Pengakuan Mantan Teroris, Yusuf Adirima

0
409
Eks Narapidana Terorisme Yusuf Adirima saat ditemui usai acara ngobrol dan buka bersama bertajuk memahami proses radikalisasi keluarga pelaku teror

Acara ngobrol dan buka puasa bersama mengundang antusias masyarakat datang memadati ruangan Aula Magister Komonikasi Universitas Diponegoro Rabu, (30/05). Masyarakat dari berlatar belakang berbeda beda duduk bersama mendengarkan materi yang disampaikan narasumber di depan dengan tema bertajuk “Memahami Proses Radikalisasi Pelaku Teror”.

Keberagaman masyarakat yang hadir dari agama apapun sebuah petanda bahwa radikalisme dan terorime adalah musuh bersama semua agama. Bukan hanya warga kota semarang saja hadir di acara tersebut, luar jawa tengahpun menyempatkan waktunya demi mencari tahu lebih dalam seputar kejahatan terorisme mulai proses hingga perkembangnnya yang kebetulan salah satu narasumbernya adalah Eks Narapidana Terorisme Yoseph Adirima alias Yusuf. Selain Yusuf, ada Antropolog Budaya Sumanto Al Qurtuby dari King Fahd University.

Yusuf yang memiliki nama asli Machmudi Hariono menceritakan awal bergabungnya dengan jaringan terorisme. ia mulai mengikatkan diri sebagai seorang terorisme mengaku tidak bertemu secara langsung dengan pendoktrinya. Melainkan melalui buku buku yang mengulas tentang ajaran agama berfaham keras, kemudian dengan mengikuti halaqoh halaqoh yang diadakan. Ia dapat bertemu dengan orang yang notabenenya dari Afganistan untuk meminta pencerahan tentang perjuangan agama Islam.

Saat tokoh halaqoh menyampaikan pengetahuan seputar dunia konflik, menarik perhatian pada diri Yoseph atau Yusuf mengetahui lebih dalam. “Jadi dengan mengetahui dunia konflik, saya bisa tahu tokoh dan pristiwanya, disitu ada keinginan untuk ikut sebagai bentuk kontribusi saya,” kata Yusuf saat ditemui usai acara ngobrol dan buka bersama di Aula Magister Ilmu Komonikasi Universitas Diponegoro, Rabu (30/05)

Awalnya ia merasa empati dan simpati datang di acara halaqoh halaqoh, datang bagaikan gayung bersambut. Lambat laun ikut acara, hatinya di putar balik bergabung bersama jaringan mereka. “Apalagi dulu saya masih bujang, banyak longgar waktu,” ngakunya. Ia merasa menyiakan waktu, kalau waktu yang ada tidak ia gunakan, demi menghindari waktu terbuang begitu saja meleburlah pria yang berproses di jaringan terorisme semenjak lulus SMA sekitar tahun1996-1997.

Menjadi Kombatan Jamaah Islamiyah di Moro Filipina Selatan, Yoseph alias Yusuf harus melangkah setapak demi setapak agar sampai kesana bergabung dengan Kombatan Teroris lainya. Pertama ia ikut beberapa pengajian bersifat halaqoh kecil kecilan, kemudian menjalin relasi dengan Lamongan yang menjadi pintu gerbang awal ia masuk pada satuan terorisme, yang saat itu diprakarsai Amrozi pelaku teror bom Bali tahun 2001. Setelah melewati fase demi fase, ia berangkat ke Filipina menjadi kombatan Jamaah Islamiyah. “Jadi memang tidak serta merta, tidak sehari dua hari, pulang dulu satu bulan, balik lagi 3 hari. Jadi tidak langsung plek bisa langsung bertugas di Filipina,” Jelas pria kelahiran 19 November.

Setelah mengikuti halaqoh kesana kemari, di Jombang Maupun di Lamongan, Yusuf disuruh membeli buku sesuai petunjuk di halaqoh tersebut. Setelah membeli buku lalu membacanya, menambah keyaqinan pria kelahiran 1976 tersebut terjun di medan terorisme.

