Permainan Monopoli ; Kapitalisme Sedari Dini

0
103
sumber. elevenia.com

Oleh: Rais

justisia.com Bermain monopoli di masa kecil bersama teman satu kelas sungguh asyik. Di depan rumah dengan iringan musik yang bersumber dari radio. Angin sepoi tertiup dari areal persawahan. Tinggal menunggu dua hingga tiga minggu kemudian akan di panen. Kami asyik bermain monopoli orang tua sibuk menata sesaji untuk upacara sebelum panen di mulai.

Memainkan dadu untuk menentukan langkah kita kemana. Satu hingga lima kami mengadu dadu sekali. Kalau beruntung bisa dapat angka enam agar mengocok dua kali. Bisa berlari sejauh mungkin. Dadu tak sendiri, ia ditemai uang, kartu hijau dan merah, beserta miniatur rumah dan hotel guna melengkapi permainan semakin asyik.

Maksimal pemain berjumlah empat orang. Bertaruh di dalam angka dadu untuk menguasai lahan-lahan yang telah tertulis harganya. Mulai dari Indonesia dengan nilai jual termurah hingga Negara Barat yang kaya. Kala dadu menuntun anda melangkah ke lahan orang lain, pilihanya hanya dua menduduki lahan yang telah berpenghuni atau membayar denda kepada si empunya.

Nasib pemain hanya ditentutan oleh dadu. Kita tak berhak menentukan kemana melangkah. Salah-salah kita bisa masuk penjara atau hutang menumpuk karena terlalu sering menginjak lahan orang orang lain. Apalagi, lahan tersebut telah di isi berbagai macam bangunan hingga hotel. Permainan akan usai jika pemenang semakin kaya dan si kalah bangkrut akut.

Analogi yang terinspirasi dari ulasan vice.com di lihat dari sudut pandang Kapitalisme dalam keseharian permainan di masa lampau. Semuanya riang gembira memainkan (kadangkala) menghayal dapat mengantongi uang asing (palsu). Hingga 15 tahun kemudian permainan tersebut telah berubah menjadi game di gawai, semililir angin hilang dan upacara sebelum panen raya lenyap.

Masyarakat di atur oleh jam kerja. Telunjuknya hanya bisa mengacungkan jari ke arah bangunan 25 lantai.

Rumahku dulu di situ ? kepada sanak saudara yang terlebih dahulu meninggalkan kampungnya

Lah cerobong asap itu lahan siapa, kak tunjuknya sambil menggarahkan kepala ke arah sumber kepulan asap.

Permainan monopoli dilihat dari persfektif Adam Smith di buku Wealth Of Nations, menggambarkan bahwa sifat dasar manusia rakus alias homo economicus. Ia mengibaratkan seorang penjual peniti mencoba menetapkan harga peniti lebih tinggi dari harga yang ditetapkan oleh sainganya. Bisnis itu akan hancur karena tak ada lagi konsumen mendekat pada tokonya. Sama halnya buruh akan selalu ditekan dalam pekerjaan karena pengusaha membutuhkan nilai lebih dari setiap keringat buruh.

Self-interest kita akan menunjukkan superioritas pada setiap lini bisinis. Eufemisme baik hati dalam sirkuit kapitalisme hanya pemacu untuk menandaskan bahwa sistem ini harus bertahan ketimbang pemerataan hak-hak kaum pekerja.

Egoisme penguasaan petak-petak di lembar monopoli. Penguasaan satu petak hanyalah awal dari penguasaan berikutnya. Self-interest akan muncul bilamana petak setelah petak mu dikuasai oleh lawan. Kamu tidak akan tinggal diam, melainkan menguasai petak setelahnya berharap ia jatuh dan membayar denda.

Tak ada makan siang gratis

Mengapa kapitalisme sebegitu rakusnya ? Kapitalisme dalam pandangan Loren Bagus berasal dari capitalism dengan komposisi caput berarti kepala. Kapitalisme seperti kepala sistem perekonmian dengan fondasi penekanan pada kapital.

Poin-poin yang perlu dipahami terkait kapitalisme, pertama ungkapan kapitalisme klasik akrab dengan Adam Smith sebagai permainan pasar yang memiliki aturan sendiri. Kedua, kapitalisme merupakan ungkapan Prancis, Laisser-fair passer, pasar diserahkan sepenuhnya pada kebebasan tanpa adanya aturan secara kewilayahan (Negara). Ketiga, Max Weber menuturkan bahwa kapitalisme sebagai keterkaitan antara bangkitnya kapitalisme dan protestanisme. Jadi kapitalisme merupakan bentuk sekuler dari penekankan protestanitisme pada individualism yang mengusahakan keselamatan bagi sendiri.

Tiga definisi kapitalisme di atas tentu menunjukkan satu faham bahwa modal mengatur keberlangsungan pasar tanpa ada kontrol dari pemerintahan setempat. Sehingga perputaran modal hanya ada pada individu-individu semata tak ada distribusi kekayaan. Melainkan penghisapan akut menjamur di tempat kapitalisme tumbuh.

 

Tumbuh Subur Kapitalisme

Ia selalu berubah-ubah bentuknya, tak pernah lekang oleh waktu. Sekaligus melihat berbagai macam kamuflase membuat individu dan komunalisme tak sadar bahwa dirinya menjadi satu bagian yang melanggengkan Kapitalisme. Ia bersemai disetiap lipatan-lipatan kehidupan.

Mengapa bisa terjadi demikian ? dalam buku The Wealth Nation, Adam Smith termaktub lima dasar prinsip dasar kapitalisme murni.

