Question

0
409
sumber ilustrasi: 2.bp.blogspot.com

By: Audreana Ivy

Masih tercetak jelas dibenak gadis itu, segala sesuatu yang membuatnya teromban-ambing, kisahnya terlalu menyedihkan, mungkin. Ada pula yang mengatakan kisah nya layaknya sebuah drama.

Apakah ini sebuah kisah roman picisan?

Hmmmm mungkin saja, tapi entahlah. Kalian bisa menilainya sendiri. Ketika sebuah ketulusan, kesetiaan, dan cinta dihancur leburkan, dibuang dan disia-siakan. Bahkan, mungkin Aphrodite akan menangis tersedu sedan ketika mengetahui ada manusia sekejam itu pada cinta. Wah, ingin sekali aku melihat nya seperti itu, mungkin Ares akan segera membinasakan manusia itu karena membuat wanita nya menangis tersedu. Itu akan menjadi tontonan yang menyenangkan untukku.

Nah, dan yang akan berkisah adalah aku sendiri, perkenalkan sebelumnya aku adalah Ivory. Aku adalah seorang dewa kematian. Terserah kalian ingin percaya atau tidak itu hak kalian, aku hanya ingin berbagi kisahku kepada kalian, jangan tersinggung ini kisah tentang salah satu perilaku kalian yang rendah dan kejam itu. Tidak ada bedanya antara kalian dan aku, kita sama sama kejam.

Beberapa waktu yang lalu aku baru saja menjemput jiwa seorang gadis. Dia adalah gadis yang ceria, baik, dan ramah. Ku akui dia hanyalah gadis biasa yang biasa saja, tidak berparas rupawan layaknya Pershephone dan Hestia atau manusia yang lainnya.

Sebelum hari kematian jiwa yang akan ku jemput datang, aku memang sering menonton sedikit kisah keseharian mereka dan menentukan seperti apa nantinya mereka akan ku jemput. Dan selama beberapa hari aku juga mengamati gadis itu, gadis yang bernama Evelyn atau kerap di panggil Eve. Begitulah orang-orang disekitar nya memanggilnya.

Dia adalah gadis berambut coklat terang panjang hingga menutupi pinggang rampingnya, maniknya berwarna senada dengan rambutnya. Berkulit tan, tidak ada yang spesial dengan parasnya, seperti kataku tadi.

Evelyn mengidap suatu penyakit serius yang bahkan aku tidak tau bagaimana menjelaskannya pada kalian, anggap saja ini privasi jiwa yang ku jemput sendiri. Dia gadis multitalenta, kenapa aku tau hal ini? Tentu saja aku mengetahuinya, aku melihat berbagai piagam dan piala berjajar rapi diatas rak tempat tidur.

Apa aku menguntitnya hingga ke dalam rumah dan kamarnya?

Jawabannya adalah ya, hei ini pekerjaan ku oke? Jangan berfikir macam-macam. Seperti Eros.

Jadi , gadis ini mencintai seorang pria, dia sangat mencintai nya hingga memberikan ketulusan dan kesetiaan yang dimilikinya. Namun, tidak seperti yang kalian pikir, pria ini kerap kali menyakiti hati Eve. Yang membuatku ingin memenggal kepala pria ini adalah pria ini tidak pernah sekalipun merasa bersalah. Entah, gadis bermanik coklat almond ini yang terlalu bodoh atau bagaimana, dia masih saja tetap disisinya. Memberikan kasih sayang, dan kesabaran menghadapi pria bajingan ini.

Ah, apa kata-kata ku terlalu kasar? Tidak perlu terkejut, aku memang terkenal berlidah tajam dan kejam.

Pernah ketika gadis ini tengah terbujur di rumah sakit, pria itu justru bersenang-senang dengan gadis lain yang menjabat sahabat nya, dia berbohong pada Eve jika dia tidak bisa datang menjenguknya karena sibuk dengan pekerjaannya. Eve mengetahui segalanya dan hanya tersenyum dengan deraian air mata dalam pelukan sang bunda. Memendam segalanya sendiri, hanya menggeleng ketika ditanya ada apa dengannya. Menutupi segalanya dengan baik, dan rapi.

Aku begitu takjub dengan ketegaran gadis ini karena tetap memilih di sisi pria itu. Rasa kecewa, amarah, benci, kesal terkalahkan dengan besarnya kasih sayang Eve.

Apa semua pria monomer satukan paras dan harta?

Tidak hanya itu pria ini kerap kali menyakiti Eve dengan ucapannya, aku bahkan bingung bagaimana bisa itu bisa dikatakan sebagai rasa sayang?.

Jika kalian ingin tau aku kerap kali bertanya-tanya, sebenarnya bagaimana sepasang kekasih itu? Bukankah sepasang keksih kerap bertukar kabar? Memperhatikan satu sama lain?

Bahkan, aku pernah ketika mengamati salah satu jiwa, dia kerap kali berbicara di telfon dengan kekasihnya. Bertukar pesan dimana pun mereka, saling mencari kabar, dan memberi perhatian.

 

Namun, yang terjadi pada Eve tidak begitu. Gadis itu lebih sering menatap ponselnya sendu dan melihat nama pria itu tertera di layar ponsel. Terkadang juga Eve hanya melihat beberapa foto-foto si pria dengan gadis lain yang diunggah di media sosial.

Ah , aku tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya Eve melihat nya?

