Miskomunikasi Panitia Orsenik Akibatkan Kericuhan Suporter FSH dan FDK

0
624
Dema FSH, Nur Fadlullah saat meminta maaf dengan hakim garis pertandingan bulu tangkis orsenik, 21/9. FOTO: Syai

Justisia.com Perhelatan Orsenik 2018 dihari pertama tercoreng oleh ulah suporter antara Syariah dan Dakwah. Kericuhan tersebut terjadi setelah pertandingan Bulu Tangkis antara Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) dan Fakultas Dakwah Komunikasi (FDK) di babak semifinal.

Saat ditemui reporter justisia.com, Dema UIN Walisongo, Fahmi mengatakan terjadi salah paham antara Syariah, WSC, dan Dakwah. “Biasalah dalam forum olahraga terjadi miskomunikasi,” tutur Fahmi di GSG, jumat (21/9) sore.

Dia menjelaskan ada yang tidak terima dan ada yang menanggapi terlalu berlebihan. Lalu muncul terjadinya fanastisme masing-masing fakultas.

Dia menambahkan antara Syariah, WSC, dan Dakwah sudah didamaikan.

Pantauan justisia.com pada pukul 17.03, pihak syariah yang diwakili oleh Dema Fakultas, Ahmad Nur Fadhullah meminta maaf terhadap salah satu hakim garis yang memimpin pertandingan Bulu Tangkis. Sekitar pukul 17.07, Dema UIN Walisongo melakukan audiensi antara Syariah dan Dakwah. Alhasil, mereka bisa kembali

Ketidakjelasan Dewan Juri

Salah satu suporter mengatakan terkait kejadian tersebut. Ada salah satu yang mengganjal yaitu hakim garis yang memimpin pertandingan antara Syariah dan Dakwah tersebut berasal dari Dakwah.

Pihak Dema Universitas yang diwakil Fahmi mengatakan tidak tahu menahu. Karena Dema fokus dengan konsep, sedangkan tekhnis dikembalikan ke panitia orsenik.

Terkait hal tersebut, reporter justisia.com menemui panitia orsenik, Leni Ristiyani untuk minta penjelasan terkait adanya salah satu hakim garis yang berasal dari Dakwah.

Leni sendiri sudah mengkomunikasikan dengan UKM Univeristas dalam hal ini WSC untuk mencari dewan juri yang bukan berasal dari fakultas yang bertanding.

Dia menambahkan pihak panitia orsenik baru menerima nama-nama dewan juri H-2 Orsenik. Itu dirasa panitia orsenik sendiri terlalu mepet.

Leni mengaku mau melarang wasit jangan itu tapi sudah mepet. “Saya sendiri tidak tahu hakim garis yang memimpin pertandingan Bulu Tangkis antara Syariah dan Dakwah berasal dari Dakwah,” kata Leni di depan GSG, Jumat (21/9) malam.

Leni beranggapan karena mepetnya penyetoran nama-nama dewan juri mengakibatkan hal tersebut.

Dia mengatakan sudah berkomunikasi dengan pihak WSC jauh-jauh hari untuk menyerahkan nama-nama dewan juri. Namun yang terjadi H-2 baru diberikan nama-namanya.

Atas kejadian tersebut, Leni akan mempertegas lagi bahwa dewan juri tidak boleh dari fakultas yang bertanding.

Minimnya Pengamanan

Saat terjadinya kerusahan didalam GSG, tidak ada satupun Menwa yang berada ditempat. Terkait hal tersebut, Fahmi tidak mengetahui karena yang mengetahui dari pihak panitia orsenik.

Leni mengatakan terjadi miskomunikasi antara panitia orsenik dengan Menwa. Leni beranggapan bahwasanya ketika mengirimkan surat itu dari jam 07.00-selesai. Namun dari Menwa merasa pengawalannya sampai jam 16.00.

Terkait hal tersebut, Leni akan meminta kepada Menwa untuk mengawal sampai selesai pertandingan.

Dia beranggapan bahwasanya butuh keamanan khusus di GSG untuk hari sabtu dan minggu. “Idealnya kemanan di GSG yaitu 10 Menwa,” tukasnya. (rep: syai)