Pengenalan Dakwah Para Ulama Lewat Anggoro Manis

0
97
Serial diskusi Anggoro Manis, di LP2M UIN Walisongo Semarang, (30/10). foto: Ayu

Justisia.com – Dalam sejarah, dakwah ulama di tanah Jawa mempunyai ciri tersendiri. Semula masyarakat beragama Hindu-Budha kemudian menjadi beragama Islam tanpa menumpahkan darah. Ini menandakan bahwa ada strategi dan cara para ulama jaman dulu dalam berdakwah menyebarkan agama Islam. UIN Walisomgo melalui lembaga Pusat Pengkajian Islam dan Budaya Jawa (PPIBJ) berusaha memperkenalkan hal tersebut kepada masyarakat luas.

PPIBJ UIN Walisongo memiliki diskusi rutin yang diberi nama Anggoro Manis. Acara tersebut rutin diselenggarakan setiap Selasa legi/selapan (sebulan dalam bulan Jawa) dan pada bulan Oktober acara dilangsungkan di gedung LP2M lantai 2 dengan pembicara Prof. Dr. Hj. Ismawati, M. Ag dan Drs. H. Anasan, M, Hum, (30/10).

“Mahasiswa UIN Walisongo itu idealnya mengetahui strategi dakwah,” tutur Drs. H. Anashom, M, Hum saat diwawancarai oleh justisia.com seusai diskusi.

Dulu di UIN Walisongo pembelajaran Islam dan budaya Jawa tidak hanya berbentuk kajian diskusi, tetapi juga masuk ke kurikulum yaitu mata kuliah “Islam Budaya Jawa”. Namun dihapus ketika menjadi UIN. Karena ternyata mahasiswanya itu dari berbagai daerah di Indonesia sehingga tidak semata mempelajari Jawa saja.

Karena acara ini untuk umum, jika tempat yang biasanya tidak mencukupi maka akan menggunakan aula sebagai gantinya

“Tapi kalo tidak ada (tempatnya) tetep diskusinya disini, ada tempatnya sudah disediakan,” ungkap pembicara asal Temanggung tersebut.

Lembaga kajian yang langsung dibawahi oleh LP2M ini juga tidak hanya membatasi dikusi tentang Islam dan budaya Jawa saja. Lemabaga memperbolehkan diskusi kajian Islam selain budaya Jawa, sepert Islam di Maluku, Kalimantan, dan lain-lain.

“Tapi kalau mungkin suatu saat ada kajian lokal (selain budaya Jawa) yang ada narasumbernya boleh boleh saja,” pungkasnya. (J/Affan, Ayu dan Fida)