Penguasa Raja Hutan

0
483

 

https://i.ytimg.com/vi/sHH7Dh1SJQw/maxresdefault.jpg, Minggu (020/04)

(Aku pergi ke hutan belantara, lalu mendapati Raja Hutan menguasai. Aku terdiam. Kebaikanku dilupakan)

Cerita Dari-Ku.

Dahulu ketika masih kecil, bapak-ku yang bekerja tetap sebagai guru honorer dan pekerjaan macam-macam yang tetap sering sekali memberikanku cerita. Cerita yang indah, bagiku. Ternyata tidak semua teman-temanku merasakannya, aku pun baru menyadarinya. Plot dalam cerita yang ku simak singkat. Tetapi tak sesingkat senyuman dan bahagia bapakku yang ku terjemahkan melalui wajahnya. Aku pun sering menebak-nebak. Bapak begitu lihai menggodaku untuk menjawab, dan memutar-mutar pikiranku. Bapak yang hidup menghidupiku, ibu, dan adikku, tak lupa kambing-kambingku juga lihai mendongeng.

Tentang Kancil, Buaya, dan Siput.

Cerita dari-ku adalah cerita yang diberikan bapakku. Tentang beberapa lakon utamanya adalah kancil yang cerdik, meski kancil mengalahkan buaya tetapi kancil dapat dikalahkan makhluk paling lembut dari kelas gastropoda bernama siput. Siput bukan nama manusia. Ia hewan lemah lembut. Hewan yang lumayan kecerdikannya dibanding Pak Tani yang selalu dibohongi kancil. Ah, alangkah cerdasnya kancil, bisa membohongi manusia. Lalu secerdas-cerdasnya siapapun itu, pasti ada yang lebih cerdas darinya, ia siput.

Sambil mengingat bapak yang baru saja mengirim pesan bahwa ia sedang akan tidur, aku meraba cerita bapak sekitar 13 tahun yang lalu. Kancil yang ku temui di masa kecilku sangat cerdik. Buaya, makhluk yang menyeramkan seketika menjadi makhluk paling anggun dengan sifat baiknya. Entah baik atau bodoh. Baik dengan bodoh beda tipis di sini. Aku sulit mendefinisikan sifat buaya kali ini.

Kancil memasuki hutan belantara. Hutan yang mengerikan. Sampai tibalah di depannya sungai yang luas. Ia terjebak, dan harus menyeberangi. Harus. Tak ada jalan lain. Yang ada jika mencari jalan lain hanya menghabiskan waktu, lalu semakin menahan kelaparan. Bagi kancil tak ada yang tak bisa terselesaikan. Sedikit lupa-lupa ingat bagimana bapak menggambarkan kedatangan buaya aku melanjutkan. Seekor buaya merekam kedatangan kancil di pinggir sungai yang lebar, sampai tak tahan lalu segera ke bibir sungai. Lagaknya kancil dengan keberaniannya seperti sedang menagih pertemuan. Keduanya bersua. Ternyata raja hutan itu tak lain adalah buaya. Kebetulan sekali. Atas permintaan kancil dengan alih-alih hadiah yang sangat diinginkan buaya, raja menyeru kepada seluruh buaya untuk berbaris rapi. Setelah berbaris rapi, sang raja tetap berada di tempat menunggu hadiah yang jika si kancil berjalan ber-alas buaya-buaya yang berjejer nanti sang raja tak usah mengikuti kancil. Raja menunggu saja, nanti hadiahnya akan muncul bersamaan kancil yang berjalan melewati sungai. Sampai di ujung, kancil lari meninggalkan para buaya. Lalu raja bersama penantian hadiahnya juga bersamaan penyesalannya.

Kancil dalam perjalanan selanjutnya berjumpa dengan makhluk halus. Tak hanya lembut, ia juga menjadi makhluk halus yang bergentayangan. Siput namanya. Kancil dengan angkuhnya menguji kecerdikannya kembali. Bagi kancil ini bukan permasalahan yang berat, sangat remeh. Menghadapi raja hutan saja bisa, apalagi ini. Siput menanggapi kearoganan kancil yang semakin menyesakkan nafas siput. Siput bertarung dengan kancil balapan dari hutan sampai tempat Pak Tani. Dengan penuh percaya diri, kancil lari dengan tak sekencang biasanya. Pasti siput kalah, pikirnya. Hingga di persimpangan jalan ia menjumpai siput di depannya. Selalu, dan selalu berada jauh di depannya. Kancil tertegun-tegun, tak habis pikir. Ia lelah, haus, dan lapar. Sampai kebun Pak Tani siput pun sudah mendahului menikmati makanan. Kancil pun harus merelakan menjadi budak siput. Begitu biasanya di siang hari, sebelum tidur siang aku menyimak cerita dari bapak. Jika belum mengantuk pura-pura tidur. Setelah bapak tidur aku diam-diam mengambil buku bahan ajar Bapak ku cari dongeng-dongeng di dalamnya, jika sudah lelah baru tidur.

Siapa Penguasa, Raja Hutan?

(Kemarin ku simak cerita dari Dewi Nur Aisyah mahasiswa Indonesia yang menempuh study S3nya di negeri liberal mengatakan London sedang berduka. Kejadian teror di jantungnya kota London Parliament kemarin sore yang dikabarkan 4 orang meninggal (termasuk si pelaku), lalu 40 orang terluka parah. Sementara malam ini negeriku sedang ada doa lintas agama teruntuk Ibu Patmi (40 tahun). Di waktu yang sama aku telah menerima telpon dari Ibu, setelah kurang lebih 2 bulan tak mendengar suara pemilik cinta sejati itu, ibu buminya pertiwi buminya muda-mudi, dan bumi ibunya pertiwi ibunya muda-mudi). Cerita dari-ku yang berasal dari bapak berkembang. Cerita dari-ku berasal dari bapak yang lain, bapak yang lain itu adalah segala-galanya yang merindukan ibu pertiwi untuk senantiasa baik dan bermanfaat. Laiknya manusia yang tak hanya baik sebagai manusia pujaan juga harus bermanfaat. Lalu, pertanyaannya siapa penguasa? Menceritakan cerita masa lalu dengan tokoh kancil, buaya, dan siput saat ini persamaannya sama dengan bicara gubernur, samin, dan semen.

Hutan belantara yang memiliki sungai luas, sebuas penghuni aslinya para buaya. Itu lah mereka masyarakat samin yang selalu bermanjakan waktu bersama alam sekitar atau masyarakat sekitar pertambangan. Kedatangan kancil yang memiliki kecerdikan yang nyata mampu menguasai seluruh penghuni hutan, seketika kekuasaan (power) dimilikinya. Antonio Gramsci memberikan tanggapan bahwa hegemoni telah merasuki para buaya. Juga telah mendominasi. Gubernur Jawa Tengah memiliki kekuasaan (power) yang luar biasa. Tetapi ia dikalahkan oleh kelompok Marxis yang menghendaki adanya perubahan yang dilakukan para siput-siput untuk mensiasati supaya kancil tak semena-mena. (HILYA/LESSEN).