Sociology of Meme of Meme ; Meme Sebagai Respon Sosial (Bag : III)

0
195
sumber gambar : anekainfounik.net
sumber gambar : anekainfounik.net
                                                                                                sumber gambar : anekainfounik.net

oleh: Masykur Rozi Al-Azibi*

Urgensitas menggunakan strukturalisme tidak luput dari fenomena media yang di dalamnya terjadi ketidakteraturan. Benar sekali, strukturalisme berfungsi sebagai konsepsi untuk membaca ketidakteraturan ini menjadi suatu klasifikasi yang dapat  melihat elemen-elemen yang mengatur berada di belakangnya. Bukan maksud saya mencari secara mendalam untuk menyatakan suatu nilai tersendiri melebihi layar media, namun sekedar melihat suatu keragaman yang terstruktur dan memungkinkan kita melihat perbedaan dari tumpukan meme-meme di media.

Meme merupakan objek, maupun unit terkecil di dalam media yang berada di tengah struktur yang mengaturnya, yakni isu yang mencuat ke permukaan, layaknya komoditas yang diperjualbelikan oleh pasar. Masyarakat media, dalam satu sisi merupakan sebuah komunitas di bawah isu, oleh karenanya ia berkedudukan sebagai sub-struktur di bawah isu. Meme pada dasarnya merupakan perwujudan lain dari bahasa seseorang di bawah suatu tatanan yang deterministik, meskipun terkait dengan persoalan psikologis, memiliki makna yang sedikit banyak sesuai dengan garis individu-sosial-objek. Saussure (1857) mengatakan, bahwa bahasa secara umum memiliki korespondensi dengan entitas aslinya, namun juga tidak bisa mewakili setiap realitas yang melingkupinya. Justru, kata-kata bekerja di dalam bahasa layaknya barang yang ditukarkan oleh penjual dan pembeli. Anggota komunitas bahasa memiliki konvensi-konvensi bersama yang berlaku di lingkupnya sendiri sebagai nilai-nilai yang dapat ditentukan dari padanya.(Bryan S. Turner, 2012:19-199).

Isu-isu sosial-politik memiliki sisi determinan di dalam menyebarkan meme-meme di media. Nilai-nilai yang terinternalisasi dari fenomena luar ke dalam pikiran dapat membuat stereotipe dan tergugah mengungkapkan apa yang tercermin dari dalam dirinya soal isu tersebut. Masih diingat tentunya kasus USB dan koar-koar ‘jebakan Batman’ Haji Lulung yang diiringi munculnya gambar bertema sama dengan variasi pesan yang berlainan. Sindiran, cemooh-an, sarana ‘guyon’ dan pesan lain mengalir begitu deras melalui tarian jemari di atas keyboard komputer maupun ponsel pintar, baik berupa gambar maupun sekedar tulisan.

Di samping itu, komunitas media adalah suatu masyarakat yang terkonvensi di dalam identitas trans-budaya, transnasional, dan atribut lain di samping konvensi ini. Tentunya, konvensi ini memiliki kesepakatan khusus untuk mengungkapkan pesan-pesan itu. Meme merupakan tren baru yang dalam komunikasi disepakati, dan dimulai dari ketertarikan, ikut serta seseorang dikatakan tergabung dalam konvensi ini. Sekali lagi, jika Meme adalah perwujudan bahasa, maka secara tipologis dia tidak secara tepat mewakili entitas dari apa yang diungkapkannya, selama keluar dari konvensi. Distribusi simbol ungkapan ini hanya sebatas mereka yang memiliki identitas yang kuat dan berfungsi sebagai peran sentral di dalam sistem evaluasi identitas. (Richard Jenkins, 2008:30). Setiap saat, dan pada tataran ini dia merasa identitasnya terancam. Ketika kita mengetahui bahwa Haji Lulung adalah seorang pejabat publik, dan di dalam evaluasi diri kita menemukan bahwa kita adalah rakyat, dan dalam konteks ini sang Haji melakukan sebuah kesalahan yang mengancam haknya sebagai rakyat, yakni korupsi. Terjadi dialog diantara keduanya dan mengakibatkan sejumlah persepsi, tergantung kepentingan yang ingin diungkapkan melalui simbol yang terkonvensi ini.

Distribusi di sini bukan sekedar meme dapat diakses oleh pengguna dalam media tertentu. Tetapi, tataran ideal dan interest harus masuk di dalamnya sebagai syarat penyebaran nilai yang dibawa oleh meme itu sendiri. Apakah arti komunikasi jika itu tidak dipahami. Benar sekali, untuk memahami Meme tersebut tolak ukurnya adalah singkronsasi antara isu dan pesan itu sendiri. Bisa diandaikan dengan nomerisasi yang terjadi di dalam simbol-simbol ini. Jika haji Lulung adalah A kemudian kriteria pemimpin ideal adalah B, antara 4-8, dan perilaku Haji Lulung adalah C yang dinomerisasi itu. Maka, tatanan ini cukup untuk membuat seseorang menjustifikasi dan menggunakan Meme sebagai pesan yang tertuju kepada self-identitas yang memiliki persamaan, baik secara vertikal, horisontal atau mungkin diagonal.

Ada sejarah sosial perlawanan di Indonesia yang mendorong individu-individu bersikap sensitif terhadap suatu isu. Perjuangan bangsa Indonesia telah melahirkan perasaan khusus secara turun temurun dengan media yang menjadi suatu tolak ukur yang khusus pula. Hal ini cocok seperti apa yang telah diungkapkan Ir. Soekarno dalam mengungkapkan bangsa, yakni “die aus einer Schicksalesgmeinschaft erwachsende Charaktergemeinschaft” atau “komunitas karakter yang berkembang dari komunitas pengalaman bersama”, secara genealogis ia mengambil dari perspektif Otto Bauer. (Yudi Latif. 2011:xix). Secara garis besar membuat isu-isu politik dan sosial yang mengancam atau merugikan rakyat akan laku keras direspon oleh pengguna media sosial. Selain itu, bangsa Indonesia tidak bisa luput dari spiritualitas yang melekat dalam sendi-sendi kehdupan mereka. Secara historis sebelum tercipta bangsa Indonesi