Mentahbiskan Dangdut yang Lekang Zaman

0
123
sumber foto: tirto.id

Oleh: M.Ainul Yaqin

Malam itu saya hendak pulang kampung menuju Surabaya, untuk sekedar melepas rindu-gulana terhadap keluarga. Juga rasa penat yang membosankan di tanah rantauan. Tiket kereta api dari Semarang dengan tujuan akhir Surabaya untuk esok hari sudah ludes terjual. Terpaksa perjalanan menggunakan bis ditempuh, meski jauh lama lebih dibanding menaiki kereta juga pastinya terasa jenuh dan lelah bertambah. Yassalam!, mungkin memang bukan rejeki saya.

Akhirnya siang harinya kuputuskan dengan mantap tanpa gagap menaiki bis. Hal yang paling membedakan bis dengan kereta api dan pesawat sebagai kendaraan massal adalah diputarnya musik dangdut. Ya dangdut koplo. Kala itu perjalanan saya dari Semarang menuju Surabaya lagu dangdut koplo khas pantura menjadi satu-satunya penghibur para penumpang. Dentuman kendang yang mengoyak-ngoyak daun telinga ditambah petikan gitarkhas OM Sera membuat musik ini semakin nyaman untuk dinikmati, tak jarang muncul solo gitar yang membuat terpana denganshreddingyang membutuhkan kematangan teknik bermain gitar.

Luasnya range yang bisa diserap oleh dangdut adalah bukti lain bahwa sebenarnya dangdut itu bukan musik main-main atau musik rendahan. Jika metal bisa melahirkan sub genre seperti hair metal, progressive metal dan sebagainya maka dangdut pun bisa melahirkan sub genre baru yang merupakan crossover dari berbagai jenis musik. Tak kurang ada sub genre Dangdut Koplo, Congdut (Keroncong Dangdut), Dangdut Campursari, Disco Dangdut, House Dangdut yang semua sempat populer.

Dangdut dan Grassroot

Mobilisasi dengan menggunakan strategi politik berupaya mengubah realitas eksternal. Di mana mobilisasi cenderung fokus pada perubahan hubungan politik, ekonomi, dan kebijakan. Dalam konteks kultural, mobilisasi cenderung melihat transformasi interior sebagai cara perubahan dalam sistem nilai. Hal ini bertujuan untuk mempertahankan atau merestorasi dan merevitalisasi sebuah budaya. Sehingga mobilisasi lebih banyak fokus pada gagasan dan kepercayaan, nilai, norma dan identitas.

Dalam dimensi kultural, pencerahan Gulen menegaskan adanya sebuah komponen yang strategis, yakni: kesadaran kolektif yang bersifat nasional. Tanpa komponen ini, masyarakat tidak dapat melangkah maju. Adanya kesadaran kolektif secara nasional akan menjaga hubungan yang erat, harmoni dan stabil. Hal ini menjadi cara bagi masyarakat dalam menyelesaikan urusan dan sumber budayanya. Sehingga, kala ada penolakan terhadap prinsip-prinsip dan komponen pokok yang membentuk budaya masyarakat, maka ini adalah sebuah kebutaan. Begitu juga ketika ada yang berupaya menyingkirkannya dari masyarakat akan menimbulkan kebingungan menyeluruh di masyarakat.Inilah yang nampaknya layak disematkan untuk musik dangdut. Dangdut selama ini mungkin dianggap musik kasta bawah, musik representasi masyarakat kaum pinggiran yang dipandang sebelah mata. Walaupun telah banyak upaya untuk mengangkat harkat musik dangdut, tapi tetap saja khalayak menganggap musik dangdut itu musik pinggiran.

Tapi tunggu dulu, apakah dangdut memang serendah itu? Mungkin saja tidak. Dangdut yang kita kenal di Indonesia sebenarnya merupakan percampuran dari berbagai jenis musik yang tumbuh di Indonesia dan dari luar negeri, semacam percampuran multikultur yang menghasilkan sebuah musik yang gampang diterima di telinga dan memancing badan untuk bergoyang, dalam sebuah musik dangdut mungkin bisa ditemukan aroma musik melayu, ramuan musik india, sedikit nuansa gambus dari Arab bahkan ada tarikan kencang solo gitar yang mirip-mirip solo gitar band rock kelas dunia.

Mungkin tidak ada musik yang sekaya dangdut yang meramu berbagai jenis musik menjadi sebuah musik yang universal.Inilah yang terjadi di Indonesia, di mana dangdut identik dengan masyarakat kelas bawah atau grassroots, sedangkan Jazz misalnya akan diasosiasikan sebagai masyarakat kelas atas. Jazz adalah musik berat untuk mereka yang berpendidikan tinggi, sementara dangdut dengan segala hormat akan selalu identik dengan musik kelas rendahan, marjinal.

Banyak orang berkata bahwa dangdut adalah musik rakyat yang liriknya dekat dengan keseharian masyarakat grassroots, dan oleh karena itu hipster dan menengah ke atas sangat benci dengan dangdut karena tidak intelek dan norak. Tentu saja, musik ini biasa dinikmati mulai dari para tukang becak, supir truk, hingga para remaja desa. Tak heran memang jika dangdut dikatakan musik ndeso, wong penikmatnya juga wong ndeso. Kalau wong ndesopenikmat jazz mungkin seminggu mereka akan berpuasa. Karena musik jazz biasa dimainkan di bar-bar besar dengan ditemani anggur yang satu tegukan bisa tiga ratus ribu. Hahah, ndak masuk blas! Ngalah-ngalahiharga berat sekarung. Namun, sesungguhnya selama masyarakat menengah ke bawah masih ada, dangdut akan terus berjaya.

Andrew Weintraub, seorang etnomusikolog yang melakukan penelitian tentang dangdut di Indonesia dan menghasilkan buku sejarah musik dangdut menyatakan bahwa sesungguhnya Dangdut adalah musik khas Indonesia, karena ada sifat khas Indonesia yang tidak ditemukan dari musik Melayu dan India, di antaranya tema lagu yang dekat dengan kehidupan orang kebanyakan. Weintraub menyimpulkan bahwa dangdut adalah musik asli Indonesia yang dibuat orang Indonesia untuk orang Indonesia. Itulah mengapa dangdut akan terus berjaya, karena dangdut adalah musik rakyat Indonesia.

Dangdut yang Semakin Semi Goyang Striptis

Munculnya lagu dangdut bermula dari respons lagu pop, yang kemudian dengan perbaikan dan terus-menerus akhirnya menjadi sesuatu yang umum dan bermutu tinggi. Dangdut sebagai “perlawanan kultural” tidak selamanya dapat menghasilkan mutu tinggi pula dalam produk-produk yang ditawarkan pada publik. Kekurangan yang sekarang dirasakan oleh sejumlah penyanyi dangdut, dapat dilihat sebagai upaya untuk menampilkan substitusi (penggantian) melalui “goyangan-goyangan erotis, akibat ketidakmampuan menyajikan persembahan lagu dangdut bermutu tinggi. Maka terjadilah “pemberontakan dalam pemberontakan”, yang lahir dari ketidakmampuan memberikan persembahan bermutu tinggi. Jika dilihat dari sudut pandang ini, maka telah terjadi kesenjangan kultural di lingkungan lagu-lagu dangdut juga.

Memang dalam menikmati musik dangdut kita tidak perlu susah payah untuk mengantri membeli tiket seperti halnya menonton konser akbar ataupun bioskop. Musik dangdut selalu hadir setiap minggunya di kampung-kampung tanpa kita harus bersusah-payah saling sikut untuk mengantri tiket. Dangdut itu simpel. Hanya tinggal datang dan menyalakan rokok dengan tenang lalu ikut menimbrung dalam sebuah lingkaran-lingkaran orang untuk saling bergoyang bersama kita sudah dapat menikmatinya. Sungguh musik yang menawan.

Namun kejayaan ini lambat laun semakin pudar semenjak munculnya goyangan erotis yang menimbulkan anti-pati kelas menengah.Bahkan banyak orang bilang semakin berbaju minimalis semakin laris manis sawerannya. Tapi mau tidak mau, walaupun dianggap musik kampungan dengan segala embel-embel musik erotis atau apalah, dangdut akan selalu berjaya di lapisan kelas sosial tertentu. Di setiap sudut-sudut pasti akan ada orang yang memutar musik dangdut, dibis kota, di jalan, di kampung, di headset serta dimana-mana, mungkin dangdut adalah musik yang paling banyak didengarkan.

Jika kita melihat bahwa “perlawanan kultural” terhadap kemapanan yang ada, mengambil bentuk yang sangat mengerikan bagi para pendidik atau orang tua yang “konvensional”, karena terasa sekarang ini telah terjadi perkembangan baruyaknipenggunaan erotisme yang berlebihan dalam sebuah seni akhirnya menggunakan “bahasa defensive” (bertahan) melalui khotbah agama dan “penjelasan moral” seperti banyak terjadi dewasa ini. Bahwa tempat-tempat peribadatan menjadi “ajang dialog” mengenai kepatutan seni dan budaya, menunjukkan dengan jelas adanya “krisis budaya” tersebut. Ini berarti terjadinya disfungsi (salah-peran) yang harus dikembalikan ke jalan “yang benar”. Tentu saja ini hal mudah untuk dikatakan, namun sulit dilaksanakan.