Menananam Toleransi dari Rumah Tangga

0
131

Judul : Al-Quran Bukan Kitab Teror

Penulis : Dr. Imam Taufik, M.Ag.

Tahun Terbit : februari 2016

Penerbit : Bentang Pustaka

Tebal: xxiv +248 Halaman

Peresesnsi : Fadli Rais

 

Kehidupan memberikan sebuah persyaratan setiap insan untuk menaruh jalan kehidupan pada kaffah yang sesuai dengan al-Quran. Perhatiannya kepada struktur masyarakat terkecil yaitu keluarga. Di dalamnya terdiri dari laki-laki yang berperan sebagai suami, perempuan sebagai istri dan buah hati menjadi karunia untuk didik menjadi penerus masa depan.

Mengedepankan pendekatan naturalistik yang telah terbangun chemistry di dalam rumah tangga menjadi fondasi bina-damai di akar rumput yang akan ditularkan ke masyarakat. Di sana bina-damai mendapatkan tantangan yang cukup riskan, apalagi nilai-nilai al-Quran dijadikan pijakan realitas. Pendekatan teosentris menjadi fokus buku ini untuk memudahkan masyarakat memahami tafsir al-Quran melalui metode tematik

Dalam memahami agama yang akan ditularkan kepada keluarga mendasarkan mazhab yang didalamnya terdapat perbedaan pemahaman (khilaf). Untuk mencapai kehidupan yang sesuai dengan nash Al-Quran dan Sunah Nabi diantara anggota keluarga harus menuju kesepahaman dalam rujukan tersebut sebagaimana dijelaskan dalam ayat ini.

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

Musuh-musuh yang tidak pernah kita sadari sebagai kekuatan yang halus namun nyata. Setiap hawa nafsu muncul sebagai satu tarikan untuk berbuat ketidakbaikan berawal dari struktur sosial paling bawah-keluarga- akan berakibat fatal dalam berhubungan dengan tetangga.

Nafsu terkait erat dengan syahwat, sebuah getaran jiwa untuk memenuhi hal yang sesuai dengan yang disenanginya. Perintah menegakkan keadilan dan larangan mengikuti hawa nafsu pada hakikatnya adalah upaya pemeliharaan martabat kemanusiaan. Seorang pemimpin masyrakat yang mengikui dorongan hawa nafsunya akan merugikan diri, kekuasaan dan masyarakat yang dipimpinnya. (hlm. 237)

  1. kecelakaanlah bagi Setiap pengumpat lagi pencela,
  2. yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung[1600],
  3. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya,
  4. sekali-kali tidak! Sesungguhnya Dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah.

Seorang mukmin sejati apabila ia mampu membuat damai dan menjadikan yang lain sebagai saudara saling mengasihi dan memberi jalan kedamaian antara satu dan yang lainnya. Meskipun tidak menampik kemungkinan maka kekerasan akibat kekerasan akibat perbedaan penafsiran terhadap perdamaian, namun Islam memplokamirkan diri sebagai agama pendukung perdmaian dan anti kekerasan j(hlm.12)

Satu konsekuensi memeluk agama Islam adalah menjadi duta damai dan memberi kenyamanan bagi mereka yang berbeda. Tidak ada rasa tak nyaman bermunculan di saat kita bermukim di suatu tempat. Perwujudan relasi sosial (habluminannas) kausalitas dari konsekuensi di atas. Jika demikian tidak diwujudkan, masyarakat bar-bar menjadi sebuah keniscayaan berlandaskan kitab suci.

Pemahaman atas ajaran agama pun bukan semata bajunya saja, melainkan subtansi yang menjadi landasan hubungan vertikal dan horizontal. Pengejawantahannya pun semakin meningkat keimanan individu berdampak pada rukunnya antarumat beragama, bukan saling menempatkan kebenaran masing-masing tanpa ada titik temu.

Berbanding terbalik jika hanya meningkatkan kualitas individu yang justru melemahkan sisi horizontal pada relasi sosial. Ia justru menjadi salah satu penyebab konflik antarumat yang sulit ditangani, karena mengutamakan ego yang telah tertanam semenjak menjalankan ajaran agama. (hlm. 85-86)

Mengapa demikian ? IDalam perkembanganya, Islam sebagai agama merupakan salah satu bentuk mode of peace karena dalam ajaran agama ditemukan aspek sakralitas dan kebahagian hidup. Tak selesai dalam ajaran al-Quran dan Hadis an sich, Kristen, Yahudi, dan Budha mengklaim eksistensi sebagai mode of peace melalui struktur pengetahuan dan praktik dalam kehidupan.

