Siti Rofi’ah; Belajar dari Pemikiran Muslim yang Hidup di Paris

0
403
Wadyabala Justisia diskusi bersama Peneliti eLSA pada hari kedua Workshop Islamic Studies & Sosiologi di Gedung M2 Kampus III UIN Walisongo Semarang. (16/02/2017) (doc: Danil Aufa)

JUSTISIA.COM. Studi lanjutan Justisia, kali ini menghadirkan pembicara Siti Rofiah untuk membahas tokoh pemikir Islam, Syaikh al-Thahthawi. Dalam pembahasan tokoh tersebut, mencakup tentang gender, kebebasan, nasionalisme. Inilah inti pembahasan dari seorang tokoh muslim asal Mesir tersebut. Latar belakang terbentuk pemikiran Syaikh al-Thahthawi saat Dia belajar di Prancis. Melihat perbedaan kehidupan Mesir dan Prancis, sehingga menciptakan karya-karya fenomenal.

Setiap orang hidup dalam kondisi sosial historisnya, pengalaman dia belajar di Prancis sangat terpengaruh. Talkhis Fil baris, Manahij al-Albab, dan al-Mursyid al-Amin, dianggap sebagai peletak dasar pemikir dan kenegaraan Mesir Modern. Takhlish sebuah Karya ajakan kepada umat Islam untuk memandang secara positif pihak lain, jelas Siti Rofiah, Kamis, (16/02/17). Bertempat di gedung M.2 Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo.

Siti Rofiah melanjtkan pembicaraannya, dalam negara dibawah Monarki Konstitusional (Mesir), inilalah salah satu ruang dalam pemikiran Syaikh al-Thahthawi. Meskipun monarki, tetapi masih ada batasan dalam konstitusi. Kebebasan dan gerakan ini bisa dilakukan melalui konstitusi, sehingga bisa dijalankan, asalkan dengan nalar yang sehat. Meskipun konstitusi tidak bersumber dari al-Quran dan Hadis. Ini yang terdapat dalam Al-Baris.

Al-Thahthawi banyak mengutip ijtihadnya Umar Ibnu Khotob dalam mengukuhkan argumen-argumennya, dan pertama kali pemikir bebas wilayah Timur Tengah, Al-Thahthawi yang kemudian memiliki murid berna Muhammad Abduh. Beliau mengutip ucapan Umar Ibnu Khotob untuk menguatkan argumennya dalam ide-ide kebebasan. Inilah ide kebebasan muncul yang petama kali di dunia timur pada Abad awal 19, jelas Dosen Fakultas Syariah Tersebut.

Penjelasan selanjutnya, Manahij dan al-Mursyid, adalah karya yang mengungkapkan bagaimana pentingnya seorang warga negara untuk mencintai negaranya. Karena Al-Thahthawi menyatakatan, tidak akan terwujud kemakmuran sebuah negara kalau tidak dicintai oleh warganya sendiri, inilah seruan hubul wathon (cinta tanah air). Persaudaraan dan kemanusiaan yang akan menjadi dasar terhadap sesama warga negara, dalam konsep wathoniyah. Seperti halnya Indonesia yang diikat oleh rasa kebangsaan, ini yang akan menyatukan. Indonesia adalah negara bangsa, bangsanya bermacam-macam tetapi bersatu. Inilah rangakaian penejelasan saat disampaikan oleh Siti Rofiah ditengah isi pembicaraannya.

Dalam pembahasan feminis, saat menikah, Syaikh al-Thahthawi, meingikrarkan janji, isi janji dalam pernikahannya adalah tidak akan melakukan poligami. Meskipun al-Thahthawi termasuk orang yang mengisi di di pemeritahan, tetapi dia enggan untuk melakukan poligami. Karena orang-orang pemerintahan rata-rata melakukan poligami. Dia melihat relasi antara laki-laki dan perempuan mesir sangat berbeda. Di Prancis, perempuan bependidikan tinggi, bergaul bebas. Berbeda dengan di Mesir memberikan perempuan dengan standar moral yang berbeda, hanya dari pakiannya.

Penduduk Prancis suka menari, dan kebiasaan ini tampaknya sebagai keaakraban, bukan hal yang dianggap fasik (buruk), berbeda dari tarian Mesir yang penarinya hanya kaum perempuan yang tujuannya membangkitkan birahi, Inilah kutipan dari salah satu karyanya, Jelas Rofiah. (j/J)