Pengadaan Proyektor Baru Terhambat Prosedur

0
194
Pegawai TU bagan peralatan, Mashudi saat diwawancarai reporter justisia.com di kantornya, Rabu (11/10). Foto: Robit.doc

 

Pegawai TU bagan peralatan, Mashudi saat diwawancarai reporter justisia.com di kantornya, Rabu (11/10). Foto: Robit.doc

Justisia.com – Pengadaan proyektor baru di ruang perkuliahan Fakultas Syariah dan Hukum terhambat dikarenakan sulitnya prosedur, khususnya dalam hal masalah dana.

“Ini dikarenakan masalah anggaran. Kemarin sudah diajukan empat buah proyektor tapi belum disetujui, karena itu masuk dalam anggaran tahun 2018,” jelas Pegawai TU Bagian Peralatan Fakultas Syariah dan Hukum, Mashudi saat ditemui reporter justisia.com di Kantor Tata Usaha Fakultas Syariah dan Hukum, Rabu (11/10).

Terkait dengan ketidaknormalan proyektor yang ada di gedung G dan M memang sudah menjadi masalah serius sejak lama.

“Proyektor di ruangan (gedung G dan M) itu memang banyak yang trouble, beberapa itu sudah diambil oleh teknisi, dibenahi ditempat tidak bisa, akhirnya dibawa pulang,” lanjut pria berkacamata itu.

Proyektor yang terdapat di ruang kelas sudah tidak berfungsi secara normal. Seperti proyektor yang ada di ruang G1 dan G3 diambil oleh teknisi karena sudah tidak berfungsi selayaknya. Ada pula proyektor yang ada di ruang G6, M3 dan M4, warna hasil proyeksinya terlihat buram.

Mashudi menambahkan, bahwa pihak fakultas juga telah mengantisipasinya dengan menyediakan proyektor yang mudah diangkut dengan tas sebanyak lima unit. Itu pun hanya tiga unit yang masih berfungsi dengan baik, sedangkan dua sisanya telah rusak.

Untuk masalah perbaikan pada proyektor rusak, membutuhkan suku cadang yang harganya bahkan lebih tinggi daripada membeli unit baru. Di sisi lain, pengadaan proyektor baru juga membutuhkan proses yang tidak mudah.

“Kemarin sudah ada intruksi dari kampus satu bahwa tidak boleh ada pengadaan proyektor baru, tetapi pihak fakultas tetap nekat mengajukannya sebanyak empat unit,” ungkap Wakil Dekan Dua Fakultas Syariah dan Hukum, Agus Nurhadi saat ditemui di kantornya.

Fasilitas proyektor ini cukup diperlukan karena dalam proses pembelajaran di kelas sebagian besar menggunakan proyektor sebagai media presentasi.

Hal ini diungkapkan oleh mahasiswa semester tiga Fakultas Syariah dan Hukum, Ahmad Mutasimbillah, “Fasilitas proyektor itu cukup membantu dalam penyampaian presentasi. Kita sebagai mahasiswa tidak hanya bisa mendengar, tapi juga bisa melihat yang dipresentasikan dengan lebih menarik,” ungkapnya.

“Sangat penting karena sistem belajar saat ini kan menggunakan diskusi, dan kita disuruh buat power point, kebanyakan kalau membuat power point itu tidak berguna kalau proyektornya mati,” ujar Ahmad Nur Fadhol, mahasiswa semester lima Fakultas Syariah dan Hukum.

“Seharusnya bisa segera diatasi masalah proyektor ini, karena media ini cukup penting dalam proses perkuliahan,” pungkas salah satu Dosen Pengajar Fakultas Syariah dan Hukum, Ali Masykur.(Robith/Alfi)