Polemik Rokok: Pro Bersorak, Maaf untuk Kontra!

0
133

Oleh: Harlianor

Eksistensi rokok memang menjadi kontroversial bahkan ketika terjadi di awal-awal kemunculannya. Hingga kini, rokok dianggap sebagai benda yang membawa dampak negatif terhadap kesehatan sampai-sampai di bungkusnya terdapat tulisan serta gambar yang terlihat begitu mengerikan. Padahal jika kita mau menyisihkan waktu sejenak untuk mengintip data Bea dan Cukai Kementrian Keuangan, 90 persennya penerimaan cukai berasal dari Industri Hasil Tembakau (IHT). Dari dari sini, pendapatan negara pada APBN 2017 mencapai Rp. 149, 9 Triliun. Ini bahkan setara dengan 10 persen target pendapatan pajak yang ditaksir di tahun 2017. Berkontribusi besar malahan dinilai negatif. Sungguh malang sekali nasibmu, rokok!.

Seperti yang ditulis oleh Syaikh Ihsan Jampes dalam kitab Irsyad al-Ikhwan fi Bayan al-Hukm al-Qahwah wa ad-Dukhan yang diterjemahkan oleh Ali Murtadho dan Mahbub Dje, ia menukil dari kitab tuhfah al-ikhwan bahwasanya tembakau (at-tabghu) pada mulanya merupakan tanaman lokal dari daerah yang bernama Tobago-Negeri di wilayah Meksiko, Amerika Utara. Ketika pendudukan Amerika, orang-orang Eropa datang berbondong-bondong untuk singgah dan mendiami wilayah tersebut. Dari sinilah terjadi interaksi antara orang Eropa dan penduduk asli Amerika sehingga mereka mengetahui tradisi dan adat istiadat penduduk asli termasuk dalam hal merokok. Ketertarikan terhadap tradisi merokok ini kemudian menginisiasi mereka untuk membawa bibit-bibit tembakau ke wilayah Eropa.

Akan tetapi tanaman tembakau tersebar secara lebih masif ketika Yohana Pailot yang berasal dari Vunisia mengunjungi Raja Alburqanal dari Panama, Amerika pada tahun 1560 M. Kemungkinan besar ia membawa tanaman tersebut ke daerah Vunisia sehingga tak berapa lama, tembakau sudah tersebar di daerah tersebut. Kemudian dari sini, tanaman tersebut terus dikembangbiakkan oleh seorang Rahib Vunisia yang bernama Vuses Lorenz hingga ke negeri-negeri Eropa. Sejak saat itu, tembakau menjadi tanaman yang masyhur di wilayah-wilayah Eropa.

Polemik Hukum Rokok

Seperti yang terdapat pada awal tulisan, para ulama-ulama klasik berbeda-beda dalam menginterpetasikan hukum dari sebuah rokok. Ada segolongan ulama yang mengharamkan juga ada segolongan yang menghalalkannya. Di antara ulama yang mengharamkan adalah Syaikh asy-Syihab al-Qalyubi, ulama yang mengomentari kitab al-Minhaj kaya Imam Nawawi. Al-Qalyubi berpendapat bahwa rokok itu sama halnya dengan candu, tembakau tetap suci namun haram digunakan atau dirokok karena salah satu efek rokok adalah membuka jalan penyakit di tubuh sehingga berbagai penyakit dapat masuk ke dalam tubuh dengan mudah.

Pendapat-pendapat tentang keharaman rokok rata-rata bermakna seperti yang dijelaskan oleh al-Qalyubi. Pendapat ini kemudian juga didukung oleh Syaikh Ibrahim al-Laqqani al-Maliki yang mengatakan bahwa tembakau dapat membahayakan dan merusak pikiran. Bahkan dari pendapatnya al-Laqqani ini, Al-Allamah al-Faqih at-Tharabisyi menyimpulkan bahwa rokok adalah barang yang berbahaya bagi kesehatan sehingga haram untuk dikonsumsi.

Namun pendapat seperti di atas tidak bisa diterima sepenuhnya karena argumentasi mereka kemudian dibantah oleh al-Imam Abd al-Ghani an-Nabilisi yang bermazhab Hanafiyah. Sampai-sampai, ia membuat risalah khusus untuk menawarkan dalil-dalil argumentatif tentang kehalalan rokok yang termaktub dalam risalah bernama ash-Shulh bain al-Ikhwan fi Hukm Ibahah Syarb ad-Dukhan. Dalam bait-bait syair sebagai penutup risalah tersebut, al-Ghani mengatakan bahwa tentu sangat gegabah jika sifat-sifat tembakau dianggap kotor dan diharamkan. Ini hanya sebuah klaim. Padahal ada beragam manfaat yang terkandung dalam tembakau.

Ada banyak lagi ulama yang menghalalkan rokok, sepeti al-allamah asy-Syabramalis, Syaikh as-Sulthan al-Halab, dan Al-Barmawi. Bahkan al-Barmawi mengutip dari perkataan gurunya, al-Babily yang berkata menghisap rokok hukumnya halal. Keharamannya bukan karena rokok itu sendiri haram (haram li dzatihi) namun haramnya karena faktor eksternal yang mempengaruhi perubahan hukumnya. Dari pendapat al-Barmawi ini dapat disimpulkan bahwa efek negatif yang ditimbulkan oleh rokok bersifat relatif. Jadi ketika seseorang merokok lalu tidak mendapatkan mudharat apapun dari rokok, maka hal ini tak mengapa. Berbeda jika semisal penderita TCB, lalu kemudian mengisap rokok sehingga batuk yang ia derita semakin parah.

Juga ketika kita analisis kembali tentang pendapat ketika mengisap rokok akan menggangu dan merusak pikiran sebenarnya tidaklah sepenuhnya benar. Bagi yang baru belajar rokok, terkena pusing itu iya tapi kan tidak sampai menimbulkan kehilangan kesadaran. Berbeda lagi hukumnya jika sampai mabuk atau kehilangan kesadaran.

Ulama jumhur juga sudah sepakat bahwa rokok menjadi haram adalah ketika seseorang menggunakannya/mengisapnya akan mendapatkan mudharat atau akan kehilangan kesadaran. Penakwilan pendapat ini pun sudah populer di kalangan imam mazhab yang empat, Imam Malik, Imam Hanbali, Imam Syafii, dan Imam Hanafi. Dari jumhur inilah yang selayaknya kita perhatikan.

Dalam konteks ke-Indonesia-an, rokok menjadi produk yang menghidupi orang banyak. Buruh-buruh banyak yang menggantungkan nasib mereka pada pabrik-pabrik rokok besar di Indonesia sebutlah PT Gudang Garam, Djarum, PT Sampoerna, Bentoel Group, dan yang lainnya. Keuntungan dari rokok inipun tak hanya terlimpah kepada masyarakat, tetapi juga pada pemasukan negara. Seperti sumbangan pajak dan cukai dari rokok yang merupakan salah satu pendapatan terbesar negara. Jadi, tidak salah jika pada tahun 2011, Nahdhatul Ulama (NU) dalam forum bahtsul masail-nya menyimpulkan bahwa maksimal hukum rokok adalah makruh.