Pendidikan Karakter Nirkekerasan (2)

0
188
sumber ilustrasi: mediaindonesia.com
sumber ilustrasi: mediaindonesia.com

Sambungan….

Bentuk penyelenggaraan pendidikan seperti diatas masih menjadi problem di Indonesia. Penyelenggaraan pendidikan disiplin nirkekerasan telah dipraktekkan dalam pendidikan pesantren. Pesantren sangatlah ketat dalam menyelenggarakan pendidikan. Hal tersebut dibuktikan dengan kepatuhan para santri terhadap gurunya. Sebab, seorang santri dalam memuliakan ilmu harus seimbang dengan penghormatan terhadap gurunya.

Pedoman para santri untuk menghormati guru dijelaskan dalam kitab Talimul Mutaallim. Diawal sub bab menghormati guru, kitab tersebut mengutip ucapan Sayyidina Ali bahwa Sayyidina Ali dalam menuntut ilmu rela menjadi seorang hamba bagi yang telah mengajarinya satu huruf ilmu. selain itu gubahan syair dalam kitab tersebut menyatakan bahwa hak sang guru adalah hak yang paling hakiki yang wajib dijaga oleh setiap muslim. (Aliy, 2007:37). Sehingga para santri sangat mengedepankan sikap tawadlu atau rendah diri kepada sang guru. Disamping itu, bentuk pendidikan keras yang diwujudkan dalam pondok pesantren merupakan aplikasi dari kajian ilmu akhlaq mereka. Tak heran jika disini, para santri terkesan tunduk pada peraturan tersebut dan tidak ada perlawanan yang signifikan. Hampir seluruh pondok pesantren menerapkan sistem yang sama, dan pendidikan disiplin nirkekerasan terhadap para pelanggar aturan dikenal sebagai tazir.

Berbeda dengan pondok pesantren, pendidikan formal jarang yang mengenal tentang pendidikan disiplin nirkekerasan. Pendidikan formal seperti SD, SMP, ataupun SMA lebih mengedepankan kecerdasan intelektual daripada kecerdasan moral. Hal tersebut dibuktikan dengan perhatian sang pendidik yang lebih condong ke arah pelajaran secara teori. Demi menyeimbangkan antara kecerdasan intelektual dan moral, Departemen Pendidikan Nasional menggagas pendidikan karakter pada tahun 2010. Adanya pendidikan karakter tersebut diharapkan siswa tidak hanya menguasai ilmu secara konseptual dan kontekstual saja, melainkan memiliki jiwa yang jujur, inovatif, apresiatif, serta demokratis. Penggagasan pendidikan karakter di Indonesia bisa dikatakan gagal. Sebab pada tahun 2015 terjadi penganiayaan terhadap guru SMA honorer yang bernama Agung Aditya Putra di Sukabumi, begitu pula pada tahun 2016 terjadi hal yang sama terhadap guru arsitek SMKN 2 Makassar yang bernama Dasrul. Pada intinya, kedua kasus tersebut menggambarkan penanganan guru terhadap murid bandel, tapi berujung naas.

Model pendidikan disiplin nirkekerasan membentuk kepribadian anak agar dapat mencapai kedewasaan yang baik. Namun, model pendidikan tersebut selalu disalah artikan murid. Padahal dalam kasus diatas penganiayaan terhadap guru dilakukan oleh murid SMA. Sedangkan, secara usia murid SMA telah memasuki usia remaja. Usia remaja sudah bisa disebut mumayyiz (orang yang dapat membedakan baik dan buruk) dalam fiqh. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kurangnya penerapan pendidikan karakter menimbulkan moral yang kian merosot.

Pendidikan disiplin nirkekerasan tidak selamanya dimaknai sebagai tindak pelanggaran hak anak atau penyalahan terhadap perlindungan anak. Pendidikan disiplin nirkekerasan dimaksudkan bagi anak yang kurang mengerti tentang moral dan senang melanggar aturan. Pendidik yang menerapkan pendidikan disiplin nirkekerasan tidak gampang dikatakan sebagai tindak pidana. Harus ada penyelidikan lebih lanjut tentang hal tersebut. Nyatanya, pemberlakuan pendidikan disiplin nirkekerasan menciptakan sikap penghormatan terhadap pendidik. Sedangkan pendidikan anti ketegasan menimbulkan penghormatan terhadap pendidik kian rendah.

Pemerintah sudah semestinya memperhatikan moral anak bangsa yang kian merosot. Penerapan akan pendidikan moral dapat diberlakukan lebih ketat ketika di sekolah. Sekolah merupakan sarana pendidikan yang sangat baik, melalui sekolah anak seharusnya dapat tumbuh menjadi pribadi yang memahami kesusilaan. (Salwa)