Satu Rasa Berjuta Lara

0
221
sumber : pixabay.com

Oleh: Riska Nur Fadila

Justisia.com Senja sore ini tampak tak begitu indah. Langit sedang tak bersahabat untuk bersanding dengan warna jingga. Bahkan matahari-pun malu untuk mengatakan kepada langit sejenak bertahan agar tidak runtuh. Tentu saja rembulan belum bersedia muncul menolong semesta agar tetap terang. Bagaimana mungkin bulan pun muncul, bahkan bintang masih enggan, ia masih terlelap tidur pada waktu istirahatnya.

Masih ada waktu sekian menit untuk mengakhiri sore yang mendung ini di bibir pantai. Namun semua manusia telah berlarian pergi. Mereka tak mau dihadang air yang tak bersahabat. Lain dengan dua sejoli yang duduk di batu besar tepi pantai dengan pasir putihnya ini. Bahkan mereka baru saja datang. Dengan sang wanita yang menampakan wajah ceria, sedangkan sang lelaki tersenyum namun terlihat menyimpan banyak hal dalam benaknya.

“Kinan, kau tau? Apa yang membuatku membawamu ke tempat ini?” ucap Ilham, dengan menggenggam tangan wanitanya erat-erat.

Wanita yang dipanggil Kinan itu diam sejenak, lantas mulai berbicara. “Aku jelas tau Ham. Bagaimana mugkin aku lupa”. Ia tertawa kecil, dan amat terlihat bahagia.

“Ini tempat pertama kali kau mengungkapkan isi hatimu bukan? Kau yang masih cupu, dekil, dan hey jangan lupa, kau masih jadi pengangguran waktu itu. Tapi lihatlah Ilham yang sekarang? Wah, bukan seperti Ilham anak pantai yang dulu. Kau sekarang tampan, gagah, dan… kau kini ada bersamaku.” Kinan tersenyum, lalu mengarahkan pandangannya ke arah pantai.

Mereka berdua lantas bercengkrama. Tak menghiraukan bahwa langit sebentar lagi akan menurunkan hujan untuk bumi. Mungkin, mereka berdua menganggap turunnya hujan nanti bagai taburan bunga saat pelaminan. Bagaimana tidak mereka sebahagia itu. Pasangan yang sudah menjalin hubungan 5 tahun itu, telah menahan rindunya lama sekali.

Mereka tak betemu, lantaran Ilham yang pertugas di luar pulau. Ya, Ilham sekarang menjadi Polisi. Seorang lelaki yang dulunya diremehkan banyak orang karena dirinya yang menganggur, dirinya yang dianggap mengejar-ngejar Kinan, dirinya yang banting tulang hingga pernah menjadi nelayan, menjadi tukang angkat junjung barang-barang di Pasar, menjadi penjual makanan, menjadi apapun agar dapat membahagiakan Kinan.

Dan yang terpenting, semua Ilham lakukan dengan dorongan semangat sang wanitanya. Kinan.

Dan kini lihatlah, wajahnya semakin tampan. Badannya sehat berisi, tak seperti dulu, yang hitam kecil. Ia bahkan memakai seragam kesayangnnya semata-mata hanya untuk diperlihatkan pada sang wanitanya.

Sekarang, Ia banyak disegani warga sekitar. Tak hanya itu, gadis-gadis pantaipun banyak yang mengajaknya berkunjung ke rumah ketika Ilham baru saja sampai kemarin.

“Tuhan sayang padamu Kinan. Dikabulkan doamu agar aku mendapat pekerjaan yang layak. Dikabulkan doamu, agar aku dapat kembali memelukmu. Dan Tuhan-pun sayang padaku. Aku dapat kembali berada disampingmu dengan kau sekarang yang makin terlihat cantik”. Kalimat Ilham terakhir membuat Kinan tersipu malu. Lalu ia sandarkan kepalanya pada bahu Ilham.

Sungguh, sepertinya mereka benar-benar tak merasakan sedang terjadi apa pada sore itu. Angin yang cukup besar menyibak-nyibakan rambut Kinan yang panjang lurus sepunggung. Bahkan baju kurung yang dikenakan Kinan sesekali bergoyang-goyang karena longgar. Tak selang beberpa menit, tangan yang tadinya berada di genggaman Ilham, dengan perlahan Ia lepaskan. Lalu ia seperti mempersiapkan untuk berbicara.

“Kinan”. Ilham mengatakan sedikit lirih.

“Kau benar, bahwa tempat ini adalah tempat kenangan kita. Tempat dimana aku pertam kali mengungkapkan perasaanku, tempat dimana kamu bahagia karena aku diterima menjadi Polisi, tempat dimana kamu menangis ketika aku pergi bertugas.”

Kinan menimpali dengan cepat, tempat ini juga menjadi tempatku menyendiri ketika merindukanmu, kau tahu.

Ilham tersenyum, lantas melanjutkan perkataannya kembali.

“Ah iya itu. Kau selalu suka menyendiri. Tapi Kinan…” Ilham diam, lalu Kinan agak menoleh kewajah Ilham, mengisyaratkan agar Ilham melanjutkan kalimatnya.

“Kau salah Kinan. Aku membawamu kesini hari ini bukan karena itu semua. Tapi masih ada kaitannya dengan itu semua. Aku.. aku”. Ilham terlihat ragu-ragu melanjutkan kalimatnya sedangkan Kinan masih senyum-senyum sendiri.

“Aku memulai sesuatu disini, dan aku ingin pula mengakhiri sesuatu disini. Yaitu… hubungan kita” spontan Kinan langsung duduk dengan posisi tegap dan dengan wajah yang kaget tanpa aba-aba, tak lupa matanya yang indah kini dalam bentuk yang melotot tajam.

“Maksudmu apa Ham? Kau sedang bercandakah? Aku sedang tidak ulang tahun hari ini. Hari ini bahkan bukan tanggal jadian kita. Kau kenapa Ham? Kau seriuskah? Hammmm?” kata terakhir Kinan ucapkan dengan sedikit keras. Dan memasang wajah yang meminta penjelasan.

Bagaimana mungkin Ia meminta menyudahi sesuatu dengan tiba-tiba yang dianggap Kinan adalah hal yang tak biasa dan mungkin bisa membuat gila. Ataukah mungkin karna hari ini akan turun hujan dan mungkin akan ada badai pula, jadi semua terjadi tiba-tiba.

Ilham diam, tak bersuara. Bahkan ia pasrah ketika badannya dihantam berkali-kali oleh kepalan mungil tangan Kinan.

“Aku akan menikah dengan perempuan ini” Ilham menyodorkan selembar foto dengan ragu-ragu ketangan Kinan. Lalu dengan cepat Kinan menggapainya.

Ia tersentak. Bagaimana tidak. Perempuan difoto itu sangat-sangat Kinan kenal. Iya, dia seorang wanita yang pernah Kinan hadiri acara pernikahanya dua tahun silam bersama Ilham. Lalu, apa maksudnya Ilham ingin menikahinya? Dia ingin mengumpulkan banyak suami? Atau bagaimana? Banyak sekali pertanyaan-pertanyakan yang spontan muncul di kepala Kinan.

“Ia sudah cerai dengan suaminya, nan. Ia sudah punya anak satu dan masih kecil. Kasihan dia tidak memiliki Ayah. Dan dia sekarang bekerja bersamaku. Dia yang merawatku disana ketika aku sakit. Dia yang kadang pula memasakan masakan untukku. Dia bahkan..”

Dia bahkan tidur di rumah dinasmu? Seperti itu maksudmu? Atau bahkan kalian sudah sering kali tidur bersama. Kau bukan Nabi Muhamad Ham, yang menikahi seorang janda karena kasian. Kau bahkan sepengecut itu. Aku baru tahu. Kinan langsung memotong perkataan Ilham dengan cepat.

“Dan kau bilang apa tadi? Tuhan sayang padaku? Tuhan mengabulkan doa-doaku. Omongan macam apa itu. Bahkan kau sendiri sudah merencanakan ini. Bagaimana kau tidak punya malu mengatakan itu semua?”

Dengan hitungan detik, akhirnya tetes demi tetes ait hujan mengguyur mereka berdua. Namun mereka berdua masih bertahan di tepi pantai. Kinan dengan sangat cepat menysul mengeluarkan air mata. Dan dengan sangat cepat pula Ilham memeluk Kinan. Percuma, Kinan tak bisa menolaknya, karena Ilham dengan sangat erat memeluknya.

“Hujan tau kesedihanmu. Dan ketika kau selalu berkata bahwa kau menyukai senja. Itu tak selalu benar. Ia bahkan hari ini tak ada bersamamu ketika sedihmu. Yang ada siapa hari ini? Hujan bukan?” Ilham mulai berkata persis ditelinga Kinan, dengan Kinan yang masih sesenggukan menangis.

“Sama halnya dengan aku. Kau selalu mengatakan bahwa kau selalu menyukaiku. Dan itu tak selalu benar”.

“Aku bahkan mulai hari ini tak bersedia lagi menampung sedihmu. Aku sama seperti senja. Indah, tapi mungkin hanya sesaat”.

“Aku kini menganggapmu sebagai hujan pula. Ketika kau dipandang begitu menenangkan. Tapi tak ada kata lain, selain harus menghindarimu agar tak basah. Aku harus segera meninggalkanmu, bahkan seorang lelaki tak seharusnya seperti ini, pergi dengan membawa hati, namun ketika kembali ia dengan rasa tak bersalah membawa banyak hati. Bukan ia menyingkirkan hati yang baru, tetapi ia justru membuang dengan mudah hati yang telah lama. Mungkin kau pikir hati ini telah usang. Tapi kau salah. Bahkan ketika kau sebegitu jahatnya kepadaku saat ini, hati dan perasaanku masih tetap sama seperti dulu. Tapi aku tak bodoh, kau camkan itu” Kinan dengan melepas badannya dari pelukan Ilham. Lantas ia dengan berat hati membalikan badannya dan berlalu pergi meninggalkan Ilham yang berdiri tak tak dapat melakukan apapun lagi

SHARE
Previous articleElegi Untuk Negeriku
Next articleAda Getuk?