Jeruji besi yang didekapnya selama 5 tahun 6 bulan menenggelamkan keinginannya melakukan hal sama seperti masa kelam yang pernah ia jalani sebagai seorang terorisme. selama di penjara keluarga datang memberi semangat moril kepadanya. Semenjak itulah terbesit rasa bersalah besar dalam benak Yusuf karena telah menyakiti hati masyarakat termasuk menyakiti hati keluarganya.

“Dari situlah, saya ingin memperbaiki diri kepada orang tua, kakak, plus istri dan terhadap masyarakat umumnya,” ungkapnya.

Mantan Narapidana apapun, termasuk narapidana terorisme seolah olah sudah menjadi sampah masyarakat. Hidupnya belum tentu diterima di tengah tengah pergaulan masyarakat, masyarakat sudah kadung menaruh pandangan negative terhadap mantan narapidana terorisme. meskipun begitu, Yusuf terus berusaha meyaqini masyarakat kalau ia tidak lagi menjadi seperti apa yang masyarakat anggap seperti masa lalunya. Semenjak keluar dari jeratan hukuman tindak pidana terorisme tahun 2009, lelaki tiga ayah tersebut berusaha bergaul seluasa mungkin dengan masyarakat di lingkungannya.

“Saya meyaqini masyarakat dengan cara intraksi bersama mereka, ketika ada bom kita di rumah kok, kita jaga malam kok, kita ikut kerja bakti kok, saya kerja di rumah makan, saya kerja menjadi sopir mobil. Ada fakta dilihat masyarakat bahwa saya sudah memutus hubungan dengan kelompok terorisme,” kata pria yang saat ini membuka usaha kuliner dan rental mobil tersebut.

Semenjak Yoseph atau Yusuf keluar dari jaringan Teroris, saat itupula ia memutus hubungan mata rantai dengan kawan kawannya yang sampai saat ini masih bergerilya di Filipina meskipun secara formal dirinya masih mengenal teman temannya. ia berusaha menjalin pertemanan sesuai batasan. “Kalau sudah kesana, saya mohon maaf,” ujarnya.

Menjadi mantan teroris bukan berarti tidak ada ancaman seperti halnya saat ia jalani sewaktu menjadi teroris, saat bergerak dalam jaringan terorisme, Negara memburon Yusuf yang kemudian ia dijebloskan di penjara kala ditangkap oleh Densus 88 dan Polda Jawa Tengah dalam operasi penggerebekan di rumah kontrakan Jalan Taman Sri Rejeki Pada pertengahan 2003 tempat dimana Yusuf dan tiga rekannya tinggal. Mereka ditemukan menyimpan 26 bom rakitan dan amununisi berbobot lebih dari 600 kilogram dengan daya ledak dua kali bom bali.

Namun ketika menjadi mantan teroris, saat keluar dari jaringan terorisme seperti sedia kala, ancaman malah datang dari arah berbeda, kawan kawanya yang sempat satu haluan dengan Yusuf berbalik selalu mengancam Yusuf, sebab Yusuf keluar dari jaringan mereka. “Jadi ancaman selalu dikoar koar oleh mereka,” ujarnya.

Tetapi Yusuf tidak merasa gentar atas ancaman yang ditudingkan kepadanya, selama ia tidak sendiri, bersama dengan mantan teroris lainnya. Ia mengajak teman temannya mendiskusikan tindakan salah yang sudah ia kerjakan. “Kita memperbaharui, kita merevisi, kita mengingatkan saudara kita agar tidak kebabblasan, komonitas kita imbangi dengan kominitas,” ajaknya kepada kawannya.

Terorisme atas nama agama acap kali berlandaskan jihad fisabilillah (di jalan allah), Pemahaman jihad diputar balikan bagi mereka yang mengatasnamakan agama sebagai alat letigimasi memerangi kelompok dengan berbuat keonaran di muka bumi yang berimbas pada ketentraman hidup masyarakat. “Pemahaman jihad tidak perlu berebihan, sehingga jihad menuju pada jalan yang salah, jihad adalah sesuatu yang dianggap suci dan perlu cara sucipun dilakukan dengan tidak menghalalkan segala cara,” pungkas Mantan Teroris kombatan Jamaah Islamiyah filipina Selatan tersebut. Rep: INK