Mempertanyakan Idealisme Mahasiswa

0
152

Judul : Orang-Orang Proyek

Penulis : Ahmad Tohari

Tahun Terbit : 2007

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 253 halaman

ISBN : 978-602-03-2059-5

Resentator : Hasan Ainul Yaqin

Sang Revolusioner ternama Tan Malaka pernah berkata bahwa idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki pemuda. Dalam konteks akademis, katagori pemuda berada pada diri mahasiswa. Bicara sejarah Indonesia tidak lepas membincangkan sejarah pemuda, maka suatu keputusan tepat ditetapkannya hari sumpah pemuda yang jatuh pada tanggal 28 oktober itu hendaknya direnungkan kembali bagi kita penyandang status mahasiswa. Sehingga posisi mahasiswa berbanding lurus sebagai penyambung lidah rakyat.

Secara geneologis, mahasiswa merupakan pelaku sejarah yang turut serta memperjuangkan Indonesia, kiprahnya dalam memperjuangkan roda kehidupan bernegara jelas terlihat dalam perjalanan dinamika bangsa ini. Satu diantara sekian contohnya yaitu, lengsernya orde baru dari tapuk kekuasaan otoriternya yang diserukan mahasiswa suatu bukti historis, bahwa mahasiswa sebagai agen perubahan sosial dengan keilmuan yang ia miliki, dan idealisme yang melekat pada dirinya

Pertarungan Idealisme dan Realita

Lantas bagaimana sikap idealisme mahasiswa ketika dihadapkan pada kenyataan rill di tengah kondisi negara yang mengalami hiruk pikuk seperti sekarang ini? Kenyataan inilah yang sesungguhnya pergulatan idealisme dipertaruhkan,. Apakah mahasiswa masih mempertahankan idealismenya yang sudah ia tanam semenjak jadi mahasiswa? Atau malah hilang tergadai demi menyenangkan kekuasaan tertentu ?

Berikut intisari dalam novel “orang-rang proyek” karya Ahmad Tohari. Ia menceritakan secara kritis tentang kehidupan mahasiswa ketika berjumpa kehidupan rill setelah menempuh bangku perkuliahan. Boleh jadi mereka sebagai mahasiswa selama menjadi aktivis di kampus, berkoar koar memperjuangkan hidup rakyat Indonesia. Suaranya lantang ia gemakan, tanganya terkepal menandakan perlawanan, urat nadinya menonjol di leher, dan badannya berdiri tegak gagah perkasa ia perlihatkan sebagai pembela rakyat dan pembela keadilan.

Tapi sayang, tidak sedikit diantara mantan aktivis mahasiswa ketika berbenturan dengan apa yang namanya kepentingan, sikap pembela rakyat sebagaimana ia perjuangkan kala menjadi mahasiswa menjadi padam dan bungkam seolah tidak mau tahu, Bahkan berbalik menindas rakyat yang dulu dibelanya.

Kita sudah tahu, mereka yang bercokol di menara gading kekuasaan banyak diantaranya mantan aktivis mahasiswa. Namun sungguh ironis, ketika melihat aktivis mahasiswa yang menduduki posisi strategis kekuasaan tertentu tertangkap tangan KPK. Ini adalah suatu tanda, bahwa idealisme mahasiswa sudah tergadaikan lenyap dari nuraninya. Akankah masih mengharap mahasiswa sebagai agen perubahan?

Ahmad Tohari seorang novelis yang dimiliki Indonesia. sesuai usianya yang lahir tiga tahun pasca kemerdekaan, tepatnya 1948. Mempengaruhi fikiranya kemudian melahirkan sebuah karya yang selalu mewarnai dinamika perjalanan politik bangsa ini baik masa orde lama terlebih semasa sang diktator orde baru. Ia mengulas dengan tajam atas kejahatan yang dilakukan negara terhadap bangsanya sendiri. seperti kisah dalam novel Berjudul “Ronggeng Dukuh Paruk”. Novel tersebut dijadikan rujukan banyak pihak melihat kejahatan negara dalam sudut pandang sastra.

