Rekontruksi Hukum Masa Iddah untuk Laki-Laki (Bag-2)

0
138
dok. wiccan-love-spells.com

Berbicara mengenai sejarah iddah maka tidak lepas dari masa pra Islam (Jahiliyyah). Pada masa tersebut institusi pernikahan sangat disegani dan bahkan kedudukan suami sangat dikultuskan perempuan (istri). Pengkultusan ini tetap dilakukan tatkala suaminya meninggal dunia. Bagi seorang istri yang ditinggal suami ia harus menunjukkan kesedihannya dengan cara mengurung diri disebuah ruang kecil (kamar), serta menggunakan baju paling jelek berwarna hitam.

Disamping itu terdapat beberapa larangan bagi dirinya seperti berhias, memakai wangi-wangian, memotong rambut serta menampakkan diri di hadapan khalayak. Larangan ini harus dipatuhi selama satu tahun, setelah itu perempuan tadi berhak keluar dengan dilempari kotoran binatang. Mereka juga harus menunggu dipinggir-pinggir jalan untuk membuang kotoran ke anjing yang lalu lalang. Demikianlah cara bagi masyarakat jahiliyyah untuk menghormati hak-hak suami.[1]

Beberapa hikmah disyariatkannya iddah bagi seorang perempuan menurut beberapa ulama ialah pembersihan Rahim, kesempatan untuk berfikir, kesempatan untuk berduka cita, kesempatan untuk rujuk. Salah satu hikmah yang paling kuat terhadap pensyariatan iddah bagi perempuan ini adalah pembersihan Rahim.

Argument tersebut selalu dipertahankan mengingat berkaitan dengan penentuan nasab anak terhadap ayah kandungannya. Seperti halnya dalam kitab uqudullujain yang menjelaskan kelebihan terhadap laki-laki atas perempuan ialah disandarkannya nasab terhadap laki-laki. Sehingga dalam hal ini, untuk menjaga kejelasan nasab maka harus dipastikan kebersihan Rahim itu sendiri.

Menurut para ulama salaf iddah bagi perempuan memang diwajibkan sebagaimana ketentuan dari Al-Quran maupun hadis. Al-Quran dan hadits merupakan dua sumber pokok dalam penggalian hukum. Maka dari itu empat Imam madzhab mewajibkan adanya iddah bagi perempuan baik yang di talak, fasakh, maupun khulu. Iddah ini ditegaskan kepada perempuan untuk tidak melangsungkan pernikahan lagi setelah berpisah dengan suaminya. Pun mereka harus menahan diri dan menunggu hingga waktu yang tepat.

Iddah sebagaimana yang telah diungkapkan diatas merupakan salah satu kajian dalam fikih munakahat. Fikih disini adalah hasil olah pikir (ijtihad) dari para mujtahid dengan menggali hukum Islam untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan di masyarakat melalui pemahaman terhadap teks-teks keagamaan. Redaksi yang semakin memperkuat bagi para ulama untuk mewajibkan iddah bagi perempuan diantaranya dalam hadits nabi Muhammad SAW Artinya: Itulah iddah yang diperintahkan Allah kepada perempuan-perempuan

Menilik terhadap historis iddah bagi perempuan maka tak lepas dari asbabun nuzul terhadap turunnya ayat iddah ini. Berdasarkan sejarah pra Islam, iddah sudah diberlakukan bagi perempuan yang pisah dengan suaminya. Adapun setelah Islam datang legitimasi dari Al-Quran memberikan pembatasan terhadap lamanya waktu iddah agar perempuan tidak cenderung terkekang dan terdiskriminasi dari masyarakatnya.

Dalam Tafsir Zhilalil Quran pun telah menjelaskan bahwasannya tidak boleh dilipat gandakan penderitaan tersebut. Semenjak kehilangan (kematian) suaminya tak boleh keluarga memperlakukannya dengan sewenang-wenang dan menutup jalan bagi ia mendapatkan kehidupan yang terhormat, hal tersebut hanya akan menambah penderitaannya. Perbedaan pendapat para ulama dalam menafsirkan ayat Al-Quran tentang iddah tak lain untuk menjujung derajat perempuan serta menjaga dirinya dari fitnah.

Sayangnya penafsiran yang mengkhususkan perempuan saja yang memiliki iddah menimbulkan ketimpangan antara laki-laki dengan perempuan (Salwa/Red: Syaifur)

[1] http://etheses.uin-malang.ac.id/7112/1/06210081.pdf