Miskomuniasi dalam Beragama

0
237
http://blogs.tribune.com.pk

Judul : PK

Sutradara : Rajkumar Hirani

Produser : Vidhu Vinod Chopra dan Rajkumar Hirani

Pemeran : Amir Khan, Anushka Sharma, Sushant Singh Rajput

Distributor : UTV Motion Pictures

Tanggal Rilis : 19 Desember 2014

Durasi : 153 menit

Negara : In

Bahasa : Hindi

 

Kiblat film dunia saat ini masih dipegang oleh Hollywood, namun tidak menutup kemungkinan hal tersebut akan berubah seiring berjalannya waktu. Salah satu perusahaan film asal India, Bollywood juga mempunyai penggemar yang fanatik diberbagai belahan dunia. Di Indonesia sendiri, perang antara film-film yang diproduksi oleh Hollywood dan Bollywood akan menjadi perbincangan yang sangat menarik.

Hollywood selalu identik dengan action sebagai ciri khasnya, sedangkan Bollywood identik dengan drama romansanya ala negeri Tajmahal. Bollywood dalam setahun, mampu memproduksi 1.000 film (tempo.co, rabu, 5/12/12), menjadi nilai plus yang dimiliki Bollywood. Bollywood tidak selalu identik dengan drama percintaan, ada juga drama action. Pada 19 Desember 2014, publik di gemparkan oleh Bollywood dengan rilisnya film yang berjudul PK.

Film PK menyuguhkan konten cerita yang berupa sosok alien yang mempertanyakan agama tertentu yang menuai banyak kecaman. (cnnindonesia, selasa, 20/01/15). Film yang disutradari Rajkumar Hirani dan diproduksi Vidhu Vinod Chopra dan Rajkumar Hirani dengan durasi 153 menit yang dibintangi Amir Khan dan Anuska Sharma sebagai aktor utamanya.

Film drama komedi Satir India ini menjadi film terlaris sepanjang masa di India dengan total penghasilan US$ 122,66 juta sejak rilisnya. Film PK mengambil set di New Delhi dengan alur cerita mencari Tuhan untuk menemukan remote pesawat luar angkasa.

Remote Hilang menjadi Titik Balik

Sesosok alien (PK) turun ke bumi untuk melakukan penelitian dengan berbekal kalung yang berguna memanggil pesawatnya ketika sudah menyelesaikan misinya. Saat PK berjalanan menghampiri seorang laki-laki tua renta dan laki-laki tersebut tiba-tiba mengambil kalung PK kemudian melarikan diri ke New Delhi dan menjual kalungnya kepada seseorang.

Dari situ menjadi titik balik PK beradaptasi dengan manusia dibumi, dari tata cara berpakaian, dalam bermasyarakat, tutur bahasanya, hingga perihal ibadah. Pada mulanya kesulitan dalam menjalani itu semua, namun PK tidak menyerah begitu saja.

PK belajar dari apa yang di hadapinya kecuali belajar bahasa, karena bahasanya berbeda dengan yang lain. PK belajar bahasa hanya cukup dengan memegang tangan seorang perempuan selama 6 jam penuh, setelah itu PK mengetahui bahasa yang digunakan disekitar.

Selama masa pencarian kalungnya dia menemukan hal yang baru, dari kertas yang bergambar Mahatma Gandhi (uang) bisa ditukar dengan makanan, lalu PK mencari uang di mobil bergoyang diberbagai tempat dan momen.

Sewaktu hendak membeli sesuatu, PK lantas bercerita apa masalahnya, lalu seorang penjual, mengatakan yang bisa membantu kamu adalah Tuhan, disitu PK terus mencari Tuhan sampai-sampai membuat pamflet, kurang lebih bertulis seperti ini Tuhan telah hilang, yang menemukan Tuhan bisa lapor ke saya

Panggilan Salah kepada Tuhan

Dalam mencari remote, PK mencari Tuhan dengan beragama, namun tidak hanya satu agama dalam proses pencariannya, bahkan agama apapun yang ditemuinya ia ikuti, berharap PK bisa berdoa agar Tuhan mengembalikan remotenya yang hilang.

PK mengetahui bahwa remotenya berada di tangan seorang pemimpin spiritual yakni Taspavi Maharaj. Sayangnya Taspavi enggan memberikan remote tersebut ke PK, ia mengklaim remote tersebut dari Tuhan yang diberikannya di Gunung Himalaya.

Menurut PK, Taspavi salah nomor dalam memanggil Tuhan itu merupakan kiasan belaka, bahwas Taspavi selama ini dalam berhubungan dengan Tuhan telah salah sambung. Disini terjadi perselisihan antara PK dan Tapasvi Maharaj, lalu Jaggu menjadi objek dalam mencapai klimaks perselisihan keduanya.

PK dibantu oleh Jaggu untuk membuktikan apa yang selama ini Taspavi salah dalam cara ber-Tuhan, karena Tuhan yang dipanggil Taspavi bukan Tuhan yang sesungguhnya.

Miskomunikasi antara manusia dengan Tuhan sudah menjadi hal yang lumrah dalam beragama, justru orang yang miskomunikasi dengan Tuhan tetap melanjutkan hubungan tanpa pikir panjang mengenai dampaknya. Miskomunikasi sudah menjadi hal yang wajar pada setiap agama.

Agama yang Benar

Dalam perjalanan mencari Tuhan, PK mengetahui bahwa antara agama satu dengan lainnya berbeda. Dalam berdoa ataupun berpakaian antara agama satu dengan agama lainnya juga berbeda, meski berbeda namun masih berjalan seiringan dalam satu daerah atau waktu.

 

PK berpindah-pindah agama bukan untuk menimbulkan permasalahan, namun PK berpindah-pindah agama untuk mencari Tuhan sesungguhnya yang bisa mengembalikan remotenya. Dalam perjalannya tak satu agamapun yang memberikan pencerahan bagi PK.

Meski begitu PK tetap berusaha menemukan remotenya dengan terus beragama dan percaya kepada agama apapun sebagai yang benar, namun dalam permasalahannya tidak ada yang bisa menolong seketika itu, butuh proses yang panjang.

Klaim-klaim agama tertentu dengan kebenarannya, di lain sisi menilai salah terhadap agama tertentu bukan hal yang di benarkan. Dalam film ini kita dapat memahami bahwasanya semua agama itu benar menurut pengikutnya, tergantung bagaimana kita menyikapinya. (WHB/MFT)