Kata perdamaian juga menjadi bagian paling penting dalam teologi agama-agama besar di dunia. Dalam tradisi Kristen, misalnya, Yesus menyampaikan pesan perdamaian melali Perjanjian Baru, Kedamaianku, aku berikan atasmu. Di Tiongkok dan india perdamain diposisikan sebagai sifat dasar manusia. Lao-Tse, pendiri taois menyatakan bawa kekuatan kekerasan bukanlah Tao (jalan). Dalam Konfusius, manusia ditekankan untuk memelihara keharmonisan dan keseimbangan. Bhagavad Gita dalam epos Mahabarat menjerikatan wejangan Sri Kresna pada Arjuna tentang perdamaian.

Tauladan Damai dari Nabi Muhammad

Jejak rekam bina-damai oleh Rasulullah pada periode Mekah (610-622 M) yang menunjukkan kecenderungan pada sikap santun dan nir kekerasan. Kampanye anti kekerasan melalui laku yang di masa mendatang menjadi inspirasi turun ayat al-Quran dan keabadian Hadis hingga hari.

Selain itu, periode 20 tahun Nabi di Mekah berhasil menaklukan kota itu tanpa pertumpahan setetes darah. Fakta ini menjadi unik dikarenakan kekuatan militer nabi kala itu memiliki 10.000 prajurit berkekuatan dan penuh bersenjata lengkap. Andai saja Nabi memanfaatkan guna meluluhlantahkan penduduk sekitar dengan jalan perang, maka sekejap penduduk yang mencaci nabi akan tutup usia di medan peperangan. (hlm.40)

Posisi Nabi Muhammad menempatkan diri dalam perpaduan antara kaum Ansar dan Muhajirin di Madinan. Fondasi persaudaran melahirkan kedamaian di hati umat Islam yang berdampak secara sistemik pada relasi sosial antara kaum urban dan pribumi. Tak sekedar itu, Piagam Madinah pun memperkuat jaringan sosial dengan non-Muslim dalam membangun peradamam civil society.

Nabi mengatakan bahwa keluarga damai menjadi salah satu fondasi dalam membangun keluarga damai. Keluarga yang anggotanya saling memahami dan menjalankan hak dan kewajiban sesuai fungsi dan kedudukan masing masing. Antaranggota keluarga berupaya saling memberi kasih sayang dan berbagi kebahagiaan. Relasi yang terbangun kasih sayang dan berbagi kebahagiaan. Relasi yang terbangun di antara sesama anggota sangat sehat. Dari sini, keluarga dapat menjadi sumber kasih sayang untuk kesejahteraan diri, keluarga, masyarakat dan umat manusia. (hlm. 118)

Dalam buku ini Dr. Imam Taufik, menerangkan bahwasanya keluarga sebagai fondasi perdamaian. Ia menawarkan konsep hubungan suami-istri dan pembagian waris untuk melangkah menjadikan patokan perdamaian. Selain itu, keluarga dipilih sebagai fondasi sebagai komunitas sosial terkecil dimana nilai-nilai kearifan dan penawaran atas sebagian utama keharusan seorang lelaki menjadi pengayom mutualisme bagi istri, begitupun sebaliknya. Pasca hubungan itu, ikatan yang terjalin lama menghasilkan kapital yang harus dibagikan sebagai amanah atas tanggung jawab menjaga harta pun melallui nilai nilai keluargaan yang dipandu oleh al-Quran. Literatur ini menyediakan secara komperhensif secara fondasi konsep dan praksis berdasarkan tuntunan kitab suci.

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu[246]. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Bina damai dari struktur sosial yang paling kecil merupakan seruan al-Quran. Nabi Muhammad telah mengajarkan kita umat tinggal melanjutkan. Al-Quran dan Hadis adalah inspirasi untuk meningkatkan kapasitas keluarga guna meningkatkan kepekaan dalam relasi sosial. Kepekaan-kepekaan atas kondisi-kondisi intolerasi di masyarakat akan mudah di atasi apabila setiap keluarga konsisten mengajarkan kepada masyarakat.