Revitalisasi Ukhwah Antar Umat Beragama

0
190
Simbol keragaman berupa tangan warna-warni ( gambar : islamlib.com)
Simbol keragaman berupa tangan warna-warni ( gambar : islamlib.com)

Oleh : SALWA

Problem mengenai perbedaan aliran kian rumit dikalangan umat Islam. Permasalahan tersebut dipicu adanya perbedaan dalam ritual ibadah. Faktor utama dari kompleksnya perselisihan tersebut yakni perbedaan dalam menafsirkan al-Quran maupun Hadits. Beberapa tahun sepeninggal rasulullah SAW berbagai macam aliran muncul akibat perseteruan politik antara khalifah Ali dan Muawiyyah.

Seiring berjalannya dinasti pemerintahan sepeninggal rasulullah, jumlah aliran dalam Islam makin meningkat. Perseteruan dalam dunia politiklah penyebab dari munculnya aliran-aliran. Perbedaan ini kian mencolok seiring berjalannya waktu. Runtuhnya dinasti pemerintahan dalam Islam dan lenyapnya abad kejayaan Islam, mendorong eksistensi tiap aliran. Keeksistensian inilah yang akhirnya membuat demarkasi benang merah antar aliran.

Perbedaan yang memperuncing hubungan antarumat Islam sehingga menuju pada titik perpecahan. Padahal perbedaan ini telah disinggung sendiri oleh Nabi Muhammad dengan sabdanya bahwa umat Islam akan terbagi dalam 73 golongan. Namun akhir-akhir ini, perbedaan tersebut yang menjadi latar belakang retaknya Ukhwah Islamiyyah.

Jika mengengok Aswaja misalnya menganjurkan umatnya untuk mengikuti salah satu dari empat madzhab dalam kajian fiqih, dan salah satu dari dua tokoh dalam bidang teologi (ilmu kalam). Disini dapat diketahui, bahwa terjadi perbedaan dalam satu aliran dengan kondisi ini masih mendatangkan perselisihan.

Bahkan, dalam satu keluargapun terdiri dari berbagai pemikiran dan prinsip yang berbeda. Nah jikalau seperti itu perbedaan antar aliran kian memeberikan perselisihan yang tajam. Lalu bagaimana dengan berlakunya ukhwah Islamiyyah?

Merahmatkan Ukhwah Islamiyah

Istilah ukhwah Islamiyyah (persatuan umat Islam) telah digadang-gadang para ulama sejak dulu. Para ulama tidak mengingkari adanya perbedaan ini dan memperjuangkan persatuan umat. Nilai filosofis perbedaan adalah rahmat yang akan dirasakan sejalan dengan munculnya rasa toleransi, serta kesadaran bahwa manusia merupakan makhluk sosial (zoon politicon).

Rahmat makin dirasakan senada bahwa manusia saling bergantungan meskipun berbeda ras, kulit, suku, dan lainnya. Keragaman ini seharusnya membangun integrasi yang kuat dikalangan umat Islam. Tak bisa dipungkiri bahwa umat Islam di Indonesia merupakan mayoritas dari 220 juta penduduk. Kekuatan sebesar ini tak layak untuk disia-siakan hanya karena perbedaan pola pikir dan ego dari tiap golongan.

Persatuan ini sangat dibutuhkan untuk menjalin tali silaturrahim yang baik tiap individu. Nabi sendiri bersabda bahwa seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Sehingga disini tidak mengenal siapa yang lebih hebat, lebih kuat, paling benar dan sebagainya.

Tak bisa di elakkan, bahwa dewasa ini perselisihan akibat perbedaan golongan sangat tajam. Bahkan antarumat Islam saling berani menuduh kafir. Mereka sangat fanatik dengan golongannya sendiri dan melupakan ukhwah. Entah apa yang melatar belakangi itu semua umat Islam sepertinya telah melupakan Islam sebagai rahmatan lil alamin.

Kebenaran telah diklaim oleh maasing-masing pihak, dan lainnya salah. Padahal tokoh Islam kontemporer sendiripun menandaskan pemikirannya bahwa Islam merupakan agama anti penindasan dan al-Quran telah mengajarkan itu semua. Namun karena keegoisan masing-masing pihak timbullah penindasan yang berjung pada perpecahan. Inilah yang terjadi pada umat Islam saat ini.

Sikap-sikap demikian haruslah dibinasakan. Perbedaan cara pandang tak semestinya dijadikan faktor utama perselisihan. Allah SWT berfirman dalam QS Al Hujurat ayat 13 yang artinya:

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Ayat diatas secara jelas menjelaskan bahwa orang yang paling mulia disisi Allah ialah yang paling bertakwa. Seharusnya dalil ini dapat digunakan muhasabah umat Islam agar meningkatkan ketaqwaannya melalui ajaran dari alirannya masing-masing, bukan menyalahkan dan membenarkan golongannya sendiri. Allah SWT menekankan kepada hambanya untuk bertakwa, saling tolong menolong dalam kebaikan.

Namun yang terjadi saat ini runcingnya perselisihan karena mengklaim kebenaran dari kelompoknya bukan menegakkan kebenaran.

Tiap-tiap umat Islam juga diharapkan untuk saling bermuhasabah untuk menghindari kesombongan dan rasa ujub. Berikanlah kebebasan kepada tiap golongan untuk menjalankan ajaran yang diyakininya, tak perlu menghakimi dan mengadili.

Kebenaran yang hakiki hanyalah milik Allah, dan sebagai hambanya tugas penting manusia adalah meningkatkan ketaqwaan dan keimanan dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah. Wallahu alam bish showab. (FA/SA)