UIN Walisongo Belum Serius Kelola KKL Luar Negeri

0
103
Sekretaris Islamic Development Bank and Internship UIN Walisongo, Tolkah, saat dijumpai kru Justisia, Kamis (11/10).

Semarang, Justisia.com – Sistem KKL di UIN Walisongo selama ini hanya di lembaga lokal dalam negeri. Akan tetapi belakangan ini banyak mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) yang mengajukan pemagangan di luar negeri. Mahasiswa magang atas inisiatif sendiri dengan cara mengajukan kepada pihak fakultas dan universitas. Jika perangkat hukum fakultas sudah jelas serta dipandang memenuhi syarat dan peraturan, KKL ke luar negeri akan terlaksana.

Universitas Teknologi MARA (UiTM) Malaysia sudah beberapa kali mengirim mahasiswanya ke UIN Walisongo Semarang. Mahasiswa yang didelegasikan berjumlah 25 orang dan satu dosen pembimbing. Namun dari pihak UIN Walisongo sendiri belum ke sanakarena terhambat faktor keuangan. Mengingat sistem UKT yang berjalan di UIN Walisongo belum bisa menunjang mahasiswanya untuk KKL di luar negeri.

Mengenai KKL ke luar negeri biaya ditanggung sendiri oleh mahasiswa. Dari pihak International Office UIN Walisongo hanya bisa membantu untuk memfasilitasi.

“Saya beri referensinya, relasinya ke mana saja, suratnya saya bantu,” ujar Tolkah, sekretaris Islamic Development Bank and Internship UIN Walisongo saat ditemui Justisia, Kamis (11/10).

Dana yang dibutuhkan mahasiswa FEBI untuk KKL dalam negeri sekitar Rp200.000,00. Sementara KKL luar negeri membutuhkan rata-rata biaya Rp1.000.000,00 belum termasuk paspor, visa, dan akomodasi.

“Sebenarnya tujuannya sama-sama mencari pengetahuan baru dan setelahnya juga membuat laporan. Tapi biaya dan pengalamannya jelas berbeda,” ungkap Anif, mahasiswa semester 7 Jurusan Ekonomi Islam.

KKL sebelumnya dari Jurusan Ekonomi Islam diberi pilihan untuk melakukan KKL di dalam negeri atau luar negeri. Dari satu angkatan hanya sekitar 10 persen yang mengajukan KKL ke luar negeri. Dengan demikian diputuskan KKL di dalam negeri dan bertempat di Bali.

“Kemarin sih ada kakak tingkatyang ke luar negeri, dan angkatanku juga ada yang usul tapi tidak disetujui oleh kajur, soalnya selain membutuhkan dana banyak juga para mahasiswa banyak yang tidak setuju,” tambah mahasiswa asal Pati tersebut.(J/Rahma, Ahsanu)