MEMODERNITASKAN USHUL FIQH

1
171

Oleh : Nazar Nurdin

(Justisia.com)- Sore itu (Senin, 27/12) lapangan Fakultas Syari’ah terlibat ‘perang intelektual’ yang begitu ramai. Sorak sorai, tawa serta adu argumen para wadyabala justisia begitu kentara. Meski, sang fasilitator M. Najibur Rohman hadir terlambat, namun hal itu tidak menyusutkan suasana yang hadir pada waktu itu.

Dalam pembincangan itu, Najib begitu ia disapa mencoba menghantarkan diskusi rutin justisia pada sebuah rumusan baru dalam tataran ushul fiqh. Ia lantas menyebutnya “modernitas ushul fiqh”.

Menurutnya, Fiqih adalah hukum islam yang telah terbakukan, sedangkan ushul fiqh adalah cara untuk merumuskan, menggali suatu rumusan baru itu. Dalam bahasa lain, Ushul fiqh adalah metode untuk mengurai asal-muasal dari suatu produk hukum itu. Keduanya, antara fiqh dan ushul fiqh, hakikatnya berbeda, namun tidak bisa dipisahkan. Ia mengibaratkan hal itu dengan filosofi bendera yang satu sama yang lainnya tidak bisa saling dipisahkan.

Mengapa penting memperbincangkan isu modernisasi ushul fiqh ini? Bahwa globalisasi menempatkan agama dalam ruang yang sempit. Seseorang tidak diperkenankan untuk memperkenankan agama ke ranah publik. Dalam konsep lama, ijma’ didefinisikan sebagai mengerahkan segenap upaya dengan sungguh untuk menggali suatu hukum dengan syarat dan ketentuan hukum yang berlaku. Maka, pertanyaan sederhana cukupkah konsep ushul fiqh lama menjawab tantangan baru dalam modernitas? Jawabannya, tentu sangat tidak mungkin.

Pada fase sejarah, konstruksi ushul fiqh sangat dipengaruhi oleh produk pemikiran islam pada abad pertama hingga abad ketiga hijriyah. Sikap taklidisme masihkah layak dipertahankan? Najib menggarisbawahi bahwa sikap taklidisme memiliki perkembangan yang evolutif. Taklidisme awal yang menjadikan Muhammad sebagai sentrum pemecah seluruh persoalan umat hingga terbentuknya madzhab-madzhab hukum. Di masa itu, umat islam sering mengambil utuh referensi dari nabi. Wajah taklid yang lain menempatkan sikap taklidisme bagi kelonggaran follower untuk melakukan sebuah konversi.

Taklidisme modern sebagai pemikiran dan gerakan keagamaan yang sangat ‘ekstirm’ karena hanya mengandalkan pengalaman Muhammad yang terbatas tanpa mempertimbangkan corak masalah dan dimensi waktu. Maka, ada yang bilang bahwa taklidisme itu sebagai sesuatu yang ‘konyol’. Kiranya akan sangat tidak arif kalau taklid modern yang ditawarkan dari kelompok-kelompok modernis masa kini yang diciutkan pada pendapat yang ekslusif dengan terus merujuk pengalaman nabi untuk menjawab masa kini. Menurut najib, hal itu tidak mungkin bagi kita untuk selau kembali pada takllidisme zaman nabi.

Di akhir diskusi itu, najib mencoba menegaskan begitu hebatnya otoritas teks, akal dan budaya dalam tradisi ushul fiqh. Ia berargumen bahwa agama tidak akan berkembang kalau tidak melalui kekuasaan. Terjadi perselingkuhan antara agama dan negara. Maka, reformulasi ushul fiqh di zaman modernitas dianggap penting dengan cara evolutif ataupun secara revolutif. Masih butuh kajian mendalam.