Kali ini, novel “orang-orang proyek” menyuguhkan kisah yang sama seperti novel Ronggeng Dukuh Paruk. Yaitu mengulas kejahatan negara terhadap rakyatnya yang dalam penjabaranya lebih mengarah pada penyalahgunaan wewenang dan korupsi anggaran dana. Namun pelakunya dalam novel ini adalah mantan aktivis mahasiswa yang sedang duduk di kursi kekuasaan.

Mereka menyembah kekuasaan demi mempertahankan jabatannya agar tidak ditendang oleh atasannya. Karena takut dipecat, akhirnya idealisme mereka gadaikan. Sehingga yang menjadi tumbal adalah rakyat miskin itu sendiri. Dan ini suatu penghianatan mahasiswa yang dulunya berkoar koar tentang perjuangan keadilan, membela hak rakyat tapi justru berbalik menindasnya sendiri. Meminjam pendapat Abraham Lincoln, bahwa jika ingin menguji karakter seseorang beri dia kekuasaan.

Sama halnya ketika ingin melihat karakter idealisme mahasiswa sesungguhnya, maka amati saat dia menduduki kekuasaan. Wajar saja, saat ia selama mahasiswa berteriak lantang menyuarakan hak rakyat hingga urat nadinya menonjol di lehernya. Namun ketika ia sudah menduduki kekuasaan tertentu, suatu dilematis yang akan ia hadapi. Ia akan menerka-nerka, apakah masih mempertahankan idealismenya atau justru menggadaikanya? Bukan hal mudah untuk dilakukan dalam panggung kekuasaan. Rintangan dan cobaan selalu mengintai dari depan maupun belakang posisinya. Tinggal ditunggu saja pilihan mana ditempuhnya.

Novel orang – orang proyek berkisah 3 sarjana tekhnik yang merupakan jebolan mantan aktivis mahasiswa. Yaitu Ir. Kabul, Ir. Basar, dan Ir. Dalkidjo. Ketiganya adalah mantan pejuang keadilan dan demokrasi semenjak mahasiswa. Bersama kawan kawan lain ia demontransi ketia terjadi pemerintahan sewenang – wenang. Namun kesamaan sikap kritis dan daya juangnya yang dimilki ketiga mantan aktivis mahasiswa tersebut, terjadi perbedaan karakter saat ketiganya dihadapkan pada kehidupan realita sesungguhnya.

Pembangunan dan Tipu-tipu Politik

Pembangunan jembatan di atas sungai cebawor dalam novel ini bukan murni soal peningkatan infrastruktur untuk menjamin kebaikan masyarakat. Cara bekerjanya tidak mutlak demi kepentingan kemaslahatan rakyat keseluruhan agar masyarakat dapat akses menyebrangi jembatan dengan mudah. Ada tipu-tipu di balik topeng pembangunan yang diproyekkan pemerintah ini dengan cara bekerja sama dengan pihak pekerja orang–orang proyek.

Dalam mencanangkan agenda pembangunan itu. Kelicikan dan permainan dana sering kali ditumpang tindihkan oleh pejabat sendiri yang dipasrahi mengurus pembangunan jembatan. Anggaran dana yang datang dari atasan seringkali terjadi pemotongan dana saat dana itu turun ke bawah dengan nominal yang berbeda. Sehingga pembangunan jembatan tidak sesuai dengan kaidah pembangunan sebagaimana mestinya yaitu bagus, tahan lama, dan bermutu.

Sebab dana jembatan tidak seluruhnya digunakan untuk kepentingan mutu jembatan. Sebagian dipangkas masuk kantong penyelenggaranya. Keadaan semacam ini yang merisaukan nurani kepala proyek Ir Kabul dalam novel orang proyek. Sang mantan aktivis mahasiswa yang masih melekat idealismenya dalam dirinya meskipun ia harus rela dipecat dari tempat kerjanya sebagai kepala proyek.

Karena ia berfikir, jika pembangunan jembatan tidak didirikan sebagaimana mestinya sesuai kaidah pembangunan, maka nasib rakyat yang menjadi korban. Dan Kabul tidak berani melakukan hal demikian. Memperjuangkan rakyat miskin dan orang pinggiran baginya, tidak selesai semasa menjadi aktivis mahasiswa saja.

