Desakralisasi Rumah Tuhan

0
223
sumber ilustrasi : jurnalsumut.com

Tempat peribadahan merupakan salah satu komponen dari pada agama. Adapun Indonesia yang mengakui beberapa agama diantaranya: Islam, Hindu, Budha, Kristen, Katolik, dan Kong Hu Chu tidak ada yang tidak mempunyai tempat peribadahan disetiap daerah dimana umat agama itu berada.

Adapun tempat peribadahan bagi umat Kristen dikenal dengan Greja, begitu juga Katolik, sedangkan tempat ibadah umat Hindu disebut Pura, Budha, Wihara, Kong hu chu, Kelenteng, dan Masjid merupakan tempat peribadahan bagi umat Islam.

Adanya tempat peribadahan disetiap agama tujuannya, selain mendekatkan diri secara khusus kepada tuhan, juga digunakan untuk menggelar ritual keagamaan hari besar dimasing – masing umat beragama. Seperti memperingati hari maulid Nabi Muhammad bagi umat Islam dan memperingati hari kelahiran Yesus bagi umat Kristen. Dari keseluruhan tempat ibadah dinobatkan sebagai Rumah Tuhan.

Seiring dengan perhelatan pesta Demokrasi pada tahun 2017 , yang digelar di sebagian wilayah Indonesia, salah satunya di wilayah ibu kota DKI Jakarta, tempat ibadah tersebut dijadikan tempat paling jitu untuk mengkampanyekan klien politiknya. Karena disana tempat terdapat berkumpulnya manusia. Baik mengkampenyekan menjadi tujuannya ataupun ber khotbah yang diselingi dengan materi bernuansa politik.

Arus politik yang semakin deras mengoncang, bukan hanya sosok politisi yang mundar mandir untuk mempromosikan kliennya, tokoh agamapun ikut serta memerankan dirinya untuk mendukung calon pilihan dengan mempromosikan kepada jamaahnya melalui ceramah. sehingga tempat ibadah menjadi solusi untuk meyaqinkan kepada mereka.

Tempat ibadah yang seharusnya suci dari hal yang bersifat duniawi, kini perlahan lahan mulai mudar kesucian dan kesakralannya akibat dari kampanye politik, yang mengumbar kebencian terhadap calon yang tidak sejalan dengan pilihannya. Seperti yang dialami oleh calon wakil Gubernur DKI nomor urut 2 Djarot Saiful Hidayat beberapa hari yang lalu, dilarang oleh penghuni Masjid untuk melaksanakan ibadah di Masjid tersebut, dengan alasan karena berpasangan dengan Ahok/ Basuki Cahaya Purnama yang notabenenya non muslim.

Rupanya, politik berbau SARA masih belum bisa di minimalisirkan keberadaanya di negara yang majemuk masyarakatnya, adanya konflik antar etnik, antar golongan, dan antar agama masih belum bisa menandakan bahwa sikap persatuan masih belum terencana.

Disini, Luqman Hakim selaku Mentri Agama Republik Indonesia yang dirilis pada surat kabar Kompas pada hari Kamis (04/05/17) meminta kepada pemuka agama untuk tidak memberikan ceramah yang bisa memicu konflik. Penceramah pengelola rumah ibadah diharapkan memberikan ceramah yang menyejukkan.

Sebelum ada imbauan ini, Luqman Hakim, menyerukan melalui peraturan mentri tentang ceramah dirumah ibadah pada tanggal 28 April 2017. Salah satu poinnya diantara 9 poin yaitu :

  • Disampaikan oleh penceramah yang memiliki pemahaman dan kometmen pada tujuan utama diturunkannya agama, yakni melindungi harkat martabat kemanusiaan, serta menjaga kelangsungan hidup dan perdamaian umat manusia. mengenai materi dilanjutkan pada poin berikutnya
  • Materi yang disampaikan tidak bermuatan penghinaan, penodaan, pelecehan terhadap pandangan, keyaqinan dan praktik ibadah antar umat beragama, serta tidak mengandung provokasi untuk melakukan tindakan diskrimintif. Intimidatif, anarkis, dan destruktif.
  • Selanjutnya, yaitu materi yang disampaikan tidak bermuatan kampanye politik praktis, dan atau promosi bisnis

Peraturan ini tidak serta merta datang dari Mentri untuk mengatur masyarakat, khususnya tokoh agama, melainkan, menurut kaca mata sosilogi hukum, bahwa peraturan ini ada karena melihat masjid yang semestinya digunakan sebagai tempat beribadah mendekatkan diri kepada tuhan serta menyejukkan jiwa. Malah disalah gunakan untuk mengumbar permusahan dan kebencian dengan tanda kutib alasan politik. Seakan akan , tempat peribadahan bukan milik rumah tuhan lagi.

Semoga, dengan adanya peraturan ini, dapat diindahkan oleh setiap masyarakat, politisi, dan tokoh agama dari agama manapun, guna menghindari kemudhorotan dan menjaga perdamaian antar sesama manusia. Khususnya masyarakat Indonesia. Dengan di indahkannya oleh setiap elemen, agar tempat ibadah dapat menunjukkan panorama kesakralannya kembali. (Inunk/j)