Sindiran Untuk Mas Yaqin dan Adik-adik Mabanya

0
307
Sumber ilustrasi: arryrahmawan.net
Sumber ilustrasi: arryrahmawan.net

Oleh: Sunandar

“Harapan-harapan yang telah dipupuk, penipuan-penipuan yang paling kejam, akhirnya menimbulkan frustrasi di generasi kemerdekaan ini” (Soe Hok Gie-Zaman Peralihan).

Dear Mas Yaqin yang saya hormati dan saya junjung tinggi. Jujur sebenarnya saya agak merasa nyinyir ketika membaca tulisan Mas Yaqin yang diposting oleh Justisia.com beberapa waktu lalu yang begitu menggebu-gebunya. Seolah-olah bagaikan Mbak Nella Kharisma dengan lagu Jaran Goyang-nya yang dengan hebat meracuni para pendengarnya dengan lirik dan gendang yang aduhainya. Itu versi yang merakyat. Kalau versi anak-anak aktivis kampus, tulisan Mas Yaqin itu sekaliber H.O.S Cokroaminoto yang dijuluki sebagai raja tanpa mahkota, yang mana dengan orasinya dapat menarik beribu-ribu simpatisan yang bersedia mengikutinya atau samikna wa atokna kalau bahasa pesantrennya. Dia juga nampaknya berhasil mendidik Soekarno, Samaoen, dan Kartosoewirjo menjadi seorang murid yang hebat dan bertalenta tinggi.

Ya, itu yang saya rasakan ketika membaca tulisan dari Mas Yaqin. Tapi saya mengingatkan kepada mas, zaman sekarang sudah beda mas. Jauh berbeda dengan zaman dulu. Sekarang zamannya zaman penipuan, hanya sekedar janji-janji saja yang diobral. Lihat di gedung-gedung pemerintahan sana. Ketika mereka sedang mencalonkan diri, mereka obral semua janji-janjinya kepada kita. Nyatanya setelah mereka sudah terpenuhi keinginannya rakyat disingkirkan olehnya. Apalah arti sebuah janji yang kalau tidak janji tidak mungkin jadi. Mungkin begitu mas kira-kira yang ada di pikiran mereka saat itu. Hahah…

Balik lagi ke awal mas, ya memang tulisan Mas Yaqin ini bagus untuk mendobrak gairah semangat adik-adik maba saat ini. Tapi biarlah mereka yang memilih, biarlah mereka yang menjalani hiruk pikuk kehidupan kampus ini. Hidup dengan paksaan itu tidak enak Mas. Negara saja sudah merdeka masak kita masih terbelenggu. Kalau memang itu terjadi mas, berarti kita ini sudah dianggap menjadi mayat meskipun kita ini masih hidup, seperti yang diucap kata Karl Marx. Karena tanpa kita sadari sejak awal tubuh kita sudah dikuasai dan dibelenggu oleh banyak hal, mulai dari negara, agama, pendidikan, budaya, sosial, keluarga, dan lainnya. Kita sebagai pemilik tubuh kita sendiri seolah-olah hanya pasrah menerima keadaan, bukan malah melawan polemik yang ada justru kita malah melanggengkan budaya tersebut. Jadi biarlah mereka memilihnya sendiri mas, tanpa ada bujuk rayu pada mereka yang nantinya akan meninggalkan bekas kekecewaan sepeti halnya masa trauma terhadap mantan.

Dulu sewaktu aku kecil ketika masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK) ibu guru selalu mendorongku untuk bercita-cita menjadi pemuda yang berguna bagi bangsa dan negara. Ternyata setelah ku injakkan kaki di bangku kuliah tidak ada fakultas atau jurusan tentang hal tersebut. Sungguh aku merasa sangat dibohongi saat itu. Apa juga guna kita menjadi aktivis kampus yang setiap saat berdemo dijalanan dan meninggalkan bangku pelajaran di kelas dengan mengatas namakan “suara rakyat kecil perlu kita bela”. Tapi kenyataannya setelah menjabat sebagai wakil rakyat, engkau malah sibuk dengan mengisi perutmu sendiri tanpa mempedulikan suara rakyat kecilmu. Apa juga guna kita yang setiap hari hanya bergumam soal republik seperti halnya Plato, etika sosial dan menyoal pergumunan kelas yang diungkapkan Karl Marx, juga soal agama dan moral seperti halnya Emmanuel Kant dan Schopenhauer, dan lainnya. Juga mempelajari teori-teori lainnya yang membuat mumet bin jelimet itu. Mulai dari era madzhab Frankfurt pertama dari Adorno, Karl Marx, David Hume, hingga teori postmodern semisal Jacques Derrida dan Ronald Barthes. Tapi faktanya hidup ini tak semudah kita memecahkan dan mencari titik temu atau menjawab sebuah pertanyaan dalam forum diskusi. Seolah-olah apa yang selama ini ku pelajari dan diskusikan sia-sia saja. Konflik semakin menjadi-jadi, kemiskinan merajalela, agama hanya berpihak, bahkan negara seolah-olah terinjak-injak martabatnya. Sungguh mengecewakan.

Ditambah lagi biaya kuliah yang tak gratis. Biaya kuliah sekarang tak lagi murah seperti dulu. Tentu mas paham ongkos jadi mahasiswa itu besar dan banyak sekali. Lihat itu di Fakultas Psikologi dan Kesehatan, angkanya mengejutkan. Di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik juga terjadi. Di Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis sama luar biasanya. Bahkan di Fakultas MIPA pun hal yang sama terjadi. Semuanya menuntut bayaran yang tinggi. Maka orang tua tentunya menuntut hal yang sama. Bereskan kuliah secepatnya, karena biaya kuliah yang tambah tahun tambah gila, ujar mereka. Kami sebagai seorang anakpun punya pendapat yang sejalan, biaya kuliah tambah mahal, kuliah yang tekun, patuhi dosen tidak usah banyak tingkah, raih IPK tinggi, dan lulus tepat waktu.

Jadi pesan saya untuk Mas Yaqin yang tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada mas dan juga para adik-adik maba, jadilah diri kalian sendiri. Bebaskan diri kalian dari belenggu-belenggu yang membuat hidup kalian tidak nyaman. Menjadi aktivis ataupun apatis itu tak masalah asalkan kalian juga tetap fokus dengan tujuan awal kalian dating ke kampus ini.
Salam Hangatku untuk Mas Yaqin dari aku Sukijo teman sebangkumu sewaktu TK.