Tawuran antar Suporter Warnai Penutupan Orsenik 2018

0
369
Sumber : Instagram-pbakuinws

Semarang- Justisia.com Kericuhan antar suporter sempat mewarnai upacara penutupan Orientasi Olahraga, Seni, Ilmiah, dan Keterampilan (Orsenik) 2018,. Kericuhan yang terjadi dua kali itu disebabkan adanya peristiwa saling senggol ketika penampilan band dari UKM musik menampilkan aransemen lagu bergenre SKA-reggae.

Belasan mahasiswa dari sejumlah fakultas terlibat dalam peristiwa tersebut. Puncaknya, ketika musik masuk di reff kedua dari lagu yang pertama. Pukul 22.48 WIB aksi kejar-mengejar terjadi untuk menangkap pelaku terduga sebagai akar kerusuhan. Kejadian yang secara tiba-tiba terjadi membuat Menwa yang berjaga sempat kewalahan atas kejadian tersebut. Selang beberapa menit, berjarak 10 meter dari tempat duduk tamu undangan, kembali terjadi kerusuhan untuk kedua kalinya. Hal ini membuat seluruh perhatian terpusat kepada sumber kerusuhan.

Wakil Rektor III bagian kemahasiswaan, Suparman Syukur menilai hal perlu di evaluasi. “Kayaknya (tawuran) mahasiswa itu huru-hara akibat gegap-gempita itu biasa. Tapi ini jangan dipelintirkan bahwa tawuran itu biasa. Ini pasti akan ada evaluasi,” jelasnya pasca menghadiri penutupan Orsenik 2018 di Lapangan UIN Walisongo, Minggu (24/09) malam

Ia menganggap bahwa fanatisme kefakultasan adalah hal yang baik, bahkan diperlukan. “Kalau fanatik kefakultasan itu bagus, saya walaupun dosen ya ada fanatisme fakultas juga, wah Ushuluddin mana suaranya itu tadi,” tambahnya.

Suparman selalu mengusahakan bahwa diadakannya Orsenik adalah sebagai medium penjaringan bakat mahasiswa, utamanya mahasiswa baru. Ia menilai, adanya peristiwa kerusuhan dan semacamnya bukanlah penghalang untuk Orsenik dapat diadakan kembali tahun depan.

“Orsenik akan tetap ada, ini kan untuk mahasiswa juga kan,” ungkapnya. (j/redaksi)