Perempuan Di Tengah Konflik Agraria

0
470
Sumber ilustrasi: aktual.com

Oleh : Adetya Pramandira

Tujuh puluh dua tahun yang lalu Indonesia memproklamasikan dirinya sebagai negara merdeka. Selama tujuh puluh dua tahun pula Indonesia terus berjuang untuk mewujudkan cita-cita para pahlawan untuk menjadikan Indonesia negara yang merdeka seutuhnya. Dalam perjalananya, Indonesia tak pernah lepas dari berbagai polemik-polemik yang tak kunjung selesai. Seperti halnya konflik agararia yang terus menjadi polemik bagi Indonesia yang tak kunjung menemui titik temu. Tak heran jika konflik agraria tersebut selalu bergandengan dengan pelanggaran Hak Asasi Manusia.

Sampai saat ini dan sampai kapanpun masalah agraria akan terus menjadi persoalan serius bagi bangsa ini. Karena menyangkut tanah sebagai hal yang sangat urgent bagi masyaratakt Indonesia, tanah sebagai lahan produksi, investasi masa depan bagi keturunan, dan juga sebagai sumber penghidupan. Lebih-lebih, Indonesia sebagai negara agraris penopang ekonomi terbesar salah satunya adalah dari sektor pertanian.

Konflik agraria ini tentunya berdampak buruk bagi masyarakat khususnya masyarakat dengan profesi sebagai petani. Berbagai masalah sengketa lahan yang kebanyakan di menangkan oleh pihak dari kalangan elit tersebut nampaknya telah membunuh ekonomi para petani secara perlahan. Hal tersebut dapat terjadi karena lahan sebagai satu-satunya sumber penghidupan telah hilang dan tak ada ganti rugi atas hal tersebut, alih-alih ganti rugi atas hak miliknya, terkadang justru para petani yang disalahkan dan berujung duduk di meja persidangan.

Di sisi lain, tak hanya kaum laki-laki sebagai pencari nafkah dalam keluarga yang menanggung beban. Dalam hal ini kaum perempuan juga mengalami beban dan luka yang mendalam. Bagaimana tidak, dalam perkembangan zaman yang semakin banyak wanita tampil di hadapan publik sebagai wanita karir, tak sedikit pula perempuan Indonesia yang masih menggantungkan nasib dirinya dan juga keluarganya dari hasil lahan yang dimilikinya.

Seperti kita ketahui bahwa perempuan pada dasarnya telah dibekali keterampilan dalam bercocok tanam. Jika kita tarik sejarah dimana masa berburu dan meramu menjadi kebiasaan manusia purba untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, disini lah muncul kaum purba perempuan yang mengembangkan metode bercocok tanam sebagai tambahan untuk memenuhi kebutuhan. Jika kita kaitkan dengan masa sekarang, maka tak jauh berbeda dengan kaum perempuan di Indonesia yang kebanyakan hidup dari hasil bercocok tanam. Di sektor inilah ketidak adilan gender tidak terlihat.

Berdasarkan pemaparan di atas, jika konflik agraria selalu menguntungkan kalangan elit dan merugikan para petani yang juga banyak dari kalangan perempuan, maka pastilah kaum perempuan tersebut akan kehilangan pekerjaannya. Menghadapi situasi yang demikian, kaum perempuan mau tidak mau harus mengambil tindakan dan mencari pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhannya.

Tak jarang kaum perempuan meninggalkan keluarga dan tanah airnya untuk mengadu nasib di negeri orang. Tak jarang pula pekerjaan yang didapat tak lebih baik dari profesi seorang petani di negeri sendiri. Apalagi perempuan sebagai mahluk Tuhan yang lebih lemah dari laki-laki, pastilah merasakan luka yang sangat mendalam karena jauh dari keluarga yang dicintainnya.

Selain alternatif tersebut tak heran apabila perempuan memilih bekerja menjadi buruh tani di bekas lahannya sendiri. Hal tersebut tetap dilakukan hanya karena faktor ekonomi, meskipun upah yang diberikan jauh lebih rendah dari pendapatannya saat mengolah lahan sendiri.

Lebih jauh lagi konflik agraria yang mencekik ekonomi ini juga berujung kepada pendidikan kaum perempuan. Kebanyakan masyarakat madani yang masih menggaungkan perbedaan derajat antara laki-laki dan perempuan, dengan kondisi yang serba sulit memilih untuk menyekolahkan anak laki-lakinya saja. Sedangkan kaum perempuan yang dianggap hanya macak, masak, manak tidak perlu mendapat pendidikan. Dari sinilah kaum perempuan semakin terpinggirkan dan ketidak adilan gender semakin jelas terlihat.