Mengenang Tjokroaminoto untuk Perbaikan SDM

0
336
Sumber Ilustrasi: www.rumahbelajarpandawa.com

Oleh : M. Ali Masruri

(Aktivis Lintas Iman dan Kepercayaan UIN Walisongo)

Hari Minggu tanggal 17 Desember 2017 adalah hari wafatnya Tokoh yang memiliki nama besar pada masanya, yakni pemimpin organisasi Islam terbesar se Hindia Belanda, Sarekat Islam (SI), H.O.S Tjokroaminoto. Sebelumnya maaf jika tulisan ini lumayan terlambat hadir sebagai simbol respon refleksi dari Tokoh besar tersebut. Akan tetapi melihat dari satu kaidah “Jika tidak bisa melakukan dengan sempurna maka jangan tinggalkan semuanya”,maka saya tetap menulisnya minimal ini masih dikatakan tanggal 17 Desember menurut penanggalan Masehi, (pkl 22.59, 17/12).

Ada satu ungkapan yang seharusnya menyetuh hati para pengembara kemakmuran bangsa, ini kata Tjokroaminoto “Adapun yang menjadi dasar pengertian sosialismenya Nabi Muhammad yaitu kemajuan perikeutamaan dan kemajuan budi pekerti rakyat. Umat Islam adalah orang yang cakap sekali dalam melakukan kehendak sosialisme yang sejati itu.” Tjokroaminoto sangat mendambakan sebuah kemajuan perikeutamaan dan budi pekerti rakyat, saya berpikir perikeutamaan yang dimaksud Tjokro adalah sebuah keunggulan SDM atau kalau meminjam istilah pertanian adalah menciptakan bibit unggul. Hal ini menjadi sangat penting saat kita melihat dari turunan hasil sebuah SDM yang unggul dan ditambah sebuah budi pekerti.

Sebelum melanjutkan pembicaraan tentang kemajuan perikeutamaan, sepertinya kita perlu melihat pula ungkapan Pramoedya Anantatoer yaitu “Hanya karena kurangnya unsur kemajuan, apalah kemudian arti persatuan tanpa kemajuan?”, (normantis.com). Jika kita kaitkan dengan ungkapan Tjokro, maka hasilnya adalah keunggulan SDM sebuah bangsa dapat diukur dari seberapa pesat kemajuan yang diperlihatkan dari bangsa tersebut.

Masih kata Pram, apa arti sebuah persatuan tanpa kemajuan, terkadang bangsa kita masih silau dengan sebuah kuantitas yang besar. Organisasi akan dikatakan besar dan hebat manakala memiliki kuantitas anggota yang besar pula, sehingga lupa akan kualitas SDM-nya. Padahal logikanya bulan akan tetap lebih terang dari bintang-bintang walaupun satu banding seribu. Kita tahu bangsa Yahudi mampu menjadi bangsa yang disegani oleh dunia bukan karena kuantintasnya tetapi kualitasnya.

Moment 17 Desember yang akrab di kalangan para intelektual atau pelajar, mestinya dijadikan momentum untuk muhasabah diri, mengapa sampai saat ini dengan usia kemerdekaan semakin tua kita masih merasa menjadi bangsa yang tertinggal, maaf, ini terlepas dari berbagai perspektif tentang memaknai sebuah arti ketertinggalan tersebut.

Kontruksi perspektif dalam lingkup kehidupan sosial, memang sering membelenggu sebuah kebebesaan berpikir untuk melintasi batas-batas yang terbangun, entah ini dikatakan secara alami atau buatan para pemikul kepentingan. Coba kita renungkan sebentar, kita sering merasa nyaman hanya dengan mengingat cerita romantisme para pendahulu, hingga terlena dan melahirkan stagnasi kehidupan.

Bagi seorang Tjokroaminoto mengejar tujuan hidup yang lebih tinggi adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, begini kata Tjokro “Sosialisme bisa menjadi sempurna apabila tujuan hidup dari tiap-tiap manusia tidak hanya untuk mengejar keperluan dan kesenangan biasa, ialah keperluan dan kesenangan yang ada di dalam dunia ini, tetapi tiap-tiap manusia hendaklah juga mengejar tujuan hidup yang lebih tinggi,” (Tjokroaminoto, 1963:72).

Dalam persoalan interpretasi sebuah teks, saya mengartikan yang dikehendaki oleh Tjokro tentang tujuan hidup yang lebih tinggi adalah proses perjalanan hidup yang mengarah pada kemajuan bukan stagnan, oleh karena itu sebuah kebodohan kiranya jika seorang individu hanya bangga terhadap apa yang telah ia dapatkan tanpa menengok kanan-kirinya yang terus berjalan bahkan berlari tanpa berhenti.

Selama ini saya lihat persoalan yang sesungguhnya sedang diderita oleh diri kira adalah kurangnnya kesadaran akan pengetahuan dan kejujuran terhadap diri-sendiri. Alhasil kita terlena terhadap kenikmatan fatamorgana yang telah menyihir akal dan hati kita sebagai layaknya manusia yang mestinya berpikir. Bukankah kita sangat akrab dengan ungkapan bahwa “al-insanu hayawan an-nathiq”manusia adalah hewan yang berpikir. Bergerak tanpa berpikir adalah konyolisasi, sedangkan berpikir tanpa bergerak adalah halusinasi.