  1. Pemenuhan hak milik peroragan dan individu (privatisasi) tanpa batas-batas tertentu.
  2. Pengakuan hak individu tanpa batas.
  3. Tuntutan meraih keuntungan sebanyak-banyaknya (profit oriented) sebagai motivasi ekonomi
  4. Kebebasan melakukan persainan dengan individu lainnya (freedom of ceompetition)
  5. Mekanisme pasar (invisible hands)

Permainan monopoli yang dimainkan oleh kita merupakan sedikit cerminan bahwa komoditas dalam sirkuit kapitalisme merupakan salah satu faktor menetukan dalam tegaknya sebagai sistem ekonomi sekaligus sosial. Komoditas sebagai benda yang diproses melalui perdagangan dan diserahkan secara fisik atau disimpan sesuai dengan keinginan pemilik. Produk tersebut dapat ditukarkan dengan produk lainnya dalam lalu lintas dagang melalui bursa berjangka.

Komoditas dalam kapitalisme diproduksi guna penjualan dengan target laba tertentu. Nilai komoditas dititiberatkan pada utilitasnya. Sehingga mereka yang tak dapat membeli, tidak memiliki satu pun hak untuk memiliki barang tersebut. No pay, No Use atau pameo familiar di masyarakat kita ada uang barang datang.

Tafsiran disini bukan bermaksud untuk menihilkan mekanisme jual beli, melainkan ada nilai lebih yang diinginkan dari komoditas berupa keuntungan maksimal untuk meningkatkan kekayaan individu. Keuntungan berlebih itu kadangkala membutuhkan produksi yang berlebih tanpa memandang kebutuhan yang diingankan oleh konsumen. Produksi yang di anut oleh Kapitalisme (Comodity-Money-Comodity) merupakan produksi pra Kapitalisme.

Uang sebagai alat tukar dengan komoditas yang sebanding sehingga pasar dan uang sebagai alat dan tempat menjadi tempat sirkulasi secara simultan. Serangan Kapitalisme menggunakan (Money-Commodity-Money), menganasir bahwasanya komoditas menjadi nilai lebih untuk uang yang akan dipanen oleh sistem tersebut.

Dalam permainan monopoli, kita bisa melihat bagaimana transaksi pembelian hotel atau lahan yang ditukar bukanlah komoditas melainkan si pemilik akan menumpuk puluhan dolar di area permainannya. Kemudian dia bergerilya untuk membeli yang lebih mahal kemudian komoditas itu bukan menjadi benda dan uang bukan alat.

Ketika makna uang bukan sebagai alat tukar dan pasar bukan menjadi tempat transaksi maka sistem ekonomi yang berjalan bisa dipastikan menguntungkan borjuis dan menghisap proletar.

Ejakulasi Kapitalisme

Layaknya masturbasi diri menggunakan dildo. Sistem ini memberi jaminan kepuasan bagi pengikutnya. Sebelum kenikmatan, nafsu itu mendekap pada pelaku yang membius lakunya mirip hawani. Setelah reaksi selesai seolah waktu kita untuk menghasilkan lainnya terlampau lelah. Lantas kenikmatan hanya berlangsung beberapa bulan.

Kemenangan kecil kapitalisme di rayakan oleh ribuan orang tanpa mengetahui dibalikkan gegap gempita kemenangan terdapat kesengsaraan yang mendalam di alami oleh kelompok (proletar). Gelak tawa pun di rayakan oleh para borjuis. Berangkat dari peristiwa inilah membuka tabir titik kelemahan Kapitalisme yang bisa diduduki oleh lawan-lawannya.

Disparitas kesenjangan perimbangan dalam distribusi antar individu dan sarana-saran produksi hanya akan terumpul pada satu kelompok. Pengaruh semangat materialis akan membagi masyrakat ke dalam dua kelompok the have dan the have not. Senada dengan At-Tariq Baidhawy berpendapat bahwa sisi lain kekurangan kapitalisme terletak pada alternative utamanya untuk meningkatkan standar hidup kaum miskin melalui pertumbuhan ekonomi dan developmentalisme. Suatu pengurangan dalam ketidakmerataan pendapatan tidak dapat terjadi kecuali ketika pendapatan total meningkat lebih cepat dibandingkan penduduk. Penghasilan hanya dapat ditingkatkan melalui peningkatan produk. Individu dipadagna akan bahagia degna pendapatan baru yang tinggi.

Timbulnya krisis dan merajalelaya kejahatan karena meningkatnya pengangguran yang disebabkan banyaknya produsenyang berhenti berproduksi dan menutup pabrik. Hal ini disebabakn karen aprodusen komoditas sebagai kebutuhan mewah tertentu meningkat demi memenuhi kebutuhan pemilik modal besar.

Dikutip dari marketeers.com Bapak Pemasaran Modern, Philip Kotler mengkri bahwa kapitalisme mengarah pada upah buruh yanbg rendah membuat perekonomian kian buruk karena kinerjanya pada konsumen mimiliki cukup uang untuk membeli barang dan jasa yang dihasilkan dari mesin kapitalis. Perusahaan malah tidak bisa rendahnya tingkat pertumbuhan ekonomi yang pada gilirannya menyebabkan meningkatnya pengangguran. Kesenjangan kemiskinan semakin melebar. Kapitalisme saat ini tidak pedulu denngan kemiskinan. Antara shareholder dan stakeholder menginginkan pekerjaan.

Kapitalisme sebagai sistem ekonomi tak berhenti dalam transaksi an sich. Ia bergerak pada sendi-sendi sosio-kultural. Tak pelak masyarakat global mengamini secara tidak sadar keberlangsungan sistem itu sendiri. Paper ini tidak hanya selesai menjadi kumpulan kata melainkan pemantik bagi tulisan selanjutnya dan gerakan meruntuhkan kapitalisme itu sendiri. (J)