Pernah sekali Eve meminta pria itu menjaga perasaannya, namun si pria menjawab dengan ketus dan kata-kata yang menyakitkan. Aku masih ingat melihat Eve menangis ditengah malam dalam gelapnya kamar, ketika dunia tertidur deraian air matanya mengalir deras. Mencoba meredakan nyeri di hatinya.

Kala itu aku memandangnya dari sudut kamar melihat sosok itu yang tampak sangat rapuh, bahkan aku yang hanya orang asing merasa marah karena perlakuan pria itu. Aku berjalan mendekat mencoba mencari tau,apa sebabnya dia menangis dan menjadi serapuh ini.

Saat itu dia meringkuk dibawah selimut, tubuhnya bergetar hebat karena tangis. Aku dapat melihat ponselnya yang tengah menyala terjatuh dari atas tempat tidur. Tanpa pikir panjang aku langsung menyambar ponsel itu, kini aku paham mengapa dia menangis.

Sebuah foto seorang pria yang tak lain adalah kekasih Eve tengah merangkul mesra gadis berambut sebahu berbody bak gitar spanyol, gadis itu adalah sahabat sang pria. Kemudian aku tanpa sengaja melihat pesan keduanya , di pesan itu sang pria berkata bahwa mereka tidak memiliki hubungan apapun, dia hanya ingin berfoto dengan gadis itu.

Dasar brengsek, gadis mana yang tidak sakit hati melihat ini., apa kalian setuju denganku?

Apa setiap pria selalu menyia-nyiakan gadis yang berusaha bertahan disisi kalian?

Apakah salah menjaga perasaan gadis kalian?

Salahkah berusaha tetap di sisi kalian?

Hari sebelum aku menjemput Eve hampir tiba, Eve tetap berusaha seperti biasanya . dia memberikan perhatian pada si pria, mencurahkan kasih sayangnya pada si pria meskipun si pria masih saja menyakiti Eve. Gadis itu mulai terbuka kepada orang-orang, dia mulai mencurahkan kisah nya, mungkin karena beban yang terlalu berat membuatnya tak tahan memendamnya sendiri. Gadis itu sudah diambang batasnya. Sebenarnya, mereka berulang kali meminta gadis itu melepaskan pria itu. Kalian tau apa jawaban Eve?

“Lebih baik aku yang dilepaskan dari pada aku yang harus melepaskan.”

Betapa kerasnya perjuangan gadis itu agar dapat bertahan di sisi pria itu, pria yang bahkan tidak pernah memperhatikannya, memperdulikannya, tidak menganggapnya,dan kerap kali menyakitinya.

Hari itu aku menemui gadis itu, Evelyn kembali terbaring di ranjang rumah sakit. Rambutnya tak lagi sepanjang beberapa saat yang lalu. matanya sendu menatap ke arah luar jendela. Memperhatikan dedaunan berwarna jingga yang tengah berguguran. Aku telah menentukan dengan cara apa aku akan menjemput gadis itu.

Aku melangkah mendekat rambut panjang nan legam ku yang hampir mencapai lantai berayun mengikuti langkahku. Jubah hitam ku terseret ketika aku berjalan, kulepaskan tudung ku memperlihatkan paras dingin namun rupawanku. Eve yang menyadari kehadiranku menolehkan kepalanya, senyum manis terukir di parasnya.

“Cantik nya,” begitu ucapnya.

Aku tersenyum dingin memberitahukan siapa aku, apa tujuanku. Eve mengangguk mengerti masih sembari tersenyum. Seakan dia sudah tau saat ini akan tiba. Tanpa kuduga-duga dia mengajukan kepada ku sebuah permintaan.

Hei aku bukan ibu peri, tapi ah yah sudahlah aku hanya mengangguk menyetujuinya.

Kalian tau apa permintaannya?

Dia meminta bisakah dia bertemu dengan pria itu untuk terakhir kali, meminta sebuah pelukan terakhir kalinya, dan mengucapkan kata perpisahan, dia hanya ingin melihat wajah si pria yang tak lagi menemui nya.

Aku mengambil beberapa langkah mundur., perlahan ku tutup manik sapphire ku. Sosokku diselubungi kabut berkilauan kemudian berubah menjadi sesosok pria berambut legam, tinggi. Ya, aku merubah sosokku menjadi pria itu. Berjalan mendekat dan mengulurkan tanganku mengajak gadis yang tengah berkaca-kaca. Kami sekarang berhadapan dan aku mulai memeluk gadis itu. Dia terisak di pelukanku padahal dia tau aku bukan pria itu. Sungguh ini menyayat hatiku.

Tak lama dia mulai tenang dan membalas pelukanku, kemudian berbisik aku mencintaimu, sampai jumpa dan terima kasih. Aku hanya mengangguk, setelah itu sosok kami menghilang perlahan.

Dan tugasku telah selesai.

Aku tidak tau bagaimana keadaan pria itu apakah dia menyesal atau tidak, itu bukan urusanku. Namun, aku jamin dia akan menyesal. Oh, dan tepat sebelum aku menjemput Eve gadis itu telah menyiapkan sepucuk surat yang aku tau ditunjukkan untuk pria itu.

 

Haruskah kalian sadar ketika seseorang itu telah menghilang dari hidup kalian?

Kalian mencaci maki tidak lagi ada gadis yang tulus dan setia. Namun ketika ada gadis sebaik dan setulus Eve mengapa kalian sia-siakan dan sakiti?

Apa semua pria senang melihat gadisnya hancur?

Apa mau kalian?

 

Regards

The devil from the heavens