Semua Akan Kembali ke Tanahnya

0
122

Dulu sering dipandang sebelah mata. Kini perlahan menjadi primadona. Kegiatannya tidak hanya sebatas membicarakan harta, tahta, dan wanita. Ia merambah sekat-sekat ekstra karena semangat primordialitas yang sama.

Organisasi daerah itu bukan hanya rujakan saja, seharusnya melakukan gerakan-gerakan di kampus dan daerahnya, tutur salah satu petinggi mahasiswa.

Panggung budaya menjadi bukti bahwa ia ada dan berlipat ganda. Kantong-kantong regenerasi di dapat dari pertanyaan Asal mu darimana ?. Tak perlu banyak cara untuk mengakrabkan sesama anggota. Hanya satu nama daerah asal mana, ia akan ikut berjalan bersama.

28 penampil mengepakkan identitasnya.Semakin luas jangkauanya ke pelosok Indonesia. Semakin beragam pula budaya di depan mata kita. Ada dari Sumatera, Jawa, Madura, Sumbawa, hingga Papua. Semata guna mencari ilmu di tanah Jawa. Kadang-kadang menghirup udara tak sedap di Kota Lumpia. Tak jarang dari mereka memilih sambil bekerja.

Di tanah rantau semua serasa saudara. Membantu saat luka bersyukur saat dihinggapi suka cita. Apapun benderanya, saat daerahnya berduka ia akan bekerjasama. Tak menciptakan tembok sesama putra bangsa. Ia tahu betul bagaimana bersikap dengan orang berlainan bendera. Bukan dengan cara mencaci apalagi menghardik, melainkan bersinergi agar daerahnya lebih baik.

Bentuknya yang dinamis. Beberapa memilih nyaman di birokratis. Ada pula memilih mandiri demi independensi. Selebihnya hanya eksis di media sosial tanpa diketahui oleh pemerintah setempat. Bukan meminta diperhatikan secara finansial, melainkan salah satu kawah candradimuka menggembleng mental primordial tak tergantung pada bantuan plat merah.

Satu per satu bekoloni dari daerah satu ke daerah lainnya. Menyatu dalam forum silaturahmi. Berkerjasama menjalankan organisasi persatuan. Orda sini jadi panitia orda situ menyokong dana. Tak ada permusuhan apalagi prasangka buruk yang berlebihan.

Karena mereka tahu, semua akan kembali ke tanahnya masing-masing (Div. Riset)