Sociology of Memeof Meme : Meme Sebagai Respon Sosial (Bag: IV-habis)

0
268
sumber gambar : anekainfounik.net
sumber gambar : anekainfounik.net
sumber gambar : anekainfounik.net

 

Oleh : Masykur Rozi*

Simbol yang tersebar ini bukan saja menjadi kekuatan tersendiri di dalam media. Eksistensi masyarakat yang berada di dalam isu tertentu bisa dengan leluasa mengutarakan pendapat-pendapat, mengenai ketidakpuasan terhadap situasi sensitif yang terkait,  dengan identitas. Media menjadi bahan pembentuk opini bukan saja oleh pemegang kekuasaan sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan. Justru, masyarakat yang beroposisi dapat membentuk masa dengan celotehan ringan bernilai secara tersirat di dalam gambar-gambar lucu.

Struktur kekuasaan dalam konteks ini adalah pemerintah yang memiliki kuasa terhadap media akan menggunakan media sosial secara bebas dan mengarahkan opini masyarakat tentang kebijakan yang diambilnya. Inilah kegunaan dalam perspektif sosiologi politik, di mana semakin banyak masyarakat yang menggunakan media, dalam hal ini merupakan populasi demografi visual, akan berbanding lurus di dalam mengarahkan opini masyarakat. Lalu, kenyataan yang ada sekarang, dapat dilihat sendiri siapa yang memegang struktur media, khususnya isu-isu yang muncul dikabarkan menggunakan sosial media.

Munculnya meme sebagai interaksi sosial merupakan hal yang lama. Dari pendahuluan yang telah dinarasikan di atas, kiranya menyampaikan pesan di dalam bentuk suatu gambar, akan tetapi semakin kompleks masalah sosial yang terjadi, semakin bervariasi. Perkembangan sosio historis meme menunjukkan kita bahwa manusia semakin kreatif dalam membuat simbol-simbol sebagai gagasan struktural. Tetapi, bukan pemerintah namanya jika hal itu tidak dilihat sebagai peluang. Dilegalkannya media-media sosial yang menyediakan upload foto, ditambah lagi aplikasi-aplikasi editing, merupakan sebuah peluang untuk menyusupkan ideologi hedonisme. Di mana pada giliran dapat melumpuhkan semangat perjuangan melalui cara-cara yang lebih signifikan dari sekedar menuangkan di dalam status dan gambar di halaman web.

Media sosial memunculkan perasan-perasaan baru di dalam menyampaikan suatu pesan. Jika agama menyampaikan pesan transendental, maka media menyampaikan pesan struktural dan identitas. Dalam taraf ini, media merupakan agama baru di zaman modern. (David Channey, 1996:6). Dalam perspektif struktur yang dibangun oleh Marx, candu yang melekat di dalam media bagi masyarakat lebih parah dibanding agama itu sendiri. Agama, dianggap candu karena khotbah-khotbah yang diceramahkan oleh para pemukanya justru membius untuk terus bersabar di tengah sakit oleh kejamnya struktur ekonomi. Namun di media sosial, keasyikan yang di dapat dari berselancar, serta rasa puas setelah berceloteh di kolom status, membuat seseorang semakin terlena di bawah tekanan dan ancaman identitas yang tidak dirasanya.

Idealisasi yang mengarah, pada suatu titik tertentu, merupakan struktur dasar identitas diri yang paten. Jika sedari awal, dan mungkin terjadi di generasi pertama masyarakat media, memfungsikan media untuk melawan ketiak-adilan dan pembentukan opini dengan mengacu kepada ideologi yang benar. Maka pada giliran hedonisme media, akan banyak orang yang sok mengunggah meme yang mereprensentasikan respon sosial, namun kosong. Kosong dalam arti tidak memiliki dampak apapun teradap perlawanan dan pertumpahan, melainkan ‘yang eksis’ karena di sana sedang tren tema-tema demikian.

Hedonisme media seperti pulau kecil di tengah derasnya air. Orang yang hidup di sana merasa adem-ayem, padahal itu sebatas struktur kecil dalam tatanan isu yang membuat halaman website terlihat ramai. Padahal, di luar sana, ada isu yang krusial. Dengan begitu, jika media adalah organisasi buruh, tidak ada kesadaran untuk menumbuhkan semangat-semangat terhadap isu yang mencuat . Nah, dari sini, media dan lingkup hedonis merupakan absurditas baru di tengah masyarakat yang kian rasional.

Konklusi

                Meme di media merupakan simbol yang terstruktur atas isu-isu di dunia riil, simbol dan substruktur media. Munculnya meme mengungkapkan kepada kita bahwa pesan yang disampaikannya mengandung nilai-nilai idealitas dan identitis, yang menyuguhkan kepada bagi suatu respons sosial. Interaksi sosial menggunakan meme merupakan penyampaian nilai ‘cacat’ dan identitis. Perkembangan media hingga taraf kecanggihan yang mencengangkan seperti ini merupakan liberalisasi non-konstitusional, di mana pada tataran akhir, fungsi media tidak terkontrol dan justru melemahkan pemerintah sendiri. Dan paling akhir, ketika masuk pada era informasi secara universal, agama baru berupa media ini akan semakin membius masyarakat atas perlawanan dan pertumpahan struktural. Akhirnya, menjadi generasi idiot.

*Mahasiswa Ilmu Falak, Fakultas Syariah & Hukum UIN Walisongo Semarang

Daftar rujukan

 David Channey, Life Style, (London: Routledge, 1st. ed: 1996), hal 6.