Sociology of Meme ; Meme Sebagai Respon Sosial

0
233
sumber gambar : anekainfounik.net
sumber gambar : anekainfounik.net

Oleh : Masykur Rozi Al-Azibi*

Pada suatu masa, seorang pemburu meninggalkan goa untuk mencari makanan di hutan bersama anjing piaraannya. Saat berjalan sekian jauh, seraya mengitari lerang gunung yang terjal, perhatiannya teralihkan oleh sekelebatan rusa dari balik semak belukar yang tidak jauh dari tempatnya berpijak. Dia terkesiap, secara ia memerintahkan anjingnya menerkam rusa itu. Anjing berlari, diikuti oleh sang pemburu yang tengah siap mengangkat tombaknya. Semakin kencang ia berlari, perhatian yang hampir seluruhnya tertuju kepada rusa membuatnya tak menyadari keberadaan batu di depannya. Brugh!! Dia terjatuh dan kakinya terluka oleh batu itu. Darah mengucur, dia kebingungan bagaimana caranya meminta bantuan. Berpikir sejenak, ia menemukan ide.

Diambilnya dua batu dari sisinya, yang satu pipih dan lebar, sedangkan yang satunya runcing berbentuk segitiga kecil. Pemburu menggambar kaki yang tertembus batu dan goresan seperti air. Dia memanggil anjingnya yang masih sibuk menarik rusa yang diterkamnya. Dilepaskannya rusa itu lalu berlari seraya menggonggong menghampiri sang pemburu. Diberikannya batu pipih itu, saat ini batu telah berada di mulut anjing. Dengan aba-aba tangan, sang pemburu memberi isyarat. Anjing itu berlari kencang menuju goa tempat tinggalnya bersama kawanan suku lain. Sampai sana, orang-orang berkumpul dan menunjuk lima orang untuk keluar mendatangi tempat pemburu terluka. Setelah sampai, lima orang dari sukunya membopong pemburu, bersama dengan rusa sebagai hasil tangkapannya. Sesampai di goa, pemburu itu lekas diobati, dan diistirahatkan di salah satu sisi goa.

Secuil cerita di atas memberi tahu kita bagaimana manusia pertama kali menyampaikan suatu pesan atau ide jarak jauh dengan suatu alat tertentu. Dari batu, nanti akan berkembang dengan menggunakan kulit binatang, dedaunan, serat kayu, kertas dan kini sampai pada koneksi networking. Pada abad ke 14 terjadi publikasi surat kabar, buku, pamflet secara besar-besaran, dan dilanjutkan dengan media eletronik berbasis teknologi informasi seiring kesadaran masyarakat yang semakin melek huruf. Perkembangan media secara eksternal juga dipengaruhi oleh maraknya produksi masal alat-alat produksi media, seperti copier, mesin cetak dan robot pembuat media elektronik. ( John B. Thompson, 2015:5).

Killner menambahkan, berawal dari ide manusia goa, bahwa semakin ke sini media mempertontonkan siapa yang memiliki kekuatan dan kelemahan, dengan diikuti serangan dan kekerasan. Di sana, terkadang terjadi kekaburan siapa yang salah dan siapa yang benar. (Douglas Kellner, 1995:2). Media, memang ampuh di dalam membuat opini masyarakat tentang isu tertentu. Seseorang bisa berkata lantang bahwa dia benar karena ada media yang menyokongnya, sehingga ada harapan opini dia benar akan tecipta di masyarakat. Di mana hal itu akan berimplikasi untung-rugi bagi pihak-pihak tertentu. (Maurice Duverger, 2013:87)

Media sosial pada dasarnya memiliki peran vital di dalam mengungkapkan uneg-uneg apapun yang ada di dalam dirinya, baik yang bersifat privat maupun berhubungan dengan interaksi sosial di sana. Bentuk ungkapan ini bermacam-macam, ada yang berupa tulisan atau gambar, atau dua-duanya. Semua itu dapat dilihat di dalam akses yang disediakan oleh facebook, twitter, path, instagram dan media sosial lainnya. Pada akhir-akhir ini sering ditemui gambar yang di edit sedemikian rupa, dan diberi tulisan ini-itu untuk menunjukkan suatu pesan bermaksud sindiran maupun sekedar celoteh pelepas lelah yang memiliki relasi dengan peristiwa sosial yang sedang terjadi dan berhadapan dengan identitas. Hal inilah yang penulis maksud dengam ‘Meme’

Jika diamati secara mendalam, antara meme, identitas dan peristiwa sosial mempunyai relasi yang unik, yakni penggunaan simbol gambar dan tulisan oleh seseorang yang tidak diketahui identitasnya secara terang. Di sisi lain dengan melihat meme yang ada di media, apakah berarti kita sudah bisa menemukan identitas seseorang yang mengupload-nya, bersamaan dengan konteks sosial yang diangkat dalam meme tersebut. Lebih dari itu, ini akan menjadi hal yang sangat berpengaruh mana kala di suatu negara memiliki masalah krusial di dalam atau luar negeri, katakanlah instabilitas nasional atau dalam taraf para pejabat sentral negara sedang ‘mengeriyitkan dahi’.

Sejauh mata memandang, di manapun banyak kalangan berbagai klasifikasi berdasarkan struktural etihic maupun identitas yang tumpang tindih dalam konteks privat maupun publik tidak terlepas dari media.

*Pemimpin Redaksi Jurnal Justisia Tahun 2016.

Rujukan

[1] John B. Thompson, Identity and Modern Culture: Critical Social Theory of Mass Communications, terj. Haqqul yaqin dengan judul: “Kriti Ideologi Global: Teori Sosial Kritis Tentang Relasi Ideologi dan Komunikasi Massa”. (Yogyakarta: IRCiSoD, 1st.ed: 2015), hal 5.

[2] Douglas Kellner, Media Culture: Cultural Studies, Identity and Politics between the Modern and the Postmodern, (London: Routledge, 1st.ed, 1995), hal 2.

[3] Maurice Duverger, The Study of Politics. Edisi Indonesia oleh Daniel Dhakidae dengan judul “Sosiologi Politik”, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 14th.ed: 2013), hal 87.