Tiga Media Giring Portal-portal Baru untuk Melanggar Kode Etik Jurnalistik

0
278

Surakarta, justisia.com – Dewasa ini terdapat tiga media baru yang telah menggiring portal atau media berita baru untuk melakukan pelanggaran kode etik jurnalistik.

Ikhwan Prasetiyo menyampaikan bahwa tiga media menggiring masyarakat untuk menjadi konsumen informasi yang bersifat permukaan. Hal itu disebabkan oleh argoritmenya yang hanya merangsang di permukaan atau secara spontan.

Hal tersebut disampaikan dalam seminar yang bertema “Pendidikan Berbasis Gender di Era Keterbukaan Informasi” sebagai pembuka acara Kongres PPMI XIV di UNISRI Surakarta, Selasa (7/8).

Ikhwan menjelaskan tiga media baru, yaitu mesin pencari, media sosial, dan perdagangan daring. Itu semua mampu menggiring kita untuk menjadi konsumen informasi yang modelnya hanya meraba di permukaan saja, karena algoritmenya yang hanya merangsang di permukaan.

“Maksudnya adalah merangsang secara spontan, hanya melihat judulnya saja tanpa membaca sampai selesai. Hal itu bisa menjadikan media-media berita yang baru muncul atau portal-portal baru yang muncul untuk melanggar kode etik jurnalistik,” ucap laki-laki yang aktif di AJI Surakarta tersebut.

Contoh bukti pelanggaran kode etik tersebut diperlihatkan secara jelas oleh aktivis SPEK-HAM, Elisabert Yulianti, ia memaparkan tiga contoh pemberitaan yang telah melanggar kode etik dengan menyebutkan identitas korban pelecehan seksual secara jelas.

“Banyak terjadi pelanggaran kode etik jurnalistik seperti menyebutkan nama korban pelecehan seksual secara gamblang, padahal hal itu dapat berdampak buruk terhadap psikis korban,” ujar Elisa.

Ikhwan menambahkan, persoalan iklan dalam lima tahun terakhir juga menjadi sebuah masalah pada Industri media berita. Bisnis berita, atau pers sedang goncang karena distruksi yang dimunculkan oleh internet.

“Iklan dalam gejala lima tahun terakhir menjadi masalah, bisnis berita, atau pers sedang goncang karena distruksi yang dimunculkan oleh internet,” bebernya.

Sekarang semuanya sudah bisa menjadi wartawan, bisa menyebarkan berita dengan mudah. Dia mengatakan justru hal itu yang menjadi sebuah masalah. “Untuk apa saya bayar mahal iklan di media konvensional, sedangkan saya bisa beriklan di medsos tanpa bayar. Kemudian ketika ia mau beriklan di media konvensional, akhirnya dia meminta konsesi-konsesi,” ungkapnya.

Terakhir, Ikhwan berpesan, cara melawannya harus dengan kembali kepada kode etik dan UU Jurnalisme. (Ruri/Syaifur)