Penambang Data Pengaruhi Pengguna Media Maya

0
82
Pendiri Peace Lab, Imam Malik saat memaparkan materi di acara Pelatihan Literasi Media Online dan Manajemen ROHIS se-Kota Semarang, Sabtu, (28/07) sore. (doc. Wahid Foundation)

Kerja penambang data di media sosial untuk mempengaruhi kecenderungan pengguna dunia maya. Kontruksi demikian dimanfaatkan oleh koorporasi yang ingin meraih keuntungan.

“Penambang data diibaratkan dalam sebuah kontainer lewat, orang disekitarnya akan mengikuti arah kontainer pergi. Arus sosial hari ini sedang seperti itu, kecenderungan minoritas akan mengikuti kondisi tersebut. Penonton akan mengikut hal yang sama. Melalui penyebutan kecenderungan hari ini,” tutur Pendiri Peace Lab, Imam Malik saat memaparkan materi di acara Pelatihan Literasi Media Online dan Manajemen ROHIS se-Kota Semarang, Sabtu, (28/07) sore.

Malik, panggilan akrabnya, menjelaskan fenomena hijrah yang dihasilkan dari penambang data di media sosial kemudian digunaka untuk kepentingan profit semata.

“Fenomena hijarah justru dicirkan secara fisik, bahwa adanya perubahan, istikomah, niat, dan usaha. Paling tampak adalah Hijab, desain baju yang longgar, cadar, celana cingkrang, dan jenggot. Hal hal tersebut ditangkap oleh pengusaha baju. Wajar bila ada pengusaha tour and travel syariah Islam begitu hijrah disimbolkan dengan umroh. Hal tersebut menjadi sebuah keuntungan dalam berbisnis yang masih berbau syariah,” tuturnya.

Target utama yang disasar oleh para penambang adalah pemuda. Data untuk memonopoli media internet dengan kecenderungan tertentu untuk menghasilkan konten viral.

“Pemuda jadi apa ? Target. Atas terciptanya konten-konten demikian yang menyasar anak-anak muda yang tidak bisa lepas dari gawai. Tentu dakwah-dakwah yang berbau hijarah mengajak pemuda untuk masuk dalam lingkarang hijarah secara fisik sebagaimana ditawarkan oleh konten-konten yang seringkali viral di media sosial,” tambahnya.

Selain itu, Malik juga menjelaskan tips menggunakan media sosial dengan tepat guna. Pertama, tidak terlalu eksis hal yang tidak bermanfaat dan menjaga hubungan sosial.

Eksis itu penyakit jiwa ringan yang ingin mendapatkan apresiasi instant. Tentu berbeda ketika kreativitas yang ditunjukkan di media sosial. Ia ingin mendapatkan kritik dan saran bukan apresiasi instan.

Malik juga mengingatkan, dalam bermedia sosial jangan sampai yang jauh mendekat dan yang dekat semakin menjauh.

“in group tapi out group. Ketika in group justru out group yang membawa kita teralineasi dirinya real justru di bagian dari tempat ini. Kalau anda terbiasa teralineasi. Anda disini tidak bersama kita. Reuni di sana tapi entah di mana . Ini berbahaya, karena kebahagian ada pada dunia maya semata,” pungkas Aktivis NU. (rais)