Mengakhiri Asusila Pemuda

0
164

justisiaKondisi bangsa Indonesia “dilanda” berbagai masalah. Generasi muda seharusnya memperjuangkan martabat bangsa telah mengalami kehancuran moral. Pergaulan bebas yang terjadi di kalangan remaja menjadi awal dari sebuah sejarah runtuhnya sistem kenegaraan. Jika seperti itu, negeri pancasila ini akan benar-benar jadi legenda. Statusnya sama dengan dongeng, diceritakan sebagai pengantar tidur.

Zaman globalisasi ini, remaja mudah melampiaskan segala bentuk hawa nafsunya. Kebebasan untuk mengakses jaringan internet serta fasilitas yang diberikan orang tuanya memudahkan anak berbuat tindakan amoralitas. Internet diciptakan sebagai pusat informasi. Segala bentuk aplikasi yang dibutuhkan telah tersedia dalam bentuk tulisan maupun gambar. Di sinilah letak pokok permasalahannya.

Memang benar sudah banyak tindakan yang tidak senonoh akibatkan penyalahgunaan internet. Situs-situs yang berbau pornografi sangat mudah diakses oleh siapa saja, tidak perduli berapapun usianya. Meski sudah ada peringatan, tetap saja anak di bawah umur tidak mengindahkan peringatan tersebut. Dampaknya pemikiran seorang anak akan mengalami penuaan dini, sehingga imajinasinya selalu berfantasi kepada hal-hal yang negatif.

Terlebih, fasilitas orang tua untuk membahagiakan anaknya, justru mempermudah ruang gerak anak untuk melanggar etika. Misalnya, anak dibelikan kendaraan bermotor. Besar kemungkinan lebih banyak kerugiannya. Salahsatunya motor digunakan untuk berboncengan dengan gadis dambaannya.

Sikap remaja yang labil, membuat mereka bebas melakukan tindakan yang merugikan dirinya maupun orang lain. Ekonomi merupakan faktor utama penentu sikap baik dan buruknya itu. Dalam kehidupan rumah tangga, orang tua dituntut memenuhi semua hajat hidup keluarga. Kondisi ini sangatlah mustahil jika kesibukan sepasang suami istri hanya digunakan untuk mengawasi anaknya.

Peran orang tua tidak bisa sepenuhnya mengendalikan segala perilaku buah hatinya. Mereka beranggapan jika anak sudah disekolahkan tingkah laku dan moral anak lebih terjamin. Padahal tidak sedikit yang memberitakan soal kenakalan remaja yang pelakunya adalah pelajar. Kabar miring mengenai video porno oleh sepasang siswa-siswi santer terdengar. Hal tersebut menunjukkan bahwa, sekolah tidak bisa memperkecil tingkat amoralitas. Penyebabnya karena sistem pembelajaran di sekolahan hanya memadatkan mata pelajaran formal. Pembelajaran moral mendapatkan porsi minim. Dampaknya, anak pintar dalam bidang intelektual, sedangkan moralnya sangat tidak mencerminkan seperti seorang pelajar.

Salah satu jalan keluarnya adalah mengadakan sosialisasi terhadap para remaja. Diberi terapi mengenai bahaya yang ditimbulkan ketika mereka terlibat dalam hal-hal yang berbau pornografi. Meski tidak mengandung alkohol, nikotin maupun narkoba, pornografi juga mengakibatkan rasa candu yang membahayakan. Secara tidak langsung hal tersebut akan merusak sistem pola pikir manusia. Pikiran yang seharusnya digunakan untuk memikirkan gagasan yang bermanfaat telah disia-siakan untuk sekedar berfantasi tentang kepuasan hawa nafsu. Sosialisasi tersebut harus diimbangi dengan sebuah nilai edukasi (sex education), agar seorang remaja dapat memaknai sex yang semula  sudut pandangnya negatif menjadi positif.

Indonesia sangat membutuhkan seorang pemuda yang layak untuk menjadi penerus bangsa, menggantikan pemimpin bangsa yang habis masa produktifitasnya. Kehidupan masa depan ada di tangan pemuda. Apabila ada remaja yang sudah terjerumus dalam pergaulan bebas, tidak ada salahnya untuk melakukan penyadaran diri. Segala bentuk usaha perubahan yang menuju kebaikan memang sangat sulit. Namun akan lebih berat jika masih tetap berada di dalam lembah dosa yang terbungkus sebuah  kenikmatan.