Aktivis mahasiswa harus melakukan yang terbaik buat kesejahteraan rakyat di manapun posisi yang digelutinya nanti. Seperti kepala proyek Ir Kabul yang bergelut dalam bidang pembangunan. Apabila mantan aktivis mahasiswa ketika duduk di tapuk kekuasan takut dibenci karena membela apa yang harus dibela, melakukan apa yang seharusnya dilakukan, maka negeri ini akan dipenuhi penjahat -penjahat yang merong rong menghianati rakyatnya.

Dalam memahat idealisme, orang tua memiki peran sentral dalam memupuk kejujuran pada anaknya semenjak kecil. Seperti dilakukan Biyung sebutan ibu dalam novel ini dari Kabul saat menyapa ibunya. Dalam teori pendidikan yang diajarkan Ki Hajar dewantara bahwa orang tua ataupun guru selain mendidik dhohir anaknya dengan dicerdaskan atau dipintarkan, juga memiliki tugas penting yang tidak mesti dilupakan, yakni mendidik nuraninya.

Begitulah yang membuat Kabul tidak menghilangkan kejujuranya. Ia diajarkan hidup adanya, hidup mestinya, dan hidup benarnya.(hal 239) oleh ibunya sejak kecil. Kematangan nurani itulah yang membentuk orang bukan sekedar pintar secara dhohir melainkan bagus secara batin. Sebab di negari ini meluap orang pintar, tetapi miskin orang benar. Banyaknya kasus korupsi yang melibatkan pemimpin di negari ini, suatu tanda degradasi moral dialami pemimpin kita saat ini.

Mantan Aktivis Mahasiswa Yang Berbeda

Kabul dibujuk oleh atasannya sekaligus kakak kelasnya yang juga mantan aktivis mahasiswa bernama Dalkijo. Ia dibujuk untuk segera menyesaikan dengan cepat pembangunan jembatan sungai Cibawor bagaimanapun caranya. Sebab jembatan akan diresmikan saat kampanye Golongan Lestari Menang alias orde baru tiba di tempat. Mengingat jarak sudah dekat, mau tidak mau jembatan harus selesai tanpa memandang kualitas jembatan itu sendiri.

Karena sikap idealismenya itu, Kabul menolak bujukan dari rekannya Dalkijo. Ia bersikukuh bahwa jembatan yang dikepalainya harus bermutu dan dapat dinikmati secara jangka panjang oleh masyarakat setempat. Bila Jembatan tidak bermutu, ia merasa hianat sebagai insinyur tekhnik dan menghianati masyarakat yang dibelanya semenjak menjadi aktivis mahasiswa.

Sementara Dalkijo berambisi untuk menuntaskan pembangunan jembatan tersebut. Kalau jembatan tidak selesai, nasib akan menimpa dirinya. Dalkijo bisa saja ditendang oleh kekuasaan Golongan Lestari Menang karena dianggap tidak becus mengurus pembangunan yang dipasrahkan kepadanya.

Demi kepentingan golongan, apapun Dalkijo lakukan demi menghamba pada kekuasaan. Idealisme mesti harus digadaikan oleh Dalkijo. Di pundak Dalkijo bukan lagi kepentingan rakyat seperti saat ia bela kala menjadi aktivis mahasiswa. Pundi–pundi rupiah di matanya dan kerinduan pada kekuasaan membuatnya banting setir kearah yang jelas menghinati sarjana keinsinyuranya.

Tidak heran, dalam konteks saat ini jika terjadi pembangunan apapun bentuknya. Pembangunan sekolah, pembangunan infrastruktur, jembatan, proyek bila tidak dapat dinikmati secara jangka panjang karena rusak belum masanya, maka pembangunan semacam ini perlu dipersolkan kualitasnya.

Di bagian penutup Ahmad Tohari terang-terangan menunjukkan dengan sindiran yang pas menusuk pada orang-orang yang sering mengatasnamakan proyek pada kegiatan tertentu. Kegiatan proyek seolah kegiatan resmi, tapi direkayasa agar tercipta jalan menjadi kaya. Maka semua bisa diproyekkan.

Bukan saja soal pembangunan jembatan dan pembangunan lain bisa diproyekkan. Pengadaan pemilu, pembagian sembako untuk orang miskin, pengadaan bacaan anak sekolah, program penanggulangan bencana alam, perekayasaan dana pendidikan dan kegiatan lain bisa saja mendatangkan duit dengan mudah asal dibuat proyek dengan kebohongan tersirat. (hal 252)