Meniti Jejak Gus Dur

0
187
foto : Sasti

Judul : Gus Dur Jejak Bijak Sang Guru

Penulis : Anom Whani Wicaksana

Penerbit : C-Klik Media

Cetakan : 2018

Tebal : 163

ISBN : 978-602-5448-32-4

Resentator : Dwi Prasasti

Anom Whani Wicaksana merupakan seorang penulis yang berminat pada dunia literasi, terutama dalam kajian sejarah dan penulisan biografi. Dalam bukunya kali ini, yang berjudul “Gus Dur Jejak Bijak Sang Guru Bangsa”Anom Whani Wicaksana dapat mengemasnya secara rinci dari masa kecilnya Gus Dur, karier, dan sampai akhir hayatnya.

Kali ini Anom Whani Wicaksana dalam tulisannya menjelaskan bahwa perjalanan hidup seorang Abdurrahman Wahid familiar disebut Gus Dur memiliki tingakah yang berbeda pada dengan manusia umumnya. Dalam kehidupan Gus Dur, banyak cerita yang unik, lucu, bahkan langka. Di masa kecilnya ia tinggal bersama kakeknya yaitu Hasyim Asyari. Selain sebagai kakek, pendiri organisasi Nahdlatul ulama juga menjadi guru bagi Gus Dur. Pada usia

Pada saat ayahnya, Wahid Hasyim terpilih sebagai ketua Majlis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), ia beserta keluarganya pindah dari Jombang ke Jakarta. Di sana ia menempuh pendidikan formal di SD Matraman Perwari. Di masa itu ia telah diajarkan untuk membaca buku non-Muslim, koran , dan majalah oleh ayahnya untuk memperluas pengetahuannya.

Gus Dur semaca kecil terbilang banndel dan nakal, namun dibalik itu semua, ia merupakan bocah yang sangat berbeda diantara teman sebayanya. Ia sangat cerdas dan pemberani. Ia tidak segan-segan akan memberikan komentar pada siapapun, meskipun yang ia komentari itu ustadznya sendiri.

Menjelang kelulusannya di SD, ia memenangkan lomba karya tulis se-wilayah kota Jakarta dan menerima hadiah dari pemerintah. Pengalaman itu menunjukkan bahwa ia telah mampu menuangkan gagasan atau ide-idenya ke dalam tulisan.

Selama perjalanannya menuntut ilmu, ia juga pernah menuntut ilmu di luar negeri yaitu Kairo, Mesir dan Bahgdad. Di sana ia tidak pernah belajar secara formal, dikarenakan semua mata pelajaran yang diajarkan menggunakan metode hafalan, dan jsudah pernah ia pelajari di Indonesia bahkan mungkin sudah diluar kepala. Karenanya Ia merasa bosan. Untuk menghilangkan rasa bosannya dan selama ia masih bisa menikmati di negeri orang, maka ia mendatangi perpustakaan yang ada disana. Gus Dur merupakan sosok penggemar film Perancis, dan sangat menggemari sepak bola. Tak heran jika Gus Dur juga dianggap seorang pengamat sepak bola.

Setelah ia kembali ke Indonesia. Ia menekuni lagi bakatnya sebagai penulis dan kolumnis. Ia antara lain menulis untuk majalah Tempo dan surat kabar Kompas. Tulisannya dapat diterima dengan baik. Ia juga mengembangkan reputasi sebagai komentator sosial. Sehingga melalui tulisan-tulisnnya yang baik dan sesuai dengan kultur sekitar, ia mulai dikenal di masyarakat luas.

Meskipun kariernya sukses tapi tidak menutup kemungkinan ia masih merasa kesulitan hidup karena pendapatannya hanya dari menulis dan pembicara seminar. Ia lalu mendapat terobosan baru untuk menjadi penjual kacang dan mengantarkan es.

Perlu kita ketahui bahwa sosok Gus Dur merupakan sosok yang sangat rendah hati dan tidak sombong maupun tamak. Meskipun ia lahir di kalangan bangsawan ia tidak mengandalkan nasab kebangsawanannya, ia tetap berusaha dengan tenaganya sendiri untuk menghidupi keluarganya meskipun harus menjadi penjual kacang dan es.

