Santri sebagai Pagar Penjaga NKRI

0
115

Oleh: Adila Nafiatul Rafi’an

Keunikan bangsa Indonesia adalah kepandaiannya dalam mengemukakan sesuatu yang berbeda menjadi serupa, demikian kata Cifford Geertz. Indonesia adalah negara keberagaman yang memiliki berbagai macam suku, agama, ras, golongan tetapi tetap bersatu di dalam Bhinekka Tunggal Ika. Tanah air nusantara yang kaya ini menuntut untuk terus dipertahankan dengan nama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Indonesia yang kita lihat sekarang seperti segerombolan kucing yang saling berebut makanan lezat. Tiap golongan mempertahankan egonya demi memenuhi dahaga kekuasaan yang ingin diraihnya. Orang pintar tak punya etika, orang sopan dianggap tak bisa apa-apa. Indonesia perlu orang pintar yang ber-etika dan mampu memahami makna kesatuan negara untuk menjaga keutuhan NKRI.

Santri dan negara merupakan dua unsur yang menyatu, santri ada untuk Indonesia dan Indonesia ada untuk dijaga. “Hubbul Wathon minal Iman”, cinta tanah air sebagian dari iman. Kalimat ini yang kemudian melahirkan semangat untuk terus mempertahankan Indonesia sebagai negara kesatuan. Kecintaan ini tidak serta merta melahirkan patriotisme yang hireraki dan anarkis, tetapi lebih pada merawat kesatuan negara dengan kedamaian.

Perbedaan memicu konflik sosial yang muncul ketika ada ketimpangan dalam berinteraksi, perbedaan pendapat, merasa dirugikan dan sebagainya. Jika persoalan tersebut tidak dilakukan dialog untuk menyelaraskan persoalan, maka persepsi negatif salah satu pihak pun akan terus ada. Bahkan tindak kekerasan menjadi jalan pintas penyelesaiannya. Keadaan yang menuntut islam dalam mengusung misi perdamaian, mendamaikan ketimpangan dengan konsep damai (al-shulhu khair) dan rahmatan lil alamin.

Islam yang dibawa oleh Rasulullah mengajarkan atas perdamaian bukan kekerasan, seperti ungkapan Mahatma Gandhi “Pernah saya bertanya- tanya siapakah tohok yang paling mempengaruhi manusia? Saya lebih dari yakin bukan pedanglah yang memberikan kebesaran pada Islam pada masanya. Tapi ia datang dari kesederhanaan, kebersahajaan, kehati-hatian Muhammad, serta pengabdian luar biasa kepada teman dan pengikutnya, tekadnya, keberaniaannya, serta keyakinannya pada Tuhan dan tugasnya”.

Inti dari segala inti agama adalah perdamaian, dan puncak dari beragama adalah kemanusiaan. Subjek dari pembuat perdamaian adalah manusia sendiri. Islam disebut-sebut sebagai agama yang keras, ini terjadi karena banyaknya kasus kekerasan mengatasnamakan agama, dengan dalih jihad di jalan Allah. Namun, kemudian berkembangnya zaman turut andil dalam inovasi bentuk kekerasan atas nama agama tersebut. Bukan hanya kekerasan fisik saja, tetapi kekerasan moral.

Kekerasan moral terjadi dengan dilakukannya praktek monopoli pikiran manusia. Perkembangan teknologi yang semakin digemari manusia menjadikan manusia cenderung melihat sesuatu yang instan, seperti contohnya sosial media. Banyak hal yang disebarkan melalui media sosia, berupa tulisan, foto, suara, video. Dimana golongan- golongan tertentu memanfaatkan peluang tersebut untuk menarik perhatian dan pendukung dengan dalih kemaslahatan umat manusia.

Santri merupakan salah satu generasi penerus bangsa, dengan bekal ilmu yang telah diperoleh selama belajar, menjaga kesatuan NKRI menjadi tugas yang harus diembannya. Bukan dengan membalas baku hantam, aksi teroris dan pertumpahan darah, tetapi menyampaikan dakwah yang damai. Memberantas hoaks atas nama agama, berperan aktif dalam media sosial untuk meluruskan prasangka buruk yang dibuat beberapa golongan dengan berlandaskan islam cinta damai, islam nusantara.

Menulis, menjadi salah satu cara bagi santri untuk merawat kesatuan Indonesia, dengan menulis hal- hal baik serta menyaluran ilmu yang dapat bermanfaat untuk semua orang. Merawat NKRI bukan hanya tentang pertikaian agama, seperti konflik sosial, politik, ekonomi dan moral juga harus menjadi sorotan penting untuk diatasi. Korupsi yang tak kunjung reda, perebutan kekuasaan, perekonomian bebas dan moral yang tak lagi diperhatikan.

Seorang santri diajarkan tentang agama yang mendalam, tetapi juga tidak melupakan keadaan sekitar. Intinya, seorang santri belajar bagaimana menjalankan perintah Allah dan juga hubungannya terhadap manusia dan lingkungan. Bukan hanya tentang akhirat saja, tetapi kemaslahatan umat di dunia juga perlu dijaga. Harapan yang selalu ada adalah Indoensia dipimpin oleh orang- orang yang pintar dan ber-etika serta mampu menjaga kesatuan Indonesia, menjaga kemaslahatan umat dan tetap berada di jalan lurus, jalan yang Allah ridhoi. Terbayangkan etapa indah dan damainya tanah pertiwi ini.

Agama dan iman yang terbuka adalah mawar di dalam hati manusia yang tidak pernah layu. Hubungan terkuat antara individu-individu yang membentuk keluarga, masyarakat dan bangsa adalah cinta. Sebaliknya keluarga, masyarakat dan bangsa akan hancur apabila tanpa cinta, Fethullah Gullen.

Tetap bersatulah negeriku tercinta, Indonesia. NKRI harga mati.