragama sangat diperlukan guna untuk menghilangkan rasa saling curiga dan menjalin ikatan yang harmonis antar umat beragama. Seperti yang dianjurkan dalam al Qur’an, jika terjadi suatu perselisihan antara umat Islam dengan agama lain maka dianjurkan untuk mencari titik temu dengan berdialog (wa jadilhum billati hiya ahsan).

Pluralisme agama dalam Islam dianggap sebagai suatu sunnatullah yang tidak dapat dirubah, dilawan maupun diingkari. Hal ini membuktikan bahwa Islam sangat menghargai akan pluralisme. Sikap pluralisme ini seperti yang dicontohkan oleh Rasulallah saw pada saat di Madinah yang sangat toleran terhadap umat beragama lain, bahkan beliau dengan umat-uma lain membuat perjanjian dengan penduduk Madinah yang dikenal sebagai “Piagam Madinah”.

Dasar Pluralisme Agama

Pluralisme berasal dari kata “plural” yang mempunyai arti lebih dari satu atau jamak (banyak) dan berkaitan dengan keaneka ragaman. Jadi yang dimaksud dengan pluralisme agama ialah paham atau sikap terhadap keadaan majemuk dalam konteks agama. Dengan kata lain pluralisme agama merupakan kondisi hidup antar umat beragama yang berbeda-beda dalam satu komunitas dengan tetap mempertahakan ajaran masing-masing agama.

Dengan demikian dalam pluralisme agama tidak hanya dianjurkan untuk berinteraksi antar umat beragama ataupun menghormati dan saling toleransi terhadap hak-hak agama lain, akan tetapi mampu memahami perbedaan dan persamaan dalam pluralisme agama sehingga terwujud kerukunan dalam keragaman beragama. Dalam perspektif sosiologi agama, pluralisme agama sebagai suatu sikap mengakui dan menerima keragaman sebagai sesuatu positif yang merupakan ketentuan dan rahmat dari Tuhan.

Kesadaran akan pluralime agama dapat menciptakan sikap toleran, inklusif dalam beragama dan saling menghormati, menghargai dan memberi kesempatan kepada seluruh manusia untuk menjalankan keyakinan mereka masing-masing. Di Indonesia sikap pluralisme agama antara lain tertuang dalam semboyan Negara “Bhineka Tunggal Ika”, Pancasila yang tertuang dalam pasal 1 “Ketuhanan Yang Maha Esa”, serta dalam  UUD 1945 pasal 29 ayat 2 yang menjamin kebebasan beragama dan beribadah sesuai menurut agama dan keyakinan masing-masing.

Sikap toleransi antar umat beragama merupakan dasar untuk mewujudkan paham pluralisme. Sikap toleransi tidak hanya diartikan dengan membiarkan dan menghormati orang lain, tetapi pemahaman tentang sikap toleransi juga harus diaplikasikan dengan tindakan dan perbuatan yang nyata.

Realitas Pluralisme Agama

Pluralisme atau kebeinekaan agama merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat dibantah dan merupakan keniscayaan sejarah (historical necessary) yang bersifat universal. Jadi pluralisme atau kebinekaan merupakan sunnatullah (kepastian hukum Tuhan) yang bersifat abadi. Seperti yang dikemukakan oleh Ismail Raji al-Faruqi bahwa kebinekaan atau pluralisme agama pada hakikatnya bersumber pada Yang Maha Esa (Tuhan), kemajemukan tersebut terjadi karena perbedaan tingkat perkembangan sejarah, peradaban dan lokasi umat yang menerimanya. Sebagaimana firman-Nya “Maka hadapkanlah wajahmu kepada (Allah) dengan lurus (tetaplah) atau fitrah Allah yang telah menciptakan manusia di atas fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang benar, akan tetapi, kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Al-Rum: 30/30).

Rasulullah saw bersabda bahwa para nabi merupakan keluarga besar (abna ‘allat). Ayah mereka satu dan ibu mereka banyak, seperti tiga agama besar yaitu Yahudi, Islam dan Kristen yang lahir dari satu bapak (Ibrahim). Oleh karenanya hubungan antara agama yang satu dengan agama yang lain seharusnya seperti hubungan persaudaraan. Akan tetapi pada kenyataan seringkali ketegangan terjadi antar sesama saudara, sehingga paham pluralisme sangat dibutuhkan demi kembalinya ikatan persudaraan sesuai dengan hakikat dari masing-masing agama.

Kemaha-Esaan Tuhan meniscayakan akan pluralitas selain Dia, artinya hanya Tuhan saja yang Esa (tunggal) sedangkan selain Dia, adalah plural. Menolak pluralismeberarti pada dasarnya menolak kemajemukan, sedangkan menolak kemajemukan sama saja dengan mengingkari sunnatullah, dan itu tidak mungkin.[j]