Pada tahun 1970-an, ia mulai aktif secara formal di Nahdathul Ulama (NU). Kepemimpinan Gus Dur di NU juga berkaitan silsilah keluarganya, dimana pendiri NU adalah kakeknya sendiri. Selain alasan itu ia memiliki kualitas yang mumpuni. Ia adalah sosok pemikir dan pemimpin yang baik dalam memimpin NU. Dengan faktor-faktor diatas, tidak menutup kemungkinan Gus Dur memegang kepemimpinan di PBNU dalam Muktamar NU ke-27 di Situbondo. Jabatan tersebut kemudian dikukuhkan kembali dalam Muktamar NU ke-28 di Pesantren Krapyak Yogyakarta (1989) dan Muktamar NU di Cipasung Jawa Barat (1994). (38)

Selama ia menjadi pemimpin di PBNU, banyak gebrakan-gebrakan yang baru, sehingga membuat terkejut lawan-lawan politiknya. Salah satu gebrakannya adalah Bank Nusumma. Dimana kerjasamanya melibatkan pengusaha besar dari Tionghoa.

Dalam buku ini memaparkan bahwa ia adalah seorang yang selalu menunjukkan sikap anti-kekerasan, berkomitmen teguh pada persatuan bangsa, dan konsisten membela kepentingan rakyat. Sikapnya tersebut ia praktikkan melalui perjuangan yang panjang demi masyarakat Indonesia. Ia menuntut ilmu di Indonesia hingga ke luar negeri. Ia mengajar di pesantren dan menjadi kepala madrasah. Ia menjadi komentator sosial dengan menulis di media massa. Ia juga aktif dalam gerakan sosial melalui lembaga swadaya masyarakat, seperti LP3ES. Bahkan ia masih terus berjuang ketika menjadi ketua PBNU hingga menjadi Presiden RI. (47)

Abdurrahman Wahid terpilih sebagai Presiden RI pada 20 Oktober 1999 dan wakil presidennya adalah Megawati Soekarno Putri. Pidato pertamanya setelah dilantik menjadi presiden adalah ia ingin meningkatkan pendapatan rakyat, menegakkan keadilan dan mendatangkan kemakmuran, serta mempertahankan keutuhan bangsa dan negara.

Dalam kepemimpinannya sebagai Presiden RI, banyak yang dilakukan Gus Dur untuk merealisasikan tujuannya. Ia banyak membangun relasi dengan negara manapun dan membangun persahabatan dengan para pemuka dunia. Sifat yang melekat pada diri Gur dur yang tidak pernah hilang ialah nyeleneh dan humoris.

Dibalik ia mendapatkan sanjungan-sanjungan dari masyarakat yangg menggemarinya, banyak juga yang sangat membenci dia. Salah satu musuh terbesarnya adalah Soeharto. Bukan berarti musuh disini adalah musuh lahir batin. Maksud musuh disini adalah dikarenakan pola pemikiran saja yang berbeda.

Gus Dur menjabat sebagai presiden hanya bertahan 2 tahun saja, dikarenakan banyak kontroversi yang terjadi, lebih-lebih ketika Gus Dur ingin membuka jaringan dengan Israel. Serentak pula para pejabat lainnya bahkan masyarakat luar Indonesia pun menentang. Dengan adanya hal itu, membuatnya para pejabat lain geram dan ingin melengserkan Gus Dur.

Pada 24 Juli 2001, kursi kepemimpinan Indonesia turun di tangan Megawati sebagai wakil presiden dan naik sebagai Presiden RI saat itu. Pada 2009 ia menderita beberapa penyakit, bahkan sejak di kursi presiden pun ia mengalami gangguan penglihatan. Sehingga ketika mendapat surat maupun buku seringkali dibacakan. atau ketika menulis seringkali dituliskan oleh anggota keluarga maupun asistennya. Sempat ia menjalani perawatan Rumah Sakit Jombang kemudian dibawa ke RS Cipto Mangunkusumo Jakarta.

Disinilah hembusan nafas Gus Dur berakhir, ia wafat pada hari Rabu 30 Desember 2009 jam 18.45 WIB. Jenazah almarhum dimakamkan di Jombang pada Kamis 31 Desember 2009. Kabar meninggalnya pun beredar begitu cepat, sehingga banyak tokoh yang kaget dengan berita meninggalnya Gus Dur. Bukan hanya kalangan NU yang merasa sangat kehilangan, seluruh umat Indonesia dan dunia baik lintas agama pun turut berduka.

Gus Dur adalah sosok yang sangat fenomenal, ia banyak dikenal oleh setiap kalangan dan etnis manapun. Bahkan almarhum dinobatkan sebagai bapak Tionghoa dan bapak plurarisme. Karena sikap Gus Dur yang selalu memihak kaum tertindas yang tidak menyoal apa agama, ras, maupun etnis.

Almarhum menjunjung tinggi nilai toleransi, karena keberagaman yang kita milikilah yang harus dijaga dan dipertahankan. Seperti kata beliau bahwa “Indonesia bukan negara agama, tapi